Menuju konten utama

Apa Itu UNIFIL dan Tugasnya di Lebanon?

Simak penjelasan soal UNIFIL dan tugasnya di Lebanon. Salah satu TNI tewas di Lebanon saat bertugas untuk UNIFIL.

Apa Itu UNIFIL dan Tugasnya di Lebanon?
Panglima TNI Jenderal TNI Agus Subiyanto berjalan untuk melakukan pemeriksaan pasukan pada upacara Pelepasan Satgas TNI Kontingen Garuda UNIFIL 2025 di Lapangan Prima, Mabes TNI, Jakarta, Rabu (9/4/2025). ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja/YU
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Insiden tragis terjadi pada 29 Maret 2026, ketika seorang prajurit Indonesia, Farizal Rhomadhon, gugur saat menjalankan tugas sebagai bagian dari Satgas TNI di bawah UNIFIL.

Farizal Rhomadhon meninggal dunia di sektor Indobatt dekat Desa Adchit Al Qusayr, Lebanon Selatan pada Minggu (29/3/2026).

Insiden tersebut terjadi di tengah meningkatnya ketegangan dan baku tembak antara Israel Defense Forces (IDF) dan kelompok bersenjata yang menyebabkan serangan artileri tidak langsung mengenai posisi kontingen Indonesia.

Selain menewaskan Farizal, serangan tersebut juga mengakibatkan tiga personel lainnya mengalami luka-luka.

Apa Itu UNIFIL?

United Nations Interim Force in Lebanon (UNIFIL) merupakan salah satu misi penjaga perdamaian yang dibentuk oleh Persatuan Bangsa Bangsa (PBB) melalui Dewan Keamanan pada Maret 1978 berdasarkan Resolusi 425 dan 426, sebagai respons terhadap situasi konflik yang terjadi di Lebanon, khususnya di wilayah selatan yang berbatasan dengan Israel.

Mandat awal pembentukan UNIFIL mencakup tiga tujuan utama, yaitu mengonfirmasi penarikan pasukan Israel dari wilayah Lebanon, memulihkan perdamaian dan keamanan internasional, serta membantu Pemerintah Lebanon dalam mengembalikan dan memperkuat otoritasnya secara efektif di kawasan tersebut.

Seiring dinamika konflik dan perubahan situasi keamanan regional, mandat UNIFIL mengalami penyesuaian penting pada tahun 1982 dan 2000.

Peran UNIFIL semakin diperluas secara signifikan setelah krisis besar yang terjadi pada Juli hingga Agustus 2006 antara Israel dan kelompok bersenjata di Lebanon selatan.

Dalam konteks ini, Dewan Keamanan memperkuat mandat UNIFIL agar tidak hanya berfokus pada tugas awal, namun juga mencakup fungsi tambahan seperti memantau penghentian permusuhan (cessation of hostilities), mendampingi dan memberikan dukungan kepada Angkatan Bersenjata Lebanon dalam proses penyebaran mereka di seluruh wilayah selatan, serta berkontribusi dalam menjamin akses bantuan kemanusiaan bagi penduduk sipil yang terdampak konflik.

Selain itu, UNIFIL juga berperan dalam mendukung proses pemulangan pengungsi secara sukarela, aman, dan bermartabat ke tempat tinggal mereka, sekaligus membantu menciptakan kondisi stabil yang memungkinkan kehidupan masyarakat kembali normal.

Dalam pelaksanaannya, UNIFIL mengoperasikan kekuatan multinasional yang terdiri dari sekitar 8.500 personel penjaga perdamaian yang berasal dari hampir 50 negara kontributor, dengan jumlah personel yang dikerahkan mencapai sekitar 8.195 pada Januari 2026 (dari kapasitas maksimum yang diotorisasi sebesar 13.000 pasukan).

Negara-negara penyumbang terbesar dalam misi ini antara lain Italia (784 pasukan), Indonesia (756 pasukan), Spanyol (660 pasukan), India (642 pasukan), Prancis (635 pasukan), serta Ghana, Nepal, Malaysia, China, dan Irlandia.

Secara operasional, UNIFIL menjalankan tingkat aktivitas yang sangat tinggi dan berkelanjutan, dengan rata-rata sekitar 14.500 kegiatan setiap bulan. Aktivitas tersebut mencakup patroli darat dan laut, pengawasan wilayah perbatasan, koordinasi keamanan, serta interaksi dengan masyarakat lokal.

Sekitar 17% dari seluruh kegiatan tersebut dilaksanakan secara bersama-sama dengan Angkatan Bersenjata Lebanon. Untuk mendukung pengawasan di wilayah maritim, UNIFIL juga dilengkapi dengan Maritime Task Force yang terdiri dari lima kapal, yang bertugas membantu Angkatan Laut Lebanon dalam mengamankan perairan serta mencegah masuknya senjata ilegal melalui jalur laut.

Dari segi pendanaan, UNIFIL dibiayai melalui mekanisme anggaran terpisah yang disetujui setiap tahun oleh Majelis Umum PBB, yang memungkinkan fleksibilitas dalam menyesuaikan kebutuhan operasional di lapangan. Sebagai contoh, untuk periode Juli 2021 hingga Juni 2022, anggaran yang disetujui mencapai sekitar 510 juta dolar AS.

Baca juga artikel terkait PASUKAN PERDAMAIAN PBB atau tulisan lainnya dari Prihatini Wahyuningtyas

tirto.id - Flash News
Kontributor: Prihatini Wahyuningtyas
Penulis: Prihatini Wahyuningtyas
Editor: Dipna Videlia Putsanra