tirto.id - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menyatakan bahwa aset Iran yang dibekukan tidak akan dicairkan sebelum perjanjian gencatan senjata untuk mengakhiri perang tercapai. Pencairan aset senilai miliaran dolar AS sebelumnya disebut sebagai salah satu tuntutan Teheran untuk menghentikan perang.
Seturut Al Jazeera, Trump menyebutkan hal tersebut dalam wawancara yang dirilis pada Minggu (7/6/2026) waktu setempat. Ia menyatakan bahwa pencairan baru akan “terjadi setelah” kesepakatan tercapai.
“Jika mereka berperilaku baik, jika mereka melakukan pekerjaan dengan baik, kami akan mulai berbicara,” kata Trump dalam wawancaranya di “NBC News Meet the Press”.
Iran diyakini memiliki lebih dari USD100 miliar yang dibekukan. Aset ini tersebar di berbagai rekening bank di seluruh dunia dan dibekukan akibat sanksi AS dan negara-negara lain.
Media milik pemerintah Iran menyebut Teheran kini mengincar dana beku senilai USD12 miliar hingga USD24 miliar sebagai bagian dari kesepakatan gencatan senjata. Iran ingin agar setengah dari dana ini dicairkan setelah perjanjian dan setengah lain dalam tahap selanjutnya.
Sebelumnya, Iran dan AS telah menyepakati perjanjian berisi klausul bahwa Teheran dapat memiliki akses terhadap aset tersebut sebagai ganti bagi Teheran untuk membatasi program nuklirnya. Perjanjian ini disepakati pada 2015 ketika AS dipimpin Barack Obama. Namun, pada 2018, Trump naik kepresidenan AS dan mencabut perjanjian secara sepihak.
Sejak perjanjian itu dicabut Trump, permusuhan antara AS dan Iran terus meningkat. Puncaknya, AS dan Israel menyerang Iran secara luas pada 28 Februari lalu hingga membunuh Pemimpin Tertinggi Iran kala itu, Ayatollah Ali Khamenei.
Perang kemudian berlangsung hingga lebih dari tiga bulan. Selat Hormuz ditutup Iran, menyebabkan kenaikan harga energi dan petrokimia secara global.
Kesepakatan untuk menghentikan perang kini sedang ditempuh. Namun, proses negosiasi tak kunjung menunjukkan sinyal positif.
Soal Pencairan Aset Pemicu Kebutuan Negosiasi
Pada Sabtu (6/6), penasihat Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Mojtaba Khamenei, Mohsen Rezaee, menyebut bahwa negosiasi Teheran dengan Washington “menemui jalan buntu”. Dalam wawancaranya untuk CNN, Rezaee menyebut bahwa pencairan aset sebagai salah satu kebuntuan tersebut.
Rezaee menuturkan, Teheran melihat pencairan USD24 miliar aset beku sebagai “ujian kepercayaan”. Oleh karenanya, Rezaee meminta Trump untuk “memecahkan kebuntuan ini” sehingga proses negosiasi dapat berlanjut dengan lancar.
“Jika dia [Trump] ingin mencapai kesepakatan dengan Iran, USD24 miliar ini adalah ujian kepercayaan yang ingin Iran miliki dengan Trump–ini adalah ujian yang harus dilewati Amerika dan jalan akan terbuka,” kata Rezaee.
Sebelum ini, kebuntuan pada negosiasi perdamaian antara Iran dan AS dilaporkan terjadi di beberapa isu spesifik. Selain aset yang dibekukan, kebuntuan juga sebelumnya terjadi pada negosiasi tentang persediaan uranium Iran yang sudah diperkaya hingga keinginan Iran agar Israel menghentikan serangan ke Lebanon.
Penulis: Rizal Amril Yahya
Editor: Ilham Choirul Anwar
Masuk tirto.id


































