Sekda Kabupaten Merauke, Papua, Daniel Pauta menyebut ada sekitar 60.000 ton beras hasil produksi petani daerahnya yang terancam tidak dapat dijual.

Saat ini, puluhan ribu ton beras itu saat ini masih berada di petani dan berpotensi mengalami penuruan kualitas.

Selama ini, lanjut Daniel, Perum Bulog jadi satu-satunya harapan petani untuk membeli dan menampung beras produksi mereka.

Namun, karena panen tahun ini lebih banyak sementara kuota pembelian Bulog terbatas, hanya sebagian saja beras yang bisa diserap dari petani.

"Perusahaan milik negara itu hanya membeli sesuai kuota yakni sekitar 26 ribu ton," kata Daniel Pauta, Kamis (24/10/2019) seperti dikutip Antara.

Lahan pertanian yang ditanami padi di Kabupaten Merauke sendiri mencapai 59.751 hektare dengan lahan yang dipanen sekitar 58.764 hektare.

Lantaran itu, Pemda Merauke berharap agar Bulog dan perusahaan swasta mau membeli beras petani Merauke sehingga mereka kesulitan dalam memasarkannya.

Menurut Pauta, berdasarkan keterangan Bulog Merauke, rendahnya serapan beras petani disebabkan oleh tingginya biaya angkut atau distribusi yang harus ditanggung oleh perusahaan.

Padahal, sudah ada perusahaan pelayaran yang mau mengangkut dengan biaya sekitar Rp 610/kg dari Merauke ke Jayapura--sedikit lebih mahal daripada biaya angkut dari Makassar ke Jayapura.

Itu pun masih menguntungkan bagi perusahaan lantaran beras dari petani-petani di Merauke juga baru dipanen.

“Belum bisa dipastikan beras tersebut dijual kemana, bila Bulog tetap enggan menampung seluruhnya,” ungkapnya.