Akhir Perjalanan dari Kegagalan Windows Vista

Perangkat lunak Microsoft Windows Vista di rak salah satu toko di New York. Foto/Reuters
Oleh: Ahmad Zaenudin - 25 Maret 2017
Dibaca Normal 3 menit
Microsoft akhirnya menghentikan dukungan bagi Windows Vista mulai bulan depan setelah lebih dari 10 tahun diluncurkan. Salah satu sistem operasi Microsoft ini memang produk gagal, dan Vista tak sendirian.
Datang dan pergi bagi semua produk sebuah hal lumrah, tak kecuali di jagat teknologi yang serba dinamis. Di dunia sistem operasi komputer, Microsoft akhirnya memutuskan langkah yang seharusnya sudah dilakukannya sejak lama--mengakhiri Windows Vista.

Mulai 11 April 2017, Microsoft akan menghentikan dukungan teknis pada Windows Vista. Tanpa dukungan teknis, terutama menyangkut masalah keamanan, secara otomatis hal demikian bisa disebut sebagai kematian bagi Vista. Windows Vista, yang oleh mantan CEO Microsoft Steve Ballmer disebut sebagai “kesalahan terbesar”, diluncurkan pada publik di November 2006. Digadang-gadang menjadi penerus XP, di pasaran Vista bisa dikatakan gagal total.

Dalam sebuah pernyataan, Microsoft mengumumkan bahwa, “Setelah April, 2017, pelanggan Windows Vista tidak akan menerima pembaruan keamanan terbaru, perbaikan non-keamanan, versi gratis atau berbayar dukungan asistensi, atau pembaruan konten teknikal secara online dari Microsoft. Microsoft telah menyediakan dukungan bagi Windows Vista dalam 10 tahun terakhir, tapi waktu akhirnya sampai juga pada kami, bersama dengan rekanan (pembuat) perangkat keras dan perangkat lunak, untuk menginvestasikan tenaga kami pada teknologi terbaru agar kami bisa melanjutkan menghadirkan pengalaman baru yang luar biasa.”

Meskipun dianggap gagal, mengutip data dari NetMarketsahare, Windows Vista masih ada yang memakainya. Vista digunakan sekitar 0,78 persen pengguna di seluruh dunia. Namun, angka tersebut kalah dari pendahulu Vista, Windows XP. Menurut data, XP saat ini masih digunakan 8,45 persen pengguna di seluruh dunia. Padahal, Microsoft telah menghentikan dukungan pada Windows XP di 2014 lalu.

Windows Vista, yang memiliki kode “Longhorn” direncanakan diluncurkan oleh Microsoft 2 atau 3 tahun setelah Windows XP diluncurkan. Namun, karena memperoleh banyak kendala, Windows Vista telat diluncurkan ke pasaran.

Imbas memiliki kendala dalam proses pembuatannya, tak mengherankan selepas diluncurkan, Vista memperoleh banjir kritikan. Vista datang pada publik dengan perubahan desain yang secara substansial berbeda dengan pendahulunya, XP. Sayangnya, perubahan yang cukup mencolok tersebut memerlukan dukungan kemampuan mesin komputer yang juga tinggi. Vista, sangat berat jika dipasang pada komputer dengan spesifikasi rendah. Hal tersebut menjadi alasan pertama banyak orang enggan memperbarui sistem operasinya dari XP ke Vista.

Selain itu, Windows Vista hadir dengan teknik keamanan baru. Miscrosoft memperkenalkan User Account Control atau UAC pada Vista. UAC mencegah aplikasi-aplikasi--biasanya dalam proses pemasangan atau install yang tidak diketahui, menjalankan proses komputasi sendiri. Perlu persetujuan dari pengguna agar aplikasi bisa dijalankan. Sayangnya, UAC bagi banyak orang menjadi bencana. Apalagi karena terlalu banyak permintaan persetujuan UAC. Karena kesal, banyak pengguna yang mematikan UAC. Alih-alih memberikan kenyamanan, hal tersebut justru menjadi bumerang bagi pengguna Vista. Program-program antah-berantah, bisa leluasa menjalankan operasinya.




Dari sisi perangkat keras, Windows Vista juga banyak kendala. Vista diketahui banyak bermasalah dengan perangkat-perangkat keras lawas yang membuatnya tidak bisa dipasang pada sistem komputer berbasis Vista. Akibat pelbagai permasalahan Windows Vista, Apple, perusahaan pesaing Microsoft, meluncurkan iklan yang diberi judul “Get A Mac”. Iklan tersebut mengkritisi masalah keamanan di Vista dan masalah teknikal lainnya. Secara sederhana, iklan tersebut menyarankan agar pengguna Vista beralih menjadi pengguna Mac.

Vista memang tidak didukung oleh pengembang sejak awal. Pada 2008 atau kurang dari dua tahun peluncuran Vista, hanya 8 persen pengembang yang menargetkan Windows Vista sebagai pijakan mereka membuat perangkat lunak. Para pengembang, 49 persen memilih menargetkan Vista manakala pendahulunya telah dimatikan oleh Microsoft yakni Windows XP. Lebih mengejutkan lagi, 15 persen pengembang lebih memilih platform Linux dalam membuat perangkat lunaknya daripada di platform Vista.

Tanpa dukungan penuh dari pengembang, hal demikian adalah pukulan telak bagi Windows Vista. Karena dengan demikian, banyak perangkat-perangkat lunak yang tidak tersedia atau tidak diperbarui di Windows Vista. Secara sederhana, sikap pengembang tersebut menyarankan pada pengguna bahwa XP masih lebih baik.

Secara keseluruhan, data NetMarketShare, hingga Februari 2017, Windows 7 menjadi penguasa dengan 48,41 persen pangsa pasar. Disusul oleh sistem operasi baru milik Microsoft, Windows 10 dengan 25,19 persen pangsa pasar. Saat ini, Windows Vista hanya memiliki 0,78 persen pangsa pasar. Sementara sistem operasi komputer non-Windows, MacOS--yang dahulu dikenal sebagai Machintosh memiliki 6,19 persen pangsa pasar. Sedangkan sistem operasi gratisan, Linux, memiliki pangsa pasar sebesar 1,54 persen.

Kegagalan yang dialami Vista adalah sebuah siklus yang diderita Microsoft. Setidaknya, semenjak Microsoft meluncurkan Windows 98 ke pasaran. Windows 98 termasuk capaian sukses Microsoft. Namun, saat mereka meluncurkan Windows ME yang digadang-gadang menjadi penerus Windows 98, Windows ME gagal total. ME sering diplesetkan sebagai “mistake edition” pada seharusnya memiliki arti “millenium”.

Sebenarnya, setelah Windows 98, Microsoft meluncurkan Windows 2000 beberapa bulan sebelum Windows ME. Tapi Windows 2000 berbeda jenis dibandingkan keluarga Windows 98 dan diteruskan dengan Windows ME. Windows 2000 merupakan jenis sistem operasi milik Microsoft dengan kode NT atau “new technology” dan merupakan “business-oriented system”.

Selepas kegagalan dengan Windows ME, Microsoft merilis Windows XP. XP merupakan sejarah manis dari Microsoft. Setelah itu, bencana datang melalui Vista, sang penerus XP. Menghadirkan banyak perubahan, Vista gagal meyakinkan pengguna komputer.

Selepas kegagalan Vista, Microsoft merilis Windows 7. Windows 7 sukses besar di pasaran. Sampai hari ini, Windows 7 masih menjadi penguasa sistem operasi komputer di dunia. Selanjutnya, Microsoft memperkenalkan Windows 8 dengan banyak perubahan yang dilakukan. Menghilangkan tombol “start” merupakan salah satu hal yang dilakukan Microsoft di Windows 8. Namun, para pengguna komputer dunia menyayangkan perubahan tersebut. Banyak pengguna Windows 8 yang kebingungan dengan sistem antar muka baru.

Windows 8 gagal. Miskipun kemudian Microsoft meluncurkan Windows 8.1, tapi hal demikian tetaplah tidak menutup kegagalan Microsoft di Windows 8. Terakhir, Microsoft hadir dengan Windows 10. Bisa dibilang, Windows 10 berhasil mengambil hati para pengguna komputer dunia. Terlebih, di awal kemunculannya, Microsoft menawarkan pembaruan dari Windows 7 dan Windows 8.1 ke Windows 10 secara gratis.

Keberhasilan dan kegagalan sebuah produk silih berganti menyapa Microsoft. Namun untuk vista, Microsoft sempat memberikan kesempatan lebih dari 10 tahun, sebuah waktu lama bagi produk yang gagal.

Baca juga artikel terkait WINDOWS atau tulisan menarik lainnya Ahmad Zaenudin
(tirto.id - Teknologi)

Reporter: Ahmad Zaenudin
Penulis: Ahmad Zaenudin
Editor: Suhendra
DarkLight