Menuju konten utama

Benarkah Diet Detoks Menghilangkan Racun di Tubuh? Ini Faktanya

Apa benar diet detoks bisa menghilangkan racun di tubuh? Simak fakta ilmiahnya di sini, mulai dari definisi, efektivitasnya, hingga cara detoks yang benar.

Benarkah Diet Detoks Menghilangkan Racun di Tubuh? Ini Faktanya
Ilustrasi diet detoks. FOTO/iStockphoto
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Pernah dengar diet detoks? Diet selalu identik dengan upaya menurunkan berat badan, tapi diet detoks adalah salah satu pola makan yang diyakini dapat menghilangkan racun di tubuh. Namun, apa benar diet detoks bisa membersihkan tubuh dari racun yang merugikan kesehatan?

Diet sudah bukan hal asing bagi masyarakat, terutama bagi mereka yang memang mementingkan kesehatan atau sedang berusaha mengontrol berat badan. Selama bertahun-tahun, kita pun sering mendengar tentang jenis-jenis diet yang populer dilakukan.

Sebut saja diet mediterania, intermittent fasting, diet keto, diet paleo, dan masih banyak lagi. Setiap program diet memiliki cara atau pola makan yang berbeda, tapi umumnya memiliki tujuan yang serupa, yaitu meningkatkan kesehatan tubuh secara keseluruhan.

Di antara sekina banyak jenis diet yang muncul, ada pula diet detoks yang menarik perhatian banyak orang. Pasalnya, diet ini diklaim bisa menghilangkan racun di tubuh dan membuat badan jadi lebih sehat. Lantas, bagaimana fakta ilmiah?

Apa Itu Diet Detoks?

Ilustrasi diet herbal

Ilustrasi diet detoks. FOTO/iStockphoto

Istilah detoks berasal dari kata detox atau detoxification. Menurut Cambridge Dictionary, detox merujuk pada periode ketika seseorang menghindari makanan, minuman, atau obat yang dianggap berbahaya maupun tidak sehat dalam waktu tertentu dengan tujuan meningkatkan kondisi kesehatan.

Dilansir dari WebMD, diet detoks adalah pola makan jangka pendek yang diklaim dapat membantu menghilangkan racun dari dalam tubuh, menurunkan berat badan, dan meningkatkan kesehatan.

Diet ini muncul karena tubuh dianggap dapat terpapar berbagai racun dari udara, air, dan makanan, seperti polutan, logam berat, hingga bahan kimia berbahaya.

Program diet detoks pun ditujukan untuk mengeluarkan zat-zat tersebut dari tubuh sekaligus memberikan waktu bagi sistem pencernaan untuk “beristirahat” agar dapat bekerja lebih baik.

Bentuk Diet Detoks Bisa Beragam

Perlu dipahami bahwa diet detoks tidak seperti program diet tertentu yang punya aturan khusus terkait pola makan. Dengan kata lain, istilah diet detoks digunakan secara luas untuk berbagai pola makan yang bertujuan menghilangkan racun di tubuh.

Jenis diet detoks bisa berupa puasa, membatasi kelompok makanan tertentu, juice cleanse yang hanya mengonsumsi jus buah dan sayuran selama beberapa hari, hingga liquid cleanse yang mengganti makanan dengan minuman seperti kaldu, smoothie, atau sup.

Ada pula diet makanan mentah serta program yang melibatkan suplemen dan herbal. Jadi, jenis makanan yang boleh dikonsumsi maupun yang harus dihindari dapat berbeda-beda, tergantung program detoks yang dijalankan.

Meski demikian, makanan yang umumnya diperbolehkan dalam diet detoks adalah sayuran, buah-buahan, teh herbal, atau jus segar. Sebaliknya, beberapa program diet detoks membatasi atau menghindari makanan seperti gula rafinasi, pemanis buatan, minuman berkafein, alkohol, hingga gluten.

Apa Benar Diet Detoks Menghilangkan Racun di Tubuh?

Ilustrasi Minum Jus

Ilustrasi Minum Jus. foto/istockphoto

Meski diet detoks sering digaungkan sebagai cara sehat untuk menghilangkan racun di tubuh, sayangnya diet ini tidak menjelaskan secara spesifik jenis racun apa yang sebenarnya ingin dikeluarkan dan bagaimana mekanisme kerjanya.

Meski demikian, diet detoks tetap populer karena banyak testimoni atau orang yang sudah merasakan manfaatnya. Diet detoks mungkin memang bisa membuat seseorang merasa tubuhnya lebih ringan atau mengalami penurunan berat badan dalam waktu singkat.

Hal ini dapat terjadi karena beberapa program detoks membatasi asupan kalori, makanan tertentu, atau mendorong konsumsi lebih banyak buah dan sayuran. Pola tersebut akhirnya membuat seseorang untuk mengurangi atau bahkan menghindari makanan tinggi gula, garam, dan lemak.

Efeknya, seseorang akan merasakan penurunan berat badan atau perasaan tubuh yang lebih baik dan sehat. Namun, hal ini tidak serta-merta menunjukkan bahwa tubuh sudah berhasil mengeluarkan racun.

Menurut situs National Center for Complementary and Integrative Health (NCCIH), penelitian pada manusia mengenai program detoks masih terbatas dan belum memberikan bukti yang kuat bahwa diet detoks mampu menghilangkan racun dari tubuh.

Hal serupa juga diungkap oleh laman British Dietetic Association (BDA) yang menjelaskan bahwa tubuh pada dasarnya sudah memiliki sistem yang canggih untuk memproses dan membuang racun melalui organ seperti hati, ginjal, saluran pencernaan, dan kulit.

Oleh karena itu, tidak ada bukti kuat bahwa minuman atau produk detoks tertentu dapat menghilangkan racun di tubuh dengan lebih baik.

Jadi, meskipun seseorang mungkin merasakan manfaat tertentu selama menjalani diet detoks, hal tersebut belum dapat dijadikan bukti bahwa racun telah “dibersihkan” dari tubuh.

Apa Kata Studi tentang Diet Detoks?

Ilustrasi jus buah dan sayuran

Ilustrasi jus buah dan sayuran. (FOTO/iStockphoto)

Penelitian terkait diet detoks memang sudah banyak dilakukan, tapi sampai saat ini belum ada bukti ilmiah kuat yang benar-benar membuktikan bahwa diet ini memang efektif untuk menghilangkan racun dari dalam tubuh.

Sebagian besar studi tentang diet detoks lebih menyoroti manfaat lain seperti penurunan berat badan. Salah satu contohnya adalah jurnal bertajuk Role of Detox Diet for Toxin Elimination and Weight Management in Saudi Arabia.

Penelitian tersebut melibatkan 100 peserta yang menjalani program diet detoks dengan beberapa bentuk asupan, seperti jus dan air, salad sayuran hijau, sup, serta kefir yang mengandung probiotik.

Hasilnya menunjukkan bahwa 52% peserta mengalami penurunan berat badan dengan kisaran 1–13 kg, sementara 20% peserta mengalami kenaikan berat badan dan 28% lainnya tidak mengalami perubahan.

Namun, studi ini belum membuktikan bahwa diet detoks mampu mengeluarkan racun dari tubuh. Studi ini tidak mengukur biomarker atau kadar toksin tertentu sebelum dan sesudah program diet sehingga penurunan berat badan tidak dapat dianggap sebagai bukti terjadinya proses detoksifikasi.

Peneliti juga mengakui adanya keterbatasan dalam penelitian dan perlunya penelitian klinis yang lebih ketat untuk mengetahui efektivitas diet detoks terhadap eliminasi toksin dan pengelolaan berat badan.

Hal serupa juga ditunjukkan oleh jurnal Diet Detox, Apakah Sudah Terbukti secara Klinis? yang diterbitkan pada 2019. Studi ini membahas diet detoks dalam bentuk pembatasan kalori, puasa intermiten, dan konsumsi jus sebagai asupan harian.

Meski diet detoks berkaitan dengan penurunan berat badan, peneliti menyimpulkan bahwa dibutuhkan penelitian lebih lanjut untuk membuktikan manfaat diet detoks sekaligus mekanisme detoksifikasi yang diklaim dari program diet tersebut.

Bagaimana Cara Detoks Tubuh yang Benar?

Ilustrasi diet volumetrics

Ilustrasi diet. FOTO/iStockphoto

Jika tujuan utama diet detoks adalah untuk membuang racun dari tubuh, sebenarnya tidak ada metode diet detoks khusus yang terbukti secara klinis perlu dilakukan oleh seseorang yang sehat.

Kenapa? Karena tubuh manusia sebenarnya sudah memiliki sistem alami untuk membuang berbagai racun dari tubuh melalui organ hati, feses, urine, hingga keringat.

Kecuali jika memiliki kondisi medis tertentu, misalnya kecanduan alkohol, konsumsi obat terlarang, atau terkena paparan zat kimia berbahaya. Detoks yang dilakukan pun tidak bisa sembarangan dan harus berada dalam pengawasan dokter atau ahlinya.

Sementara bagi orang sehat, tubuh sudah dilengkapi dengan sistem pembuangan racun yang sangat efisien. Jadi, jika tujuan utamanya adalah mendukung fungsi tubuh agar tetap sehat, pendekatan yang lebih tepat adalah menerapkan gaya hidup dan pola makan yang sehat.

Healthline juga menegaskan bahwa cara terbaik untuk mendetoksifikasi tubuh adalah dengan membiarkan mekanisme alami bekerja secara mandiri.

Dibandingkan melakukan metode diet ekstrem, cara terbaik untuk mendukung kerja organ tubuh ini adalah dengan cara berikut:

  • Makan makanan bergizi dan beragam, mulai dari sayur, buah, sumber protein, hingga biji-bijian.
  • Rutin berolahraga
  • Minum cukup untuk menjaga hidrasi tubuh
  • Tidur dan istirahat yang cukup
  • Membatasi konsumsi makanan olahan
  • Menghindari alkohol dan rokok
Namun, jika masih tertarik untuk melakukan diet detoks dengan metode khusus, NCCIH menyebutkan bahwa diet detoks biasanya melibatkan minimal 1 metode berikut:

  • Puasa
  • Hanya minum jus
  • Hanya makan makanan tertentu
  • Menggunakan suplemen makanan atau produk komersial lainnya
  • Menggunakan herbal tertentu
  • Membersihkan usus besar dengan enema, pencahar, atau hidroterapi usus besar
  • Mengurangi paparan lingkungan yang berbahaya
  • Menggunakan sauna
Akan tetapi, perlu diingat bahwa aturan diet detoks, mulai dari jenis makanan/minuman, durasi puasa, hingga suplemen yang dikonsumsi, semuanya wajib dikonsultasikan dengan dokter, ahli gizi, atau dietisien agar bisa disesuaikan dengan kondisi tubuh masing-masing.

Tertarik dengan info menarik lain seputar dunia kesehatan? Temukan berbagai tips, rekomendasi produk pilihan, hingga berita terkini melalui kumpulan artikel Tirto di tautan ini:

Kumpulan Artikel Kesehatan

Baca juga artikel terkait DIET atau tulisan lainnya dari Erika Erilia

tirto.id - Kesehatan
Kontributor: Erika Erilia
Penulis: Erika Erilia
Editor: Erika Erilia & Yulaika Ramadhani