Menuju konten utama

Alasan Ikan Laut Tidak Bisa Masuk Ke Air Tawar dan Sebaliknya

Ikan laut tidak bisa hidup di air tawar karena cairan tubuhnya memiliki konsentrasi garam yang lebih tinggi dibanding air tawar.

Alasan Ikan Laut Tidak Bisa Masuk Ke Air Tawar dan Sebaliknya
Ilustrasi ikan salmon. FOTO/iStockphoto
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Ikan laut dan ikan tawar memiliki tingkat salinitas yang berbeda. Ikan laut memiliki konsentrasi garam yang lebih tinggi dari pada air di dalam tubuhnya. Sementara, ikan tawar hidup di lingkungan hipotonik, yaitu air di lingkungannya memiliki konsentrasi garam yang lebih rendah dari pada air di dalam tubuhnya.

Ikan tawar cenderung mempertahankan kadar garam dalam tubuhnya dan mencegah terlalu banyak air masuk. Bagi ikan yang hidup di air asin justru menyerap sebanyak mungkin air dan mengeluarkan kelebihan garam dari tubuhnya. Guna menjaga keseimbangan air dan garam, fungsi insang, ginjal, serta proses ekskresi atau pembuangan limbah memiliki peran vital.

Kendati begitu, terdapat jenis ikan diandromus, yaitu ikan yang dapat hidup di habitat air tawar dan air laut. Beberapa contoh ikan diandromus yaitu salmon chum, hiu banteng, belut amerika, hingga ikan sidat.

Peran Konsentrasi Garam dalam Tubuh Ikan

Ikan laut umumnya tidak bisa hidup di air tawar. Hal itu karena konsentrasi zat terlarut dalam cairan tubuhnya lebih rendah dibandingkan dengan air laut, tetapi lebih tinggi dibandingkan dengan air tawar. Perbedaan konsentrasi ini membuat ikan harus menjaga keseimbangan air dan garam di dalam tubuhnya agar dapat bertahan hidup.

Ketika ikan laut berada di air tawar, air akan terus-menerus masuk ke dalam tubuh melalui proses osmosis. Jika tidak mampu mengatur keseimbangan cairan, ikan dapat mengalami kelebihan air dan kehilangan keseimbangan ion dalam darah.

Sebaliknya, ikan air tawar yang berada di laut akan kehilangan air dari tubuhnya karena lingkungan laut memiliki konsentrasi zat terlarut yang lebih tinggi. Kondisi ini dapat menyebabkan dehidrasi.

Secara ilmiah, fenomena tersebut dijelaskan melalui proses osmosis, yaitu perpindahan molekul air melintasi membran semipermeabel dari larutan dengan konsentrasi zat terlarut lebih rendah menuju larutan dengan konsentrasi zat terlarut lebih tinggi.

Membran semipermeabel merupakan membran yang memiliki sifat selektif, yaitu memungkinkan molekul tertentu, seperti air, melewatinya, tetapi membatasi perpindahan zat terlarut lainnya.

Wisata Pantai Teluk Asmara di Kabupaten Malang

Ilustrasi. ANTARA FOTO/Irfan Sumanjaya/tom.

Dalam proses osmosis, terdapat tiga kondisi larutan yang dikenal sebagai hipertonik, hipotonik, dan isotonik. Hipertonik terjadi ketika konsentrasi zat terlarut di luar sel lebih tinggi dibandingkan di dalam sel. Akibatnya, air bergerak keluar dari sel sehingga volumenya menyusut.

Sebaliknya, hipotonik terjadi ketika konsentrasi zat terlarut di luar sel lebih rendah dibandingkan di dalam sel. Kondisi ini menyebabkan air masuk ke dalam sel sehingga volumenya membesar. Sementara itu, isotonik merupakan kondisi ketika konsentrasi zat terlarut efektif di kedua sisi membran seimbang sehingga tidak terjadi perubahan volume sel secara bersih.

Air laut yang memiliki salinitas sekitar 3,5 persen bersifat hipertonik terhadap cairan tubuh sebagian besar ikan laut bertulang sejati maupun ikan air tawar. Sebaliknya, air tawar yang memiliki salinitas kurang dari 0,05 persen bersifat hipotonik terhadap cairan tubuh ikan.

Untuk bertahan hidup di habitatnya, ikan memiliki mekanisme osmoregulasi, yaitu kemampuan mengatur keseimbangan air dan garam dalam tubuh.

Ikan laut mengatasi kehilangan air dengan meminum air laut dan menyerap air melalui saluran pencernaannya. Kelebihan garam, terutama natrium dan klorida, kemudian dikeluarkan melalui sel khusus pada insang. Ginjal juga membantu membuang kelebihan ion tertentu melalui urine.

Sementara itu, ikan air tawar umumnya tidak banyak minum karena air terus-menerus masuk ke dalam tubuhnya melalui permukaan insang. Untuk mengatasi kelebihan cairan, ikan menghasilkan urine encer dalam jumlah besar. Pada saat bersamaan, insang dan ginjal membantu menyerap serta mempertahankan ion penting agar kadar garam dalam tubuh tetap seimbang, sebagaimana dikutip dari laman University of Gothenburg.

Ikan laut dan ikan air tawar memiliki mekanisme osmoregulasi yang berbeda untuk mempertahankan keseimbangan cairan tubuh. Apabila ikan tidak mampu menyesuaikan mekanisme tersebut ketika berpindah ke lingkungan dengan salinitas berbeda, keseimbangan air dan ion dalam tubuhnya dapat terganggu dan berpotensi menyebabkan kematian.

Adakah Ikan yang Bisa Hidup di Air Tawar dan Air Asin?

Meski struktur sel ikan laut dan ikan tawar berbeda, ada spesies ikan yang mampu bertahan hidup di kedua perairan tersebut. Di beberapa negara, terdapat jenis ikan diandromus, yaitu migrasi ikan yang berpindah antara habitat air tawar dan laut. Ikan diandromus terbagi menjadi anadromous dan katadromus.

Ikan anadromous lahir di perairan tawar, menghabiskan sebagian besar hidupnya di laut, lalu kembali ke perairan tawar untuk berkembang biak. Sementara, ikan katadromus menghabiskan sebagian besar hidupnya di perairan tawar, lalu kembali ke samudra untuk memijah, seperti halnya ikan sidat.

Melansir laman Ocean Generation, salah satu ikan anadromous yaitu Salmon Chum yang bermigrasi lebih dari 10.000 km melintasi Pasifik Utara, dari area mencari makan menuju Sungai Yukon. Namun, tidak semua ikan salmon bersifat anandromi atau berpindah dari laut ke sungai untuk berkembang biak.

Salmon yang hidup anandromi akan melakukan penyesuaian perilaku dan fisiologis untuk mengelola keseimbangan osmotik tubuh. Saat beradadi air tawar, salmon anandromi tidak minum air. Sebaliknya,saat berada di air asin, salmon lebih banyak menghabiskan waktu untuk minum.

Secara alamiah, hormon akan mengubah fisiologis salmon dengan meningkatkan jumlah pengangkut ion (ion transporters) di insang dan ginjal untuk mengatur keseimbangan kadar garam.

Namun, mekanisme ini mengharuskan ikan salmon tidak makan selama perjalanan kembali ke air tawar. Guna memenuhi energi tubuhnya, salmon mengandalkan cadangan lemak yang telah dikumpulkan bertahun-tahun di samudra demi menuju tempat untuk bertelur.

Budidaya ikan air tawar keramba di Ranu Klakah

Budidaya ikan air tawar. ANTARA FOTO/Irfan Sumanjaya/YU

Kepiawaian ikan salmon menoleransi dan beradaptasi terhadap fluktuasi kadar garam juga dijuluki sebagai ikan eurihalin, sebagaimana dikutip laman dari Science ABC.

Selain salmon, jenis hewan yang bisa hidup di air laut dan air tawar lainnya yaitu belut amerika. Belut Amerika bersifat katadromus, ia lahir di perairan asin, kemudian menghabiskan sebagian besar hidupnya di sungai, lalu bermigrasi ke hilir menuju laut untuk memijah.

Menukil laman Ocean Conservancy, hiu banteng juga mampu mengatur tubuhnya untuk beradaptasi dengan berbagai tingkat salinitas. Secara fisiologis, hiu banteng memiliki ginjal, insang, dan kelenjar rektal khusus untuk mempertahankan kadar garam saat memasuki perairan tawar. Insang bertugas menyerap banyak air asin, yang kemudian disimpan dan diserap kembali ke dalam aliran darah oleh ginjal.

Organ-organ ini bekerja ekstra keras untuk membuang kelebihan air tawar melalui urine demi menjaga tingkat salinitas internal tubuh. Selanjutnya yaitu Ikan Striped Bass, spesies asli pesisir Atlantik di Amerika Utara.

Ikan yang bersifat anadromus ini menempuh perjalanan jauh untuk bereproduksi di kawasan muara. Setelah lahir di perairan tawar, mereka biasanya tinggal di perairan payau selama dua hingga empat tahun sebelum akhirnya berpindah ke Samudra Atlantik.

Baca juga artikel terkait IKAN atau tulisan lainnya dari Sarah Rahma Agustin

tirto.id - Edusains
Kontributor: Sarah Rahma Agustin
Penulis: Sarah Rahma Agustin
Editor: Yantina Debora