Bonucci adalah Lelucon Terburuk Bagi Perlawanan Terhadap Rasisme

Oleh: Herdanang Ahmad Fauzan - 4 April 2019
Dibaca Normal 3 menit
Sindiran terhadap Bonucci adalah hal lumrah, yang tidak wajar justru komentar "ngawur" pemain asal Italia itu atas perlakuan rasis suporter Cagliari kepada Moise Kean.
tirto.id - Hanya sepekan setelah rasisme memalukan yang dilakukan suporter Montenegro terhadap para pemain Timnas Inggris, kejadian serupa terulang. Giliran Moise Kean, bintang masa depan Timnas Italia yang jadi korban saat Juventus membungkam tuan rumah Cagliari 2-0 di Sardegna Arena, Rabu (3/4/2019) dini hari.

Dalam laga itu, Kean yang berdarah Pantai Gading mendapat perundungan rasis dari suporter tuan rumah.

Kean lantas membayar perlakuan buruk itu dengan mencetak sebuah gol dan berselebrasi di depan para pelaku. Sikap ini kurang lebih serupa dengan cara elegan yang dilakukan Raheem Sterling saat Dany Rose diteriaki "monyet" oleh suporter Montenegro.

Namun, berbeda dengan Sterling, Kean malah tak dapat dukungan penuh dari rekan-rekan setimnya. Adalah bek veteran Leonardo Bonucci yang justru memberikan komentar konyol atas kejadian itu.

Alih-alih mendukung upaya perlawanan terhadap rasisme dan membela rekan setimnya, eks penggawa AC Milan itu justru bilang perlakuan yang diterima Kean sebagai sesuatu yang “impas.”

“Kean tahu ketika mencetak gol, dia harusnya fokus merayakan bersama rekan satu tim lain, dia tahu bisa melakukan sesuatu berbeda pula. Ada ejekan rasis setelah gol, Blaise mendengarnya dan marah. Saya pikir kesalahan ini 50-50, karena Moise seharusnya tidak melakukan itu dan Curva Sud seharusnya tidak bereaksi seperti itu,” ungkapnya kepada SkySports Italia.

Komentar itu kemudian membikin telinga orang-orang geram. Bonucci dicap sebagai contoh pesepakbola yang tak menaruh perhatian atas perlawanan terhadap praktik rasisme.

Terlanjur Bikin Geram


Tak sampai 24 jam setelah komentar itu, Bonucci melontarkan permintaan maaf dan meluruskan kalau dia tak berniat menyalahkan Kean.

“Setelah 24 jam, saya ingin mengklarifikasi pernyataan saya. Kemarin saya diwawancara setelah pertandingan, dan kalimat saya disalah artikan, mungkin karena cara saya menyampaikan pendapat saya terlalu keras. Berjam-jam sampai bertahun-tahun tidak akan cukup untuk membahas topik ini. Saya dengan tegas melawan segala bentuk rasisme dan diskriminasi. Perundungan seperti itu tak dapat diterima dan segalanya tidak boleh disalah artikan,” tulis Bonucci di Instagram resminya.

Klarifikasi Bonucci itu barangkali membikin sebagian orang lebih menahan emosi. Namun, bagi mereka yang sudah kepalang kecewa, Bonucci tetaplah lelucon terburuk di tengah upaya sepak bola memerangi rasisme.

Raheem Sterling, penyerang Manchester City yang sempat jadi korban rasisme dalam jumlah tak terhitung ikut menyentil Bonucci. Lewat unggahan Snapgram, sambil menandai akun Bonucci, Sterling berkata, “kesalahannya 50-50 ya, barangkali yang Anda [Bonucci] lakukan saat ini cuma menertawakan [Kean].”


Rekan senegara Bonucci yang merupakan pesepakbola keturunan dan pernah jadi korban rasisme, Mario Balotelli bahkan melontarkan balasan tak kalah berani. Menurut Balotelli, Bonucci beruntung karena tidak satu lapangan dengannya. Soalnya, jika mendengar itu secara langsung, Balotelli yang terkenal jarang menahan diri barangkali akan melakukan reaksi yang bisa membikin Bonucci menyesal seumur hidup.

“Bravo [Kean]! Beritahu Bonucci, dia beruntung saya tidak sedang di situ. Bukannya membela, dia malah menyatakan seperti itu? Wow, saya sungguh terkejut. Saya mencintai Anda, saudaraku [Kean],” tulis Balotelli.

Paul Pogba menambah daftar protes terhadap komentar konyol Bonucci. Pemain berpaspor Perancis yang juga sempat memakai kostum Juventus itu menutup protes dengan berkata, “saya mendukung semua perlawanan terhadap rasisme. Kita semua sama.”

Jurnalis The Times, Henry Winter, menilai Bonucci layak mendapat cemoohan dari pesepakbola-pesepakbola profesional lain atas komentar ngawurnya. Itu diperlukan agar dia tidak main-main lagi dengan isu rasisme yang seharusnya tak mengotori kesetaraan dalam sepak bola.

“Komentar soal 50-50 itu akan terus menghantui Bonucci bertahun-tahun ke depan. Harusnya pemain seperti dia bisa membayangkan bagaimana perasaan Kean, seorang remaja yang sedang dalam perjalanan kariernya, tahu kalau rekan setimnya sendiri tidak membantunya [melawan rasisme]. Kean adalah pemain berbakat yang kemunculannya harusnya dirayakan,” tulis Winter.



Medsos Bisa Berkontribusi


Menurut Winter, apa yang dilakukan Moise Kean dengan berselebrasi di hadapan pelaku rasisme adalah tindakan yang hebat. Kendati demikian, dia merasa hal sehebat itu tampaknya belum akan bisa menyadarkan para pelaku atas pola pikir sesat mereka.

Perlakuan rasis suporter adalah hal yang memuakkan. Namun, saat ini dunia butuh pemain yang berani meninggalkan lapangan saat hal-hal seperti itu terjadi.

“Kean dengan hebat menunjukkan perlawanan dengan berdiri di depan mereka. Saat ini kita butuh lebih dari itu. Akan lebih baik kalau pemain berani meninggalkan lapangan untuk membuat para pelaku jera,” kata Winter.

Upaya protes pemain korban rasisme dengan meninggalkan lapangan sebenarnya bukan wacana baru. Kevin Prince Boateng pernah mengajak rekan-rekannya meninggalkan lapangan saat mendapat perlakuan rasis di AC Milan pada 2013 lalu. Kemudian eks penggawa Inter, Sulley Muntari juga pernah meninggalkan lapangan saat dirisak suporter Cagliari pada 2017.

Jika mau mundur ke belakang lagi, pada 2005, Marco Zoro berani meninggalkan lapangan saat jadi korban rasisme di laga Messina kontra Inter. Sementara empat tahun sebelumnya pemain dan manajer Treviso melakukan aksi “penghitaman” untuk mendukung rekan setim mereka yang jadi korban rasisme, Akeem Omolade.

Akan tetapi dari protes-protes tersebut ada aspek yang kurang, yakni dukungan dari pihak-pihak yang lebih kuat. Untuk itu, selain inisiatif pemain, usaha melawan rasisme akan lebih mudah dilakukan bila UEFA dan FIFA berani ikut campur tangan lebih dalam.

“Terobosan UEFA melawan rasisme dengan tiga protokol stadion sejauh ini tak berguna, terlalu berat, dan wasit pun memilih tak peduli atau pura-pura tak tahu terhadap praktik di lapangan,” lanjut Winter.

Andai pada akhirnya UEFA dan FIFA cuma bisa beretorika dalam upaya menindak perilaku rasisme di sepak bola, bagi Winter, media sosial bisa membantu kampanye yang lebih kuat. Setidaknya, serangan terhadap Bonucci dan dukungan terhadap Kean sudah membuktikan betapa para pesepakbola telah jengah dengan diskriminasi yang kerap mereka terima.

Pelatih Liverpool, Jurgen Klopp pun mengamininya. Media sosial, menurutnya bisa membantu agar orang-orang mengkampanyekan sentiment antirasisme.

Secara pribadi, Klopp sendiri menegaskan tidak akan segan melakukan ajakan terhadap orang-orang di sekitarnya.

“Jika hal seperti itu terjadi, saya akan jadi orang pertama yang berkata: hentikan, kami akan meninggalkan lapangan,” ungkapnya kepada BBC Sport.

Hal senada diungkapkan oleh juru taktik Manchester City, Pep Guardiola.

“Situasi seperti ini hanya akan berubah jika Anda mengambil sikap. Jika Anda diam, semua sama saja,” tandasnya.


Baca juga artikel terkait LIGA ITALIA atau tulisan menarik lainnya Herdanang Ahmad Fauzan
(tirto.id - Olahraga)

Penulis: Herdanang Ahmad Fauzan
Editor: Abdul Aziz
DarkLight