Akhir Derita Negara-negara Kartel Minyak

Reporter: Nurul Qomariyah Pramisti, tirto.id - 29 Sep 2016 13:38 WIB
Dibaca Normal 4 menit
OPEC membuat kejutan dengan menurunkan kuota produksi, untuk pertama kalinya dalam delapan tahun terakhir. Keputusan ini langsung membuat harga minyak melonjak tajam.
tirto.id - Dalam beberapa tahun terakhir, negara-negara produsen minyak dibuat tertekan oleh harga minyak yang sangat rendah. Akibat rendahnya harga minyak, anggaran negara-negara tersebut mengalami tekanan berat sehingga harus melakukan beragam langkah penghematan dan mencari sumber-sumber devisa lainnya.

Pada Forum Eenergi Internasional yang berlangsung di Algiers, Aljazair, dari 26 sampai 28 September, OPEC sepakat mengurangi output sampai 32,5-33,0 juta barel per hari dari tingkat output saat ini 33,24 juta barel per hari.

"Kami telah memutuskan untuk mengurangi produksi sekitar 700.000 barel per hari," kata Menteri Perminyakan Iran Bijan Zanganeh.


Namun berapa banyak setiap negara akan memproduksi minyak akan diputuskan pada pertemuan resmi OPEC 30 November mendatang di mana OPEC juga akan meminta negara-negara non OPEC seperti Rusia untuk menempuh langkah serupa.

Keputusan itu langsung membuat harga minyak melonjak. Harga minyak Brent naik 2,72 dolar AS atau 5,9 persen pada 48,69 dolar AS per barel, dengan sempat mencapai tertinggi dalam dua pekan 48,96 dolar AS, sedangkan harga minyak West Texas Intermediate (WTI) melonjak 2,38 dolar AS atau 5,3 persen pada 47,05 dolar AS setelah mencapai yang terlemah 47,45 dolar AS sejak 8 September.

Keputusan besar OPEC ini tak lepas dari peran besar Aljazair sebagai tuan rumah. Presiden OPEC Mohammed Bin Saleh Al-Sada memuji upaya-upaya yang dilakukan oleh Aljazair, yang menawarkan semacam kesempatan untuk mengumpulkan kami dan memutuskan masalah penting yang berkaitan dengan pasar minyak.

Negara Afrika Utara itu mengusulkan Arab Saudi, salah satu produsen minyak utama, untuk membatasi pasokan menjadi sekitar 10,3 juta barel per hari. Ia juga mengusulkan Iran untuk membatasi pasokannya menjadi 3,7 juta barel per hari.

Perdana Menteri Aljazair Abdelmalek Sellal pada Selasa (27/9/2016) bertemu dengan Wakil Menteri Perminyakan Arab Saudi, Pangeran Salman bin Abdul Aziz bin Salman Al-Saud dan Menteri Perminyakan Iran Bijan Namdar Zanganeh.

Sellal berusaha untuk mendekatkan perbedaan pandangan antara Iran dan Arab Saudi untuk memfasilitasi proses pertemuan informal OPEC yang dipandang sebagai kesempatan guna mencapai kesepakatan pembekuan atau pengurangan produksi minyak.

Aljazair melakukan upaya-upaya diplomatik yang cukup besar dalam beberapa bulan terakhir untuk membujuk OPEC dan produsen non-OPEC untuk berkumpul dalam pertemuan "informal" guna menghidupkan kembali pasar minyak yang merosot.


Menteri Energi Aljazair Noureddine Bouterfa mengatakan awal pekan ini bahwa harga minyak pada 50 hingga 60 dolar AS per barel akan menguntungkan bagi konsumen dan produsen, karena akan membantu menjaga investasi dan karena itu menjamin ketersediaan produk energi utama ini dalam jangka panjang.

OPEC akhirnya mengambil langkah penting guna melakukan stabilisasi harga, sekaligus menyelamatkan industri perminyakan. Namun, ini berarti ke depan konsumen harus bersiap-siap membayar harga energi fosil yang lebih mahal.

Desakan agar OPEC menurunkan kuota produksinya sudah muncul dalam beberapa bulan terakhir. Ini dikarenakan harga minyak merosot tajam dan sempat berada di bawah level psikologis $30 per barel pada medio Januari 2016. Harga kemudian merangkak naik di kisaran $40 per barel.

Harga minyak mentah dunia menembus titik terendahnya dalam 13 tahun terakhir pada awal perdagangan Senin, 18 Januari 2016. Harga minyak internasional Brent sempat turun menjadi $27,67 per barel, yang merupakan level terendah sejak tahun 2003. Harga kemudian sedikit membaik ke $28,25 per barel, yang berarti turun 2 persen dari penutupan perdagangan Jumat (15/1/2016).

Harga minyak turun di bawah level psikologis $30 per barel setelah sanksi atas Iran dicabut. Pencabutan sanksi membuat Iran bisa menggenjot lagi produksinya yang sempat tertahan bertahun-tahun. Dengan tambahan produksi dari Iran, pasokan minyak yang kini sudah berlimpah akan semakin bertambah.

“Pencabutan sanksi Iran memberikan tekanan turun pada minyak dan komoditas secara lebih luas dalam jangka pendek,” jelas ANZ dalam analisisnya.

Dalam dua tahun terakhir, harga minyak mengalami fase pergerakan yang sangat fluktuatif. Harga minyak mencapai level tertingginya sepanjang sejarah pada Juli 2008 ketika menembus $150 per barel. Setelah itu, harga mulai melandai sebelum akhirnya mencapai level tertingginya lagi di $107 per barel pada Juni 2014.

Usai menembus rekor tertinggi, harga minyak secara perlahan beringsut mundur. Memasuki tahun 2015, penurunan harga minyak semakin parah. Hingga akhir 2015 di bawah $40 per barel, yang merupakan level terendah sejak 2009. Bank Dunia mencatat harga minyak merosot hingga 47 persen pada tahun 2015. Penurunan harga minyak berlanjut hingga 2016. Selama Januari 2016, harga minyak tercatat sudah turun hingga 25 persen, yang merupakan penurunan terbesar sejak krisis finansial. Diperkirakan harga akan kembali turun secara rata-rata hingga 27 persen pada 2016.

Energy Information Administration (EIA) memperkirakan harga minyak WTI pada tahun 2016 hanya $38,54 sebelum membaik jadi $47 per barel pada tahun 2017. Sementara minyak Brent diperkirakan sebesar $40,15 per barel pada tahun 2016 dan meningkat jadi $50 per barel pada 2017.

Penurunan harga minyak dunia yang mulai berlangsung mulai medio tahun 2014, dipicu munculnya booming shale oil di Amerika Serikat (AS). Produksi global tumbuh hingga 1,8 juta barel menjadi 92 juta barel pada tahun 2014. Produksi minyak mentah AS sendiri mencatat kenaikan hingga 1,2 juta barel per hari pada tahun 2014, naik 16 persen dibandingkan tahun 2013. Produksi shale oil AS tercatat melonjak hingga 4 juta barel per hari hanya dalam kurun waktu enam tahun. Total produksi minyak AS mencapai 8,6 juta barel, yang merupakan angka tertinggi dalam 30 tahun.

Pada saat yang sama, perekonomian dunia mulai lesu sebagai imbas dari pelemahan ekonomi Cina dan juga kawasan Eropa. IMF memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi tahun 2015 sebesar 0,2 persen menjadi 3,3 persen. Ini merupakan angka pertumbuhan ekonomi dunia terendah sejak kontraksi pada tahun 2009.

Dunia berlimpah minyak. OPEC sebagai pengendali pasar menolak untuk memangkas kuota produksi. Arab Saudi yang mengontrol OPEC secara tegas menolak mentah-mentah permintaan pemangkasan kuota agar harga bisa pulih.



Saudi Menantang Pasar

Ketika penurunan harga minyak tak kunjung berhenti di tahun 2015, sejumlah negara eksportir minyak sudah mulai cemas. Mereka meminta OPEC memangkas kuota produksinya agar harga kembali stabil. Namun, Arab Saudi yang merupakan motor utama OPEC menolak mentah-mentah permintaan pemangkasan produksi.

Saudi menolak memangkas produksi minyak dengan alasan kontribusi OPEC pada harga tidak besar. Alasannya, negara-negara di luar OPEC dianggap lebih bertanggung jawab dalam hal stabilitas harga minyak. Ketika harga minyak tak kunjung membaik, Arab Saudi dengan angkuh mengatakan mereka akan tetap memompa minyak pada harga berapapun. Sikap Saudi ini dimungkinkan karena biaya produksi minyaknya hanya USD 4-5 per barel.

Pada pertemuan November 2015, OPEC memutuskan untuk mempertahankan produksinya di level 31,5 juta barel per hari. Hasil OPEC itu sepertinya menegaskan keinginan Arab Saudi untuk melakukan stabilitasasi pasar tanpa memangkas produksi. OPEC memilih bertahan pada harga rendah untuk menekan tingkat produksi shale oil di AS.

Strategi Saudi dengan membiarkan harga minyak turun memang berdampak pada produksi minyak AS. Berdasarkan data dari Baker Hughes, jumlah rig yang beroperasi di AS turun dari 1.925 menjadi hanya 771. Tak hanya itu, diperkirakan sekitar 20 perusahaan minyak di AS gulung tikar karena biaya produksi lebih tinggi dari harga. Produksi shale oil AS memang berkurang. Sayangnya, harga ternyata semakin turun hingga di luar dugaan. Saudi bahkan menyebut harga minyak yang sudah mencapai level $30 sebagai hal yang irasional.

“Harga minyak tidak rasional. Saya merasa bahwa pasar sudah melampaui batas rendah dan tidak dapat dicegah lagi harga akan naik,” ujar Khalid al-Falih, chairman Saudi Aramco dalam pernyataannya saat World Economic Forum di Swiss pada Januari 2016.

Derita OPEC

Wajar saja jika Saudi mulai cemas dengan harga minyak yang tak kunjung pulih. Harga minyak yang rendah membuat Saudi kehilangan mata pencaharian utamanya. Saudi bahkan terpaksa menerbitkan surat utang untuk membantu mendanai anggarannya. Untuk pertama kalinya setelah delapan tahun, Saudi menerbitkan surat utang dengan jangka waktu 12 bulan. Hingga tahun 2015 berhasil mendapatkan pendanaan hingga $10 miliar. Saudi juga menaikkan harga BBM, listrik dan air, serta berencana mengenakan pajak pertambahan nilai (PPN).

Saudi bukan satu-satunya negara OPEC yang harus mengeluarkan jurus-jurusnya untuk bertahan menghadapi defisit anggaran akibat rendahnya harga minyak. Negara-negara lain juga bernasib sama. Ada yang lebih buruk kondisinya, seperti Venezuela yang kini diterpa badai krisis ekonomi parah.

Setelah kondisi perekonomian negara-negara anggotanya memburuk, OPEC akhirnya mengambil langkah “damai” dengan memangkas kuota. Harapannya, harga minyak bisa membaik dan menolong perekonomian negara-negara OPEC. Imbasnya tentu saja, konsumen harus membayar harga yang lebih mahal untuk setiap energi fosil yang mereka gunakan.

Baca juga artikel terkait OPEC atau tulisan menarik lainnya Nurul Qomariyah Pramisti
(tirto.id - Ekonomi)

Reporter: Nurul Qomariyah Pramisti
Penulis: Nurul Qomariyah Pramisti
Editor: Nurul Qomariyah Pramisti

DarkLight