BPJT: 60 Persen Pengguna Tol Pakai e-Money Akhir Bulan Ini

Oleh: Hendra Friana - 27 September 2017
Pada sebulan sebelum pemberlakuan secara penuh e-Toll, BPJT menargetkan ada 60 persen pengguna jalan tol sudah membayar dengan e-Money.
tirto.id - Badan Pengaturan Jalan Tol (BPJT) sedang berupaya menggenjot penggunaan e-Money untuk pembayaran di gerbang tol. Karena itu, BPJT menargetkan 60 persen pengguna jalan tol telah menggunakan e-Money atau e-Toll pada akhir September 2017.

Anggota BPJT Koentjahjo Pamboedi mengatakan target itu dipatok mengingat hampir seluruh jalan tol tidak lagi melayani transaksi menggunakan uang tunai pada 31 Oktober 2017.

"Sosialisasi ini tidak mendadak, sudah dari tahun 2008. Waktu itu, BPJT pernah bekerjasama dengan bank mandiri untuk pembayaran tol non-tunai," kata dia di Gedung Ombudsman, Kuningan, Jakarta Selatan, Rabu (27/9/2017).

Menurut Koentjahjo, BPJT optimistis sistem pembayaran menggunakan uang elektronik akan mempercepat proses antrean di seluruh pintu tol di Indonesia.

Ia mencontohkan, jika menggunakan transaksi tunai, rata-rata waktu yang dibutuhkan pengemudi untuk membayar tarif tol mencapai 12 detik. Sebaliknya, dengan pembayaran memakai uang elektronik, waktu yang dibutuhkan untuk melakukan transaksi hanya mencapai kurang lebih 3 detik.

"Karena di Jabodetabek itu hampir semua kapasitas tol sudah melebihi volumenya jalan tol. Jadi itu merupakan salah satu solusi yang sejalan dengan program BI (Bank Indonesia)," ujarnya.

Saat ini, dia mengimbuhkan, sistem pembayaran sedang memasuki masa transisi dari tunai ke non-tunai. Di beberapa pintu keluar tol, sistem pembayaran sudah berubah menggunakan sistem tap-out.

"Kalau masih ada yang cash (uang tunai), nanti (pengguna tol) coba di pintu tol berikutnya," kata Koentjahjo.

Sesuai perkiraan Bank Indonesia, dibutuhkan sekitar 1,5 juta uang elektronik untuk memenuhi kebutuhan transaksi non-tunai 100 persen di seluruh gerbang tol. Untuk memenuhi itu, Jasa Marga akan menyiapkan 101 ribu uang elektronik per harinya.

Jumlah tersebut belum ditambah dengan uang elektronik produk empat bank Himpunan Bank Negara (Himbara) yang juga sudah mulai dijual saat ini.

"Kami mencoba melengkapi mesin-mesin top up-nya. Meskipun itu biaya investasi dari perbankan, kami harapkan tarifnya tetap mengikuti peraturan BI,” ujar Koentjahjo.

Baca juga artikel terkait E-MONEY atau tulisan menarik lainnya Hendra Friana
(tirto.id - Ekonomi)

Reporter: Hendra Friana
Penulis: Hendra Friana
Editor: Addi M Idhom
DarkLight