Menuju konten utama

Ajaran Agama Baha'i: Apa Itu Hari Raya Naw Ruz yang Diucapkan Menag

Apa itu agama Baha'i, ajarannya, dan mengenal Hari Raya Naw Ruz.

Ajaran Agama Baha'i: Apa Itu Hari Raya Naw Ruz yang Diucapkan Menag
Taman Baha'i di Bahjí, Acre, Israel. Wikipedia/Marco Abrar

tirto.id - Agama Baha'i memperingati Hari Raya Naw Ruz 178 EB pada Maret tahun ini. Menteri Agama Yaqut Kholil Qoumas memberikan ucapan bagi masyarakat Baha'i untuk perayaan ini. Apa itu Hari Raya Naw Ruz?

Menurut situs web Baha'i Center of Washtenaw County, dalam ajaran agama Baha'i, hari raya Naw Ruz diperingati pada 21 Maret setiap tahunnya.

Naw Ruz berasal dari perayaan Zoroaster di Iran kuno dan, hingga hari ini, dirayakan sebagai festival budaya oleh orang Iran dari semua latar belakang agama.

Peringatan Naw Ruz juga telah menyebar ke banyak bagian dunia lainnya, dan dirayakan sebagai hari libur budaya di India, Afghanistan, Tajikistan, Kurdistan Irak, Azerbaijan, Turkmenistan, Uzbekistan dan Kirgistan.

Naw-Ruz berarti "Hari Baru", dirayakan pada hari pertama musim semi. Ini adalah saat kegembiraan dan perayaan, karena kegelapan musim dingin berakhir dan cahaya muncul kembali, bersama kehangatan dan keindahan musim semi.

Bagi agama Baha'i, Naw Ruz juga memiliki makna spiritual yang dalam. Naw Ruz menandai akhir dari 19 hari Puasa Baha'i, yang merupakan periode refleksi dan penyegaran rohani mendalam bagi Baha'i.

Naw Ruz ditahbiskan oleh Baha'u'llah (Baha' Allah) sebagai perayaan "musim semi spiritual" umat manusia: dispensasi Baha'i.

Dispensasi Baha'i dimulai dengan Deklarasi Bab, yang seluruh misinya adalah untuk mempersiapkan dunia bagi seorang Guru Ilahi dengan Pesan yang dianggapnya lebih besar dari pesan-Nya sendiri: Baha'u'llah.

Wahyu Baha'u'llah - saat manusia menerima Ajaran Ilahi melalui Utusan Tuhan -, dalam ajaran Baha'i, disamakan dengan awal musim semi.

Ajaran Agama Baha'i

Tulisan dan kata-kata yang diucapkan dari Bab, Baha'u'llah, dan Abd al-Baha menjadi dasar dari iman agama Baha'i. Keanggotaan dalam komunitas Baha'i terbuka bagi semua orang yang mengaku beriman kepada Baha'u'llah dan menerima ajarannya, demikian dilansir Britannica.

Tidak ada upacara inisiasi, tidak ada sakramen, dan tidak ada pemimpin ritual. Namun, setiap Baha'i berada di bawah kewajiban spiritual untuk berdoa setiap hari; menjauhkan diri sepenuhnya dari narkotika, alkohol, atau zat lain yang mempengaruhi pikiran; mempraktikkan monogami; mendapatkan persetujuan orang tua untuk menikah; dan menghadiri Pesta Sembilan Belas Hari pada hari pertama setiap bulan dalam penanggalan Baha.

Jika mampu, mereka yang berusia antara 15 dan 70 tahun bisa berpuasa 19 hari dalam setahun, tidak makan atau minum dari matahari terbit hingga terbenam.

Pesta Sembilan Belas Hari, awalnya dilembagakan oleh Bab, menyatukan Baha'i di sebuah tempat tertentu untuk berdoa, membaca kitab suci, diskusi tentang kegiatan komunitas, dan menikmati kebersamaan satu sama lain.

Pesta dirancang untuk memastikan partisipasi universal dalam komunitas dan pengembangan semangat persaudaraan dan persekutuan.

Pada awal abad ke-21 ada sembilan rumah ibadah Baha'i: di Australia, Kamboja, Chili, Jerman, India, Panama, Samoa, Amerika Serikat, dan Uganda. Di kuil-kuil tidak ada khotbah; mereka biasanya melakukan pembacaan kitab suci semua agama.

Baha'i menggunakan kalender, yang ditetapkan oleh Bab dan dikonfirmasi oleh Baha'u'llah , di mana tahun dibagi menjadi 19 bulan yang masing-masing terdiri dari 19 hari, dengan penambahan 4 hari kabisat (5 di tahun kabisat).

Tahun dimulai pada hari pertama musim semi, 21 Maret (Nawa Ruz), yang merupakan salah satu dari beberapa hari suci dalam kalender Baha'i.

Baca juga artikel terkait AGAMA BAHAI atau tulisan lainnya dari Dipna Videlia Putsanra

tirto.id - Sosial budaya
Penulis: Dipna Videlia Putsanra