Arab Saudi Masih Tunggu Iran, Harga Minyak Kembali Jatuh

Reporter: Ign. L. Adhi Bhaskara, tirto.id - 5 Apr 2016 12:38 WIB
Dibaca Normal 1 menit
Meningkatnya keraguan pasar terhadap kesepakatan produsen-produsen minyak utama di dunia untuk membatasi produksi mereka, yang dipicu oleh pernyataan Arab Saudi bahwa mereka akan menunggu reaksi Iran dalam pembatasan produksi, membuat harga minyak dunia kembali turun Selasa pagi, (5/2/2016).
tirto.id - Meningkatnya keraguan pasar terhadap kesepakatan produsen-produsen minyak utama di dunia untuk membatasi produksi mereka, yang dipicu oleh pernyataan Arab Saudi bahwa mereka akan menunggu reaksi Iran dalam pembatasan produksi, membuat harga minyak dunia kembali turun Selasa pagi, (5/2/2016).

Minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) yang jadi patokan Amerika Serikat, untuk pengiriman Mei, turun USD 1,09 menjadi berakhir di USD 35,70 per barel di New York Mercantile Exchange.

Sementar itu, minyak mentah Brent North Sea, patokan global, untuk pengiriman Juni, turun 98 sen menjadi USD 37,69 per barel di perdagangan London.

Harapan pasar yang tinggi akan pertemuan para produsen minyak utama pada 17 April di Doha, Qatar, guna menyepakati pembatasan produksi pada tingkat Januari 2016, telah membantu harga minyak terangkat kembali di atas USD 40 per barel pada awal Maret.

Namun demikian, pernyataan Wakil Putra Mahkota Arab Saudi, Mohammad bin Salman kepada Bloomberg, seperti dikutip dari kantor berita Antara, yang mengatakan bahwa Arab Saudi hanya akan membatasi produksi jika langkah itu diikuti Iran dan produsen utama lainnya menyebabkan kepercayaan terhadap kesepakatan tersebut telah berkurang dan memukul harga minyak lagi pada Jumat lalu.

Mohammad bin Salman mengisyaratkan keengganan untuk membekukan produksinya kecuali negara-negara lain melakukan hal yang sama. Dia mengatakan bahwa jika semua negara setuju untuk membekukan produksi, maka "kami siap."

Pernyataan tersebut memperkecil peluang Arab Saudi untuk ikut membekukan produksinya, mengingat para pejabat Iran dengan jelas telah mengatakan bahwa negara mereka tidak akan berpartisipasi dalam pembekuan produksi sampai produksinya mencapai tingkat sebelum sanksi-sanksi internasional diterapkan.

Menteri Perminyakan Iran Bijan Zanganeh mengatakan pada Minggu bahwa ekspor minyak Iran telah melampaui dua juta barel per hari menyusul pencabutan sanksi internasional.

Rusia juga telah memproduksi minyak secara agresif, mencapai 10,91 juta barel per hari pada Maret. Itu adalah tingkat tertinggi dalam 30 tahun terakhir dan sedikit lebih tinggi dari Januari.

"Rusia juga tampaknya tidak melihat ada kewajiban untuk menerima pembatasan produksi yang disepakati," kata Commerzbank sebagimana dikutip oleh kantor berita Antara dari AFP.

"Kami sudah me-reset ekspektasi dari cukup optimis menjadi kurang optimis tentang kesepakatan pembekuan pada 17 April," kata Bart Melek, kepala analis komoditas di TD Securities.

"Sekarang tampaknya cukup jelas bahwa Saudi cukup bersikeras bahwa mereka tidak akan berpartisipasi, tanpa Iran menunjukkan niat setara." (ANT)

Baca juga artikel terkait ARAB SAUDI atau tulisan menarik lainnya


Reporter: Ign. L. Adhi Bhaskara


DarkLight