Bahaya di Balik Keindahan Henna

Oleh: Aditya Widya Putri - 11 Maret 2017
Dibaca Normal 4 menit
Tidak semua henna berbahaya. Namun, sudah ada temuan kasus alergi pada henna hitam. Alergi kemungkinan terjadi karena adanya tambahan zat yang bisa membuat henna cepat kering dan berwarna hitam.
tirto.id - Senyum Jillian mengembang melihat ukiran henna di kepalanya. Ia mematut dirinya di depan cermin. Sudah lama ia harus menutup bagian atas kepala dengan topi atau wig, sejak satu per satu helai rambutnya rontok. Kemoterapi membuat ia kebilangan mahkota. Ukiran henna mengembangkan lagi senyumannya.

Sarah Walters adalah perempuan yang sudah mengembalikan senyum Jillian. Ia membuat ukiran lotus dan tanaman merambat di kepala Jillian dengan henna. Jillian, merupakan salah satu pasien kanker yang baru saja menjalankan mastektomi ganda untuk perawatan sakitnya.

Di akun Instagramnya @Sarahennaseattle, ia memajang hasil karya pada anggota tubuh yang sudah lumrah, seperti tangan, perut, dan kaki. Sarah juga mengunggah beberapa video ukiran hennanya pada kepala-kepala para penderita kanker, beberapa, juga berbentuk gambar tampak atas.

Sejak tahun 2008, Sarah mulai mengukir senyum di wajah-wajah para pederita kanker dengan membuatkan tato henna secara cuma-cuma. Bagi Sarah, cara yang dilakukannya selama ini selain aman digunakan karena bahannya berasal daru tumbuh-tumbuhan juga dapat mengurangi tinggat stres dan memberikan pengaruh psikis positif bagi pasien.

"Ia menyukai hasil yang kubuat, dan tak ada yang lebih membuatku bahagia setelah menghabiskan waktu untuk membuat itu (tato henna)," tulis Sarah di salah satu caption fotonya.

Budaya Berhias

Tato henna kini sedang menjadi tren. Ia menjadi alternatif bagi orang-orang yang menginginkan seni rajah tubuh, tetapi tidak mau yang permanen. Di Indonesia, seni tato henna banyak bertebaran di mal-mal ataupun tempat wisata. Di Kota Tua, Jakarta misalnya, kita bisa mendapatkan tato henna dengan harga mulai Rp50 ribu hingga Rp150 ribu, tergantung dari tingkat kerumitannya.

Para pengantin di Indonesia kini juga sering menggunakan tato henna di hari bahagianya. Khusus untuk tato henna pengantin, harganya bisa lebih mahal, berkisar Rp300 ribu hingga 500 ribu. Tato henna ala Arab menurut tradisi, lumrah digunakan para mempelai wanita baik sekadar hiasan di hari pernikahan, maupun sebagai bagian dari budaya.

Arabiaweddings.com menuliskan, pemakaian henna pada pengantin perempuan sehari sebelum hari pernikahan adalah tradisi yang sangat populer di Arab dan banyak negara di dunia. Misalnya, di Palestina sebagian besar pengantin akan memilih motif bunga dan pohon palem dengan bentuk daun-daunnya yang cocok dengan gaun pernikahan mereka.

Sementara di Turki, keluarga dan para teman akan menari di sekitar pengantin wanita dan menyanyikan lagu-lagu sedih sampai si pengantin mulai menangis (sebagai pertanda baik). Mereka kemudian akan menghiasi tangan pengantin wanita dengan henna. Di Arab Saudi, tradisi pengukiran henna salah satunya dilakukan oleh satu saudara perempuan dari pengantin perempuan.

Di negeri Bollywood, India, orang-orang meyakini, lamanya lama henna di tangan menjadi pertanda lamanya mertua memperlakukan pengantin perempuan dengan baik. Berbeda dengan budaya di Sudan, setelah menikah para istri diharapkan selalu memakai henna di tangan. Jika tidak, maka hal tersebut dapat dianggap sebagai bentuk ketidakpedulian kepada suami.

Tunisia, memiliki tradisi perayaan henna hingga tujuh hari, bagi pengantin perempuan, henna akan dipakaikan pada hari ketiga di kaki dan tangan, lengkap dengan pakaian nikah tradisional. Sementara pengantin laki-laki, harus rela memakai henna pada hari ke enam. Selanjutnya, di Algeria, ibu dari pengantin wanita wajib memberi perhiasan dan henna di tangan anak perempuannya.

Infografik Alergi Tato Henna

Menimbulkan Alergi

Henna sebagai seni rajah tubuh memang semakin populer. Namun, penggunaannya yang meluas memunculkan “kreativitas” yang justru membahayakan penggunanya. Ini dikarenakan adanya tambahan bahan-bahan berbahaya yang bisa membuat penggunanya alergi.

Salah satu kasus dialami seorang anak laki-laki berusia 10 tahun yang mendapat reaksi alergi sesaat setelah memakai henna hitam. Kasus ini dilaporkan dalam sebuah jurnal BMJ Case Report. Dokter melaporkan bocah tersebut memakai henna saat melakukan perjalanan menuju Spanyol. Reaksi yang ditimbulkan berupa rasa nyeri dan ruam di sepanjang garis tato.

Untuk mengurangi reaksi alerginya, anak tersebut diberikan antibiotik intravena serta perawatan berupa krim. Setelah dua hari, alerginya mereda, pembengkakan, dan peradangan yang dialami juga berangsur membaik.

Reaksi yang ditimbulkan akibat henna hitam pada anak tersebut disebabkan oleh pewarna yang dinamakan paraphenylenediamine (PPD). Zat inilah yang ditambahkan untuk membuat tato henna lebih gelap dan cepat untuk kering. Beberapa henna hitam memiliki konsentrasi PPD hingga 30%.

Dr. Chris Flower, Director-General of CTPA and a Chartered Biologist & Toxicologist dalam artikel di News Medical menuliskan, Henna yang asli berwarna orange cenderung merah. Namun, henna-henna yang dijual di pinggir jalan banyak yang berwarna hitam. Ia sering diiklankan dengan nama “black henna' temporary tattoos” (BHTT).

Reaksi alergi, biasanya didapatkan antara tiga sampai sepuluh hari setelah pemakaian henna. Terkadang, bekas reaksinya dapat membuat jaringan parut di kulit. Sebelumnya, di tahun 2013 Food and Drugs Administration (FDA) sudah memperingatkan kandungan yang terdapat dalam henna hitam.

Nukilan dari health.clevelandclinic.org menyatakan beberapa ciri-ciri alergi yang ditimbulkan henna hitam adalah kemerahan pada kulit, lecet, ruam, pigmentasi yang hilang, meningkatnya sensitivitas kulit pada matahari, dan meninggalkan bekas jaringan parut permanen. Seorang dermatolog, Jennifer Lucas, MD, mengatakan bahwa pada dasarnya tato henna yang terbuat dari tumbuh-tumbuhan tak bermasalah digunakan.

“Hanya (bermasalah) saat mereka menambahkan komponen lain untuk membuatnya lebih gelap atau membuat tatonya timbul dengan cepat. Sebab PPD dapat menyebabkan reaksi kulit berbahaya pada beberapa orang,” jelas laporan BMJ Case Report.

PPD digunakan secara aman dan legal sebagai pewarna rambut sudah diatur di tingkat Eropa dengan Cosmetic Product Regulation (EC) No 1223/2009. Di bawah peraturan ini, PPD hanya dapat digunakan dalam pewarna rambut sampai konsentrasi maksimum 2% untuk diterapkan pada rambut. Produk juga harus menyertakan label petunjuk dan peringatan. PPD tidak diperbolehkan untuk penggunaan lainnya dalam kosmetik.

Penggunaan tato temporer dengan cat warna yang diaplikasikan ke kulit diklasifikasikan sebagai produk kosmetik di Eropa. Penggunaan PPD dalam jenis produk tato temporari ini juga ilegal di wilayah ini. PPD, ketika diterapkan pada kulit dalam bentuk BHTT pada konsentrasi tinggi, dapat menyebabkan kemerahan, bengkak, melepuh dan bahkan luka bakar kimia. Beberapa reaksi baru berangsur pulih dalam hitungan bulan, bahkan ada yang meninggalkan bekas luka dalam bentuk tato yang tidak pernah benar-benar memudar.

Dalam pewarnaan rambut, PPD yang digunakan dalam BHTT kemungkinan juga menimbulkan reaksi alergi pada beberapa orang. Itulah mengapa para produsen pewarna rambut menyarankan melakukan tes peringatan alergi 48 jam sebelum rambut diwarnai.

Publikasi survei dermatologi The British Skin Foundation (BSF) tahun 2015 dari British Association of Dermatologists Annual Meeting memastikan adanya peningkatan reaksi terhadap BHTT di klinik mereka. Hasil ini menyebabkan BSF mengeluarkan Siaran Pers pada bulan Agustus 2016 guna memperingatkan masyarakat dari bahaya BHTT. Peringatan ini didukung oleh The Cosmetic, Toiletry, Perfumery Association (CTPA), sebuah badan perdagangan Inggris yang mewakili industri kosmetik.

BSF menggarisbawahi beberapa poin, 4 dari 10 dermatologis menanyakan reaksi kulit terhadap BHTT. Satu dari 20 dermatologis menyatakan, reaksi tersebut 80% muncul pada anak di bawah 16 tahun.

Para dermatologis ini mengonfirmasi setengah dari pasien mendapatkan BHTT di luar wilayah Uni Eropa, di mana status hukum PPD belumlah jelas. Sementara setengahnya lagi mendapatkan BHTT di bagian Uni Eropa, dengan 27% dari Inggris.

Sekitar dua pertiga dari dermatologis melihat adanya peningkatan reaksi pewarna rambut pada pasien. Penelitian sebelumnya oleh YouGov for the CTPA pada tahun 2012 mengungkapkan satu dari sepuluh orang Inggris memiliki potensi reaksi berbahaya dari BHTT.

Dr Anjali Mahto, Konsultan dermatolog & Juru Bicara British Skin Foundation, memberikan saran pemakaian henna yang baik. Ia mengatakan, henna hitam dikenal menyebabkan reaksi kulit sehingga harus diperlakukan dengan hati-hati, terutama pada anak-anak.

Seseorang yang memiliki sejarah alergi pewarna rambut harus lebih waspada tentang reaksi penggunaan henna hitam. Dalam kebanyakan kasus, pasien dengan reaksi PPD mendapatkan ruam dan reaksi lag di beberapa bagian kulit yang pernah terpapar alergi di masa lalu.

Dalam kasus ini, foto-foto alergi kulit pada pasien bisa sangat membantu untuk melihat perubahan kulit. Termasuk kemerahan, gatal, sensitif terhadap matahari, dan pembengkakan. “Jangka panjangnya, mungkin ada perubahan sisa pigmentasi dalam kulit di lokasi aplikasi PPD," ujarnya.

Baca juga artikel terkait HENNA atau tulisan menarik lainnya Aditya Widya Putri
(tirto.id - Kesehatan)

Reporter: Aditya Widya Putri
Penulis: Aditya Widya Putri
Editor: Nurul Qomariyah Pramisti
DarkLight