Menuju konten utama

Banjir di Kulon Progo DIY Akibatkan Seribu Orang Masih Mengungsi

Warga asih bertahan di lokasi pengungsian karena rumah mereka tergenang banjir, tertimpa material longsor dan berada di wilayah potensi longsor.

Banjir di Kulon Progo DIY Akibatkan Seribu Orang Masih Mengungsi
Ilustrasi. Petugas Kepolisian mengevakuasi korban banjir di Pacarejo, Semanu, Gunungkidul, DI Yogyakarta, Rabu (29/11/2017). ANTARA FOTO/Andreas Fitri Atmoko

tirto.id - Sejumlah kecamatan di Kabupaten Kulon Progo masih tergenang banjir pada Kamis (29/11/2017). Kondisi ini menyebabkan warga di empat kecamatan, yaitu Kecamatan Panjatan, Galur, Girimulyo, dan Kalibawang masih mengungsi. Kasi Kedaruratan dan Logistik BPBD Kulon Progo Suhardiyana mengatakan jumlah pengungsi yang masih bertahan di posko pengungsian sebanyak 1.201 orang.

"Data pengungsi terbaru dari Rabu [29/11/2017] sampai siang ini sebanyak 1.201 orang. Mereka masih bertahan di lokasi pengungsian karena rumah mereka tergenang banjir, tertimpa material longsor dan berada di wilayah potensi longsor," kata Suhardiyana, Kamis (30/11/2017).

Sampai siang ini, jumlah posko yang didirikan Dinas Sosial dan BPBD sebanyak 13 titik lokasi pengungsian. Di Kecamatan Galur ada tiga titik pengungsian, Panjatan ada empat titik lokasi pengungsian, Girimulyo ada dua titik pengungsian dan sisanya di Kalibawang.

"Kami masih melakukan pemantauan di lapangan. Saat ini, kondisi air di wilayah banjir belum surut. Kemudian, material longsor belum dapat dikondisikan dan ancaman longsor mengancam puluhan warga di Kecamatan Kalibawang karena ada retakan tanah bergerak di perbatasan Kalibawang-Purwosari," katanya, seperti dikutip Antara.

Koordinator Taruna Siaga Bencana (Tagana) dari staf Bidang Sosial Dinsos Kabupaten Kulon Progo Caraka mengatakan terdapat 363 pengungsi yang terbagi di tiga titik pengungsian. Pendopo Kecamatan Panjatan 118 pengungsi, gedung UPTD PAUD 33 pengungsi, dan sisanya 212 pengungsi bertahan di Balai Desa Panjatan.

Apabila kondisi masih belum surut, kata dia, ada kemungkinan jumlah pengungsi bertambah, apalagi banjir masih setinggi perut orang dewasa.

Ratusan pengungsi tersebut berasal dari Desa Krembangan 2 pedukuhan, yakni Pedukuhan I dan II. Kemudian Desa Cerme 2 pedukuhan, yakni Pedukuhan IX dan X serta Desa Panjatan 2 pedukuhan, yakni Pedukuhan I dan II. Dengan pengungsi laki-laki berjumlah 107 orang dan pengungsi perempuan berjumlah 177 orang serta untuk lansia berjumlah 49 orang dan balita berjumlah 30 anak.

"Itu data terakhir di kita pada hari ini, dan terus kita perbarui. Untuk sekarang ini kita sedang fokus pada kebutuhan dasar dari para pengungsi, baik untuk logistik maupun pakaian. Semoga rendaman air bisa segera surut sehingga aktivitas keseharian warga normal kembali," katanya.

Cuaca buruk berupa hujan deras dan angin kencang melanda Daerah Istimewa Yogyakarta beberapa hari terakhir. Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mendeteksi cuaca buruk ini merupakan dampak dari Badai Cempaka yang lahir pada Senin (27/11/2017) pukul 19.00 WIB. Namun pada Rabu (29/11/2017) Badai Cempaka terdeteksi sudah menjauhi Yogyakarta.

Baca juga artikel terkait BADAI CEMPAKA atau tulisan lainnya dari Dipna Videlia Putsanra

tirto.id - Sosial budaya
Reporter: Dipna Videlia Putsanra
Penulis: Dipna Videlia Putsanra
Editor: Dipna Videlia Putsanra