Menuju konten utama

Alasan Kenapa Tidak Boleh Takbiran Sebelum Waktunya

Kenapa tidak boleh takbiran sebelum waktunya? Berikut penjelasan hukum takbiran sebelum waktunya dan keterangan waktu yang tepat untuk mengumandangkannya.

Alasan Kenapa Tidak Boleh Takbiran Sebelum Waktunya
Ilustrasi takbir keliling sambut Idulfitri. Kenapa tidak boleh takbiran sebelum waktunya? Sesuai sunah, ada waktu khusus untuk mengumandangkan sunah takbir Idulfitri. ANTARA FOTO/Iggoy el Fitra/aww.
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Takbiran dilakukan sesuai dengan waktu. Kenapa tidak boleh takbiran sebelum waktunya? Apa alasannya?

Jelang Idulfitri maupun Iduladha, umat Islam biasa menggelar acara takbiran. Pada momen ini, mereka mengucapkan lafal takbir dalam berbagai versi secara sendiri maupun berkelompok.

Kegiatan ini menjadi ajang untuk mengagungkan nama Allah SWT. Sebagai awal sebuah kemenangan, takbiran merupakan agenda yang sangat dinantikan kalangan Muslim demi mendekatkan diri kepada Sang Maha Pencipta.

Hukum Takbiran Sebelum Waktunya

Umat Islam lazim mengumandangkan takbir atau melakukan takbiran selama perayaan Lebaran Idul Fitri. Sehubungan dengan itu, kenapa tidak boleh takbiran sebelum waktunya?

Hukum takbiran sebelum waktunya tidak boleh. Pertanyaan mengenai kenapa tidak boleh mengucapkan takbiran sebelum waktunya ini kerap menjadi bahan bahasan muslimin dan muslimat.

Umat Islam tidak boleh takbiran sebelum waktunya lantaran bisa menimbulkan anggapan kepada orang umum bahwa takbir menjadi syariat. Apakah takbiran dilarang selain Hari Raya Idulfitri?

Keterangan ini serupa dengan hasil bahtsul masail oleh Pengurus Cabang Lembaga Bahtsul Masail Nahdlatul Ulama (PC LBMNU) Kabupaten Jombang. Dikutip dari NU Jombang, muslimin dan muslimat tak boleh takbiran di luar waktu-waktu yang sudah ditentukan.

Umat Islam bisa mengumandangkan sunah takbir untuk menghidupkan malam Hari Raya Idulfitri maupun Iduladha. Dengan begitu, muslimin maupun muslimat dapat memperoleh pahala.

Kapan Waktu yang Diperbolehkan untuk Takbiran?

Salah satu amalan sunah ketika hari raya ialah dengan cara menghidupkan malam harinya melalui ibadah. Selain beribadah, umat Islam juga bisa melakukan aktivitas takbiran.

Dari keterangan tersebut, muslimin dan muslimat sudah mengetahui bahwa takbiran berlangsung pada malam sebelum Lebaran. Sebuah hadis juga memuat penjelasan sebagai berikut.

"Barang siapa yang menghidupkan malam hari raya, Allah akan menghidupkan hatinya di saat hati-hati orang sedang mengalami kematian."

Adapun takbir memiliki 2 macam, yakni takbir mursal dan takbir muqayyad. Takbir mursal yaitu takbir yang waktunya tidak mengacu waktu salat atau tidak harus dibaca oleh seseorang setiap usai menjalankan ibadah salat, baik itu fardu maupun sunah.

Laki-laki dan perempuan bisa melantunkan takbir ketika berada di rumah, jalan, masjid, pasar, atau tempat lainnya. Waktunya adalah sejak terbenamnya matahari pada malam Id hingga imam melakukan takbiratul ihram salat Id.

Sementara takbir muqayyad adalah takbir yang pelaksanaannya memiliki waktu khusus. Misalnya untuk mengiringi salat, yaitu dibaca setelah melaksanakan salat fardu atau sunah.

Adapun waktunya adalah setelah salat Subuh hari Arafah (9 Zulhijah) hingga Asar pada hari Tasyrik terakhir (13 Zulhijah).

Takbiran Idul Fitri Jam Berapa?

Jam mengumandangkan takbiran Idulfitri memiliki waktu yang berbeda dengan takbiran Iduladha. Berdasarkan sunah, umat Islam dapat melakukan takbiran Idul Fitri sejak matahari tenggelam pada malam sebelum 1 Syawal.

Muslimin maupun muslimat bisa mengumandangkan takbir Allahuakbar hingga takbiratulihramsalat Idulfitri berjemaah. Ketentuan jam ini juga berlaku bagi mereka yang salat Id sendirian.

Adapun bacaan takbiran Idulfitri sebagai berikut.

Allāhu akbar kabīrā, walhamdu lillāhi katsīrā, wa subhānallāhi bukratan wa ashīlā, lā ilāha illallāhu wa lā na‘budu illā iyyāhu mukhlishīna lahud dīna wa law karihal kāfirūn, lā ilāha illallāhu wahdah, shadaqa wa‘dah, wa nashara ‘abdah, wa hazamal ahzāba wahdah, lā ilāha illallāhu wallāhu akbar.

Artinya:

“Allah maha besar. Segala puji yang banyak bagi Allah. Maha suci Allah pagi dan sore. Tiada Tuhan selain Allah. Kami tidak menyembah kecuali kepada-Nya, memurnikan bagi-Nya sebuah agama meski orang kafir tidak menyukainya. Tiada Tuhan selain Allah yang Esa, yang menepati janji-Nya, membela hamba-Nya, dan sendiri memorak-porandakan pasukan musuh. Tiada Tuhan selain Allah. Allah Mahabesar.”

Pastikan juga untuk membaca informasi terbaru seputar takbiran Hari Raya Lebaran Idulfitri di laman berikut ini.

Informasi Takbiran Terbaru

Baca juga artikel terkait RAMADHAN 2026 atau tulisan lainnya dari Beni Jo

tirto.id - Edusains
Kontributor: Beni Jo
Penulis: Beni Jo
Editor: Yulaika Ramadhani
Penyelaras: Yuda Prinada