Menuju konten utama

Sampai Kapan El Nino di Indonesia, Apa Dampak & Penyebabnya?

Mengenal apa itu fenomena El Nino di Indonesia, dampak dan penyebabnya.

Sampai Kapan El Nino di Indonesia, Apa Dampak & Penyebabnya?
Warga mencari pakan rumput di Situ Rancabungur yang mengering di Kelurahan Benteng, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat, Senin (18/9/2023). Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat sebanyak 28 kecamatan yang tersebar di 11 kabupaten di wilayah Jawa Barat mengalami bencana hidrometeorologi kekeringan. ANTARA FOTO/Adeng Bustomi/aww.

tirto.id - Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memprediksi El Nino akan berlangsung hingga akhir Oktober 2023. Bahkan, fenomena ini bisa dialami hingga akhir tahun.

Kepala BMKG, Dwikorita Karnawati, mengatakan masa transisi dari musim kemarau ke musim hujan terjadi selama bulan November 2023.

Selain itu, ada harapan masuknya angin monsun dari arah Asia mulai November hingga berpotensi mulai turun hujan.

Meskipun demikian, masyarakat harus tetap waspada dalam menyalakan api karena kondisi masih kering dan berpotensi terjadinya kebakaran.

"Alhamdulillah karena adanya angin monsun dari arah Asia sudah masuk mulai November, jadi insya allah akan mulai turun hujan di bulan November," ungkap Dwikorita, dikutip laman BMKG.

"Artinya pengaruh El Nino akan mulai tersapu oleh hujan sehingga diharapkan kemarau kering insya allah berakhir secara bertahap," sambungnya.

Apa Itu Fenomena El Nino dan Penyebabnya?

Laman BMKG NTB menuliskan El Nino merupakan fenomena pemanasan Suhu Muka Laut (SML) di atas kondisi normal yang terjadi di Samudera Pasifik bagian tengah.

Pemanasan SML meningkatkan potensi pertumbuhan awan di Samudera Pasifik sehingga mengurangi curah hujan di Indonesia. Dengan demikian, El Nino juga bisa mengakibatkan kondisi kekeringan secara umum di Indonesia.

Dalam sejarahnya, El Nino diambil dari bahasa Spanyol yang berarti "anak kecil". Pada tahun 1600-an, seorang nelayan asal Amerika Serikat menemukan sebuah fenomena air hangat di Samudra Pasifik.

Mereka kemudian menyebut peristiwa ini sebagai El Niño de Navidad karena puncaknya bisa sampai bulan Desember.

Seperti diwartakan NOAA (National Oceanic and Atmospheric Administration), kondisi El Nino dapat mempengaruhi cuaca secara signifikan. Perairan yang lebih hangat ini bergerak dari Pasifik ke selatan.

Reuters menyebutkan El Nino terjadi karena perairan menjadi sangat hangat di Pasifik timur. Kondisi ini terbentuk setelah angin pasat yang bertiup dari timur ke barat di sepanjang Pasifik khatulistiwa menjadi lambat atau berbalik arah seiring dengan perubahan tekanan udara.

"Ketika El Nino menggerakkan air hangat itu, ia bergerak ke tempat badai petir terjadi. Itu domino atmosfer pertama yang turun," kata Tom DiLiberto, ahli meteorologi NOAA. "

Dampak El Nino Terhadap Indonesia

El Nino memberikan beberapa dampak yang signifikan di Indonesia.Di antaranya kekeringan, kekurangan air bersih, gagal panen, serta kebakaran hutan dan lahan.

Mengutip laman Pemerintah Kota Surakarta, dampak lain El Nino ialah anomali cuaca yang menyebabkan banjir dan badai hebat. Daerah basah bisa mengalami kekeringan dan daerah kering justru banjir.

Dari sektor pertanian, pola curah hujan dan suhu bisa menyebabkan gagal panen dan kelangkaan pangan. Situasi yang demikian dapat mengancam kondisi ketahanan pangan lokal maupun secara global.

Selain itu, ekosistem di laut bisa terdampak El Nino. Pemutihan karang merebut terumbu karang, ditambah pergeseran distribusi dan kelimpahan ikan.

Dari sisi kesehatan, perubahan kondisi iklim mengakibatkan penyakit yang ditularkan melalui nyamuk, banjir dan penyakit yang ditularkan lewat air, masalah gizi, hingga dampak mental akibat ketidakpastian ekonomi dan ketegangan sosial.

Selama fenomena El Nino, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menyarankan agar petani mengganti tanaman padi ke jenis pajale (padi ganti jagung dan kedelai). Pasalnya, tanaman tersebut tidak memerlukan banyak air.

"Fenomena El Nino, sebenarnya ini bukan pertama kali, kita pernah mengalaminya di antaranya tahun 1962, 1963, 1972, 1973, 1982, 1983, 1997, 1998, 2015 dan 2016," ujar Eddy Hermawan, peneliti Ahli Utama Pusat Riset Iklim dan Atmosfer BRIN.

Menurut Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK), Siti Nurbaya, pihaknya sudah mempersiapkan diri untuk menghadapi fenomena ini.

"Intinya arahan yang disampaikan Bapak Presiden ada tiga hal, yaitu pertama, pemetaan persoalan secara komprehensif; yang kedua, fokus untuk strategi tersedianya air; dan yang ketiga, daerah sentra produksi pangan agar dicek terus-menerus untuk kecukupan air," beber Siti Nurbaya.

Baca juga artikel terkait EL NINO atau tulisan lainnya dari Beni Jo

tirto.id - Sosial budaya
Kontributor: Beni Jo
Penulis: Beni Jo
Editor: Alexander Haryanto