Sejarah Indonesia

Biografi Bung Tomo dan Fakta Sejarah Tokoh Hari Pahlawan Nasional

Oleh: Syamsul Dwi Maarif - 10 November 2021
Dibaca Normal 3 menit
Bung Tomo membakar semangat juang rakyat lewat pidatonya dalam Pertempuran Surabaya 10 November 1945 yang menjadi tonggak peringatan Hari Pahlawan.
tirto.id - Salah satu fakta tokoh sejarah pahlawan nasional yang erat kaitannya dengan Hari Pahlawan adalah Sutomo alias Bung Tomo. Bung Tomo membakar semangat juang rakyat lewat pidatonya dalam Pertempuran Surabaya tanggal 10 November 1945 yang menjadi tonggak peringatan Hari Pahlawan.

Dikutip dari Modul Sejarah Indonesia oleh Kemendikbud (2020:11), Bung Tomo tampil sebagai orator ulung di depan radio dalam Peristiwa 10 November 1945 dan berhasil membakar semangat arek-arek Suraboyo untuk berjuang melawan bangsa asing.

Hari demi hari jelang pecahnya Pertempuran Surabaya pada 10 November 1945, Bung Tomo melantangkan orasi pembakar semangat melalui Radio Pemberontakan milik barisan Pemberontak Rakyat Indonesia (BPRI) di Surabaya.

Peran Bung Tomo dalam Perang 10 November 1945

Peristiwa heroik yang dilakukan oleh Bung Tomo dalam Pertempuran Surabaya atau Peristiwa 10 November 1945, dimulai dengan kedatangan Inggris dan Belanda pada 25 Oktober 1945. Pasukan yang tergabung dalam Rehabilitation of Allied Prisoners of War and Internees (RAPWI) merupakan bagian dari pasukan Sekutu yang memenangkan Perang Asia Timur Raya atas Jepang.

Tujuan dari RAPWI adalah melakukan bantuan rehabilitasi tawanan perang dan adanya interniran dalam melucuti senjata tentara Jepang. Pasukan Sekutu sebelumnya sudah mendarat di Jakarta pada 15 September 1945 atau kurang dari sebulan setelah Proklamasi Kemerdekaan RI dinyatakan oleh Sukarno-Hatta tanggal 17 Agustus 1945.


Kedatangan pasukan Sekutu ke Surabaya membuat suasana kota menjadi tegang. Mulai terjadi gesekan dengan kaum pemuda dan pejuang yang bertekad mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia, termasuk insiden perobekan bendera Belanda di Hotel Yamato pada 19 September 1945.

Insiden tersebut memicu polemik lanjutan. Dikutip dari Modul Sejarah Indonesia oleh Kemendikbud (2020:4), pada 27 Oktober 1945 tentara Inggris mulai menduduki gedung pemerintahan di Surabaya sehingga terjadilah rangkaian konflik selama beberapa hari.

Tanggal 29 Oktober 1945, Presiden Sukarno datang ke Surabaya untuk menghentikan pertempuran. Kehadiran Bung Karno menghasilkan kesepakatan gencatan senjata antara Sekutu dan para pejuang di Surabaya pada 30 Oktober 1945.


Merujuk dari buku Sedjarah TNI-Angkatan Darat 1945-1956 (1965), terjadi insiden pada hari yang sama dan menyebabkan komandan pasukan Sekutu di Jawa Timur, yakni Brigadir Jenderal Aubertin Mallaby, tewas.

Posisi Mallaby kemudian digantikan oleh Mayor Jenderal Robert Mansergh dari Komandan Divisi 5 Inggris. Pada 9 November 1945, Mansergh mengeluarkan ultimatum kepada rakyat Surabaya. Isi dari ultimatum tersebut adalah sebagai berikut:

  1. Seluruh pemimpin Indonesia di Surabaya harus melaporkan diri.
  2. Seluruh senjata yang dimiliki pihak Indonesia di Surabaya harus diserahkan kepada Inggris.
  3. Para pemimpin Indonesia di Surabaya harus bersedia menandatangani pernyataan menyerah tanpa syarat.
Peringatan itu tidak disambut baik oleh para pejuang, arek-arek Surabaya, dan segenap rakyat. Bahkan, tanggal 10 November 1945 pukul 06.00 pagi, tidak ada seorang pun dari pihak Indonesia yang datang untuk menyerahkan diri.


Hal tersebut tentunya menyulut amarah dari pihak Sekutu yang kemudian membombardir Kota Surabaya. Perang dahsyat tidak dapat dihindari yang dikenal dengan Pertempuran Surabaya atau Peristiwa 10 November 1945. Peristiwa inilah yang menjadi tonggal diperingatinya Hari Pahlawan setiap 10 November.

Sosok Bung Tomo memegang peran penting dalam peristiwa ini. Dikutip dari buku Pekik Takbir Bung Tomo oleh Fery Taufiq (2020:56), melalui orasi di Radio Pemberontakan yang terletak di Jalan Mawar, Surabaya, agitasi dan propaganda Bung Tomo menjadi menu setiap hari bagi para pejuang, khususnya sejak Oktober hingga November 1945.


Fakta-fakta Sejarah Bung Tomo

Sutomo adalah putra asli Surabaya, lahir tanggal 3 Oktober 1920. Ia dikenal sebagai seorang jurnalis dan pernah bekerja di berbagai surat kabar. Dikutip dari buku Horizon Ilmu Pengetahuan Sosial oleh Sudjatmoko Adisukarjo (2006:82), berikut ini fakta-fakta menarik dari sosok Bung Tomo:

  • Bung Tomo menjabat Wakil Pemimpin Redaksi Kantor Berita Domei di Surabaya pada masa pendudukan Jepang tahun 1942-1945.
  • Bung Tomo aktif bekerja di Kantor Berita Antara, yaitu kantor berita milik pemerintah Indonesia pada 1945.
  • Bung Tomo menjabat sebagai Ketua Umum barisan Pemberontakan Rakyat Indonesia (BPRI). Melalui BPRI, Bung Tomo selalu mengobarkan semangat juang rakyat Indonesia.
  • Bung Tomo pernah diangkat oleh Presiden Sukarno menjadi salah seorang pemimpin di TNI yang bertugas mengoordinasikan Angkatan Darat (AD), Angkatan Laut (AL), dan Angkatan Udara (AU) di bidang informasi dan perlengkapan perang.

  • Pada Peristiwa 10 November 1945 di Surabaya, Bung Tomo mendapatkan berita bahwa Sekutu mulai menembak dan bergerak di luar daerah pelabuhan. Bung Tomo pun menyerukan perang terhadap Sekutu.
  • Dalam pemerintahan Presiden Sukarno, Bung Tomo menjabat sebagai Menteri Negara Urusan Bekas Pejuang Indonesia pada 12 Agustus 1955-24 Maret 1956.
  • Bung Tomo juga dipercaya duduk sebagai Menteri Sosial pada 18 Januari 1956-24 Maret 1956.
  • Bung Tomo wafat tanggal 7 Oktober 1981. Tahun 2008, pemerintah RI menetapkan Bung Tomo sebagai pahlawan nasional melalui Surat Keputusan bernomor 041/TK/Tahun 2008.


Baca juga artikel terkait HARI PAHLAWAN atau tulisan menarik lainnya Syamsul Dwi Maarif
(tirto.id - Sosial Budaya)

Kontributor: Syamsul Dwi Maarif
Penulis: Syamsul Dwi Maarif
Editor: Iswara N Raditya
DarkLight