Menuju konten utama

Ander Herrera, Anak Basque yang Berkilau di Old Trafford

Ander Herrera semakin berkilau di bawah kepemimpinan Jose Mourinho. Ia bahkan melampaui N'Golo Kante.

Ander Herrera, Anak Basque yang Berkilau di Old Trafford
Ander Herrera. FOTO/AMA/Getty Images

tirto.id - Pelan tapi pasti, sejak menjadi rekrutan pertama era Louis van Gaal pada musim 2014-15, kilau Ander Herrera semakin benderang. di bawah kepemimpinan Jose Mourinho. Apa yang dia tampilkan di atas lapangan merefleksikan hasrat besarnya mengabdi sepenuh hati kepada ‘Setan Merah’.

Momen tersungkurnya Sergio Aguero setelah "ditanduk" Marouane Fellaini di menit ke-84 menjadi kontroversi pada laga derbi Manchester, Jumat (28/4). Selepas peluit akhir pertandingan, ada adegan menarik yang melibatkan rekan setim Fellaini, Ander Herrera dengan Aguero. Dia menghampiri Aguero untuk berbicara banyak tentang kontroversi tandukan yang membuat Fellaini diusir wasit. Aguero memang seperti bermain peran saat Fellaini mendekatkan keningnya ke kepala Aguero.

Protes Herrera untuk Aguero menunjukkan besarnya ikatan emosional dengan Manchester United dan tingginya hasrat untuk meraih kemenangan. Inilah yang membuat para pendukung United semakin menyukai Herrera.

Pembelian yang Berliku

United memerlukan lebih dari sekadar uang untuk mendapatkan Herrera. Berkali-kali United melayangkan tawaran hanya untuk ditolak Los Rojiblancos. Penawaran 24 juta euro pada Agustus 2013 ditolak. Setahun berselang, Bilbao lagi-lagi menolak tawaran MU senilai 36 juta euro sekalipun jumlah uang tersebut sukses mengaktifkan klausul kontrak sang pemain.

Kebijakan Bilbao yang hanya bisa diperkuat pemain beretnis Basque memang memaksa klub berusaha sekuat tenaga menjaga pemain terbaik mereka agar tidak pindah. Tidak mudah tentu saja menjalankan kebijakan saklek itu di era sepakbola modern.

Herrera yang kelewat ngebet main di Old Trafford akhirnya mengaktifkan klausul kontraknya sendiri dengan membayar 36 juta euro kepada federasi sepak bola Spanyol, RFEF, agar bisa hengkang. Sebuah manuver yang tidak bisa lagi dihalangi Bilbao, sekalipun presiden klub, Josu Urrutia, kecewa berat.

Tanggal 26 Juni 2014 menjadi hari Ander Herrera secara sah berseragam MU. Dia menjadi rekrutan pertama United di musim panas yang sibuk bagi pelatih anyar Louis van Gaal untuk menghabiskan uang.

Kisah Herrera jatuh hati kepada United bermula saat dirinya bersama Athletic Bilbao menjalani laga tandang ke Old Trafford di fase 16 besar Europa League 2011-12. Di bawah asuhan manajer kharismatik Marcelo Bielsa, Herrera turut berkontribusi menundukkan klubnya di masa depan, 3-2. Ia menyimpan decak kagum atas kemegahan Old Trafford. Mulai dari situ, dia menggantungkan cita-cita bermain untuk MU segera mungkin.

“Saya ingat saya melihat seisi stadion dan berpikir (saya tidak mengucapkannya kepada siapapun), ‘Mestinya bagus untuk bermain di depan para penggemar ini setiap pekan’. Hari itu saya yakin suatu saat nanti hal ini bakal kejadian: saya mengenakan seragam merah dan menikmati Old Trafford,” katanya kepada Unscriptd.

Laga-Laga Penting Ander Herrera

Musim pertamanya berjalan impresif dengan sumbangsih enam gol plus empat asis, jumlah gol tertinggi yang pernah dia cetak sepanjang karier. Paul Scholes memilihnya sebagai pembelian terbaik MU di musim tersebut, bukan Angel Di Maria, Falcao, Luke Shaw, dan Marcos Rojo. Musim kedua peran individunya sedikit tereduksi karena kolektivitas yang yang diterapkan van Gaal. Sekalipun sebagai gelandang tengah tidak bertugas utama menjaringkan gol, jumlah golnya menyusut menjadi empat gol sekalipun tampil 10 laga lebih banyak dari musim perdana di semua ajang.

Namun catatan itu sama sekali tidak bisa mencerminkan intensitas dan kesungguhan yang dia tunjukkan. Gol dan asis yang Herrera torehkan kerap hadir di laga penting, seperti menyajikan asis untuk Juan Mata yang mencetak gol kemenangan MU melawan Liverpool di Anfield pada musim perdananya. Laga itu cukup monumental bagi karier Steven Gerrard yang mesti dapat kartu merah hanya beberapa menit setelah masuk ke lapangan di Derby of London terakhirnya karena menginjak Herrera.

Laga versus Liverpool semusim berselang turut dia warnai dengan kesuksesan mengeksekusi penalti dalam kemenangan 3-1. Saat Marcus Rashford menggila di laga debut Liga Primer dengan sumbangsih dwigol, Herrera turut melengkapinya dengan gol kemenangan MU atas Arsenal 3-2. Sumbangsih besar Herrera lainnya di musim keduanya ialah saat memberi asis gol kemenangan MU yang dibuat Anthony Martial untuk menaklukan Everton 2-1 di semifinal Piala FA. Di akhir kompetisi, United meraih gelar Piala FA kedua belas mereka dan itulah satu-satunya gelar yang -- sejauh ini-- diperoleh Herrera bersama MU.

Herrera sempat gundah gulana sampai tidak bisa tidur karena penguatan lini tengah yang dilakukan MU di bursa transfer musim ini. Masuknya Paul Pogba dan Henrikh Mkhitaryan semakin mengancam menit bermainnya yang, sejak era van Gaal pun, sebenarnya tidak banyak. Namun siapa sangka, kepercayaan Mourinho dan kerja kerasnya menampilkan kerja-kerja maksimal memberikannya musim terbaik dalam karier. Sebanyak 25 laga dia jalani sebagai pemain utama, berbanding hanya 17 kali pada musim sebelumnya.

Situs statistik Whoscored memberinya rating 7,49 poin, hanya kalah dari Paul Pogba (7,71 poin) berkat penobatan Man of the Match sebanyak lima kali (terbanyak, sama seperti Ibrahimovich). Torehan golnya memang hanya sebutir, tapi jumlah asisnya mencapai enam, catatan tertinggi dibanding pemain lain di skuat. Namun memang kontribusinya sebagai gelandang tengah tidak bisa diukur dari dua variabel itu saja.

Infografik Ander Herrera Aguera

Melampaui N'Golo Kante

Dibanding peraih PFA Player of The Year, N’Golo Kante, Herrera unggul terkait intersepsi (2,9 kali per laga), jumlah operan (72,1 kali per laga), pembuatan peluang (1,35 kali per laga), dan kemenangan duel (47%). Kante hampir punya tugas seperti Herrera, tapi dalam empat penilaian statistik itu nyatanya dia masih kalah bersaing dengan jumlah intersepsi (2,4 kali perlaga), jumlah operan (61,3 perlaga), pembuatan peluang (0,58 kali perlaga), dan persentase menang duel 40%. Herrera terbukti unggul terkait tugasnya menghentikan serangan lawan, sekaligus mengalirkan bola untuk membangun serangan.

Laga melawan Chelsea di Old Trafford musim ini menjadi panggung penting dalam perkembangan karier Herrera berbaju United. Dia yang kerap dilabeli terlalu pasif pada era van Gaal, tampil begitu enerjik. Eden Hazard dia tempel kemana pun dia pergi, sehingga gelandang Belgia itu tidak bisa sekalipun sukses menggiring bola melewati lawan. Laga itu memperlihatkan kelas Herrera dalam bertahan di lini tengah, sekaligus dalam menyerang. Satu asis indah yang dia berikan untuk Marcus Rashford disempurnakan dengan golnya yang mengunci kemenangan. Penampilan gemilang nan krusial dalam menjaga asa United lolos ke Liga Champions musim depan.

Dari itu semua, Ander Herrera telah memberikan identitas dalam kehidupan MU pasca era Sir Alex Ferguson. Antusiasmenya tidak pernah hilang saat berbicara sepakbola: tentang Manchester United yang ingin dia bela sampai pensiun, Nicky Butt dan Paul Scholes yang dia panuti, dan kumpulan penggemar yang suatu saat dia ingin bergabung guna menonton laga bersama.

“Saya mencintai sepakbola. Saya cinta profesi saya. Apa yang tidak suka adalah kasus di mana pemilik klub memprioritaskan kepentingan pribadi di atas klub. Sepakbola tidak semata-mata tentang keuntungan. Saya agak sepakat dengan (gagasan) ‘Against Modern Football',” katanya lagi.

Baca juga artikel terkait SEPAKBOLA EROPA atau tulisan lainnya dari Rahman Fauzi

tirto.id - Olahraga
Reporter: Rahman Fauzi
Penulis: Rahman Fauzi
Editor: Zen RS