BMKG: Siklon Tropis Pemicu Cuaca Ekstrem Tumbuh di Selatan Jawa

Oleh: Addi M Idhom - 27 November 2017
Dibaca Normal 1 menit
BMKG mendeteksi pertumbuhan siklon tropis "Cempaka" di selatan Jawa pada Senin malam. Siklon tropis di Indonesia, yang paling dekat dengan daratan sejak 2008, itu bisa memicu cuaca ekstrem selama 3 hari ke depan.
tirto.id - Badan Metereologi, Klimatologi dan Geofisikan (BMKG) mengumumkan agar masyarakat di Pulau Jawa dan sekitarnya mewaspadai kemunculan cuaca ekstrem pada tiga hari ke depan.

Pusat Peringatan Dini Siklon Tropis BMKG (Tropical Center Warning Center/TCWC) mendeteksi siklon tropis bernama “Cempaka” telah tumbuh di perairan yang sangat dekat dengan pesisir selatan Pulau Jawa. Pertumbuhan siklon tropis pemicu cuaca ekstrem itu terdeteksi pada Pukul 19.00 WIB, Senin malam (27/11/2017), demikian siaran resmi BMKG.

Kemunculan siklon tropis di wilayah Perairan sebelah Selatan Jawa Tengah itu, menurut analisis BMKG, berpotensi besar memicu hujan lebat di Wilayah Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Yogyakarta, dan Jawa Timur.

Potensi Angin Kencang tercatat bisa mencapai hingga 30 knot di Wilayah Kepulauan Mentawai, Bengkulu, Sumatera Selatan, Bangka Belitung, Lampung, Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta.

Selain itu, angin kencang juga diprediksi oleh BMKG bisa muncul di Laut Jawa, Selat Sunda bagian Utara, Perairan Utara Jawa Timur hingga Kepulauan Kangean, Laut Sumbawa, Selat Bali hingga Selat Alas, Selat Lombok bagian Selatan dan Perairan Selatan Bali hingga Pulau Sumba.

BMKG juga memprediksi ada potensi gelombang tinggi 2.5 - 6 meter di Perairan Selatan Jawa Timur, Laut Jawa Bagian Timur, Selat Sunda bagian Selatan, Perairan Selatan Banten hingga Jawa Barat, dan Samudera Hindia Barat Bengkulu hingga Selatan Jawa Tengah.

Diperkirakan Siklon Tropis Cempaka masih akan bertahan dalam 2 hingga 3 hari ke depan. Masyarakat diimbau agar waspada dan berhati-hati terhadap dampak yang dapat ditimbulkan cuaca ekstrem dalam tiga hari ke depan. Misalnya, banjir, tanah longsor, banjir bandang, genangan, angin kencang pohon tumbang dan jalan licin.

“Terutama aktivitas penerbangan di beberapa bandara di Pulau Jawa juga berpotensi terpengaruh akibat hujan dan angin kencang,” kata Deputi Bidang Meteorologi BMKG, Mulyono Rahadi Prabowo di keterangan tertulisnya.

Sejak 2008, tercatat 4 kali siklon sropis terjadi di Indonesia, yakni siklon tropis Durga di perairan barat daya Bengkulu (22-25 April 2008), siklon tropis Anggrek di perairan barat Sumatera (30 Oktober-4 November 2010), Siklon Tropis Bakung di perairan barat daya Sumatera (11-13 Desember 2014) dan siklon tropis Cempaka pada tahun ini. Siklon tropis Cempaka berada pada posisi paling dekat dengan daratan dibanding siklon tropis lainnya di wilayah Indonesia.

Pada Minggu kemarin (26/11/2017), Kepala BMKG Prof. Dwikorita Karnawati sudah mengumumkan agar masyarakat di wilayah Indonesia bersiaga dengan kemungkinan munculnya cuaca ekstrem dalam tiga hari ke depan.

"Dalam 3 hari ke depan akan ada peningkatan intensitas hujan disertai angin kencang yang juga berdampak pada peningkatan tinggi gelombang serta dapat berpotensi menimbulkan puting beliung," kata Dwikorita seperti dilansir laman BMKG.

Pada 26 November 2017, BMKG sudah mendeteksi adanya dua bibit siklon tropis, yaitu di Samudera Hindia Selatan Jawa dan Barat Daya Bengkulu. Bibit siklon tropis itu membentuk pola belokan angin (shear) dan konvergensi di wilayah Indonesia. Hal ini akan berdampak pada peningkatan tinggi gelombang, hujan lebat, angin kencang, maupun potensi puting beliung di daerah sekitarnya.

Selain itu, terdapat aliran massa udara basah dari Barat dan Utara yang cukup luas dari Samudra Hindia yang mengakibatkan peningkatan curah hujan di sebagian besar Sumatera, Jawa, dan Kalimantan.

BMKG juga memperkirakan, dalam beberapa hari ke depan, terdapat peningkatan potensi hujan lebat disertai petir dan angin kencang di Pulau Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, Maluku dan Papua. Gelombang tinggi dan angin kencang, menurut perkiraan BMKG, juga harus diwaspadai kapal berukuran kecil dan para nelayan tradisional di Indonesia.

Baca juga artikel terkait PERKIRAAN CUACA atau tulisan menarik lainnya Addi M Idhom
(tirto.id - Sosial Budaya)

Reporter: Addi M Idhom
Penulis: Addi M Idhom
Editor: Addi M Idhom
DarkLight