Yang Sering Terlupakan: Peran Ayah dalam Tumbuh Kembang Anak

Kontributor: Imma Rachmani, tirto.id - 29 Sep 2022 10:00 WIB
Dibaca Normal 4 menit
Peran penting ayah dalam kehidupan seorang anak sampai usia remaja.
tirto.id - Joshua A. Krisch, penulis di bidang sains dan teknologi, lulusan University of Rockefeller, USA, mencetuskan sebuah istilah yaitu father effect atau efek ayah. Efek ayah ini merupakan istilah tentang manfaat dari kehadiran orang tua, yang tidak meniadakan peran penting ayah. Namun partisipasi ayah yang dimaksud tentu bukan hanya menemani anak menonton televisi. Ada batasan minimum waktu berkualitas yang perlu dipenuhi ayah dalam berpartisipasi dalam tumbuh kembang anak. Untungnya, ayah modern sudah banyak yang melakukan peran ini.

Dalam tulisannya, The Science of Dad and The Father Effect, Krisch menyatakan bahwa peran ayah dimulai dengan kontribusinya dalam pembuahan. Namun, peran ayah bukan semata pendonor sperma, berikut peran penting ayah bagi anak sejak kecil sampai beranjak remaja.

Pentingnya Kehadiran Ayah di Masa Kehamilan

Selama masa kehamilan, ketidakhadiran ayah memberi dampak sangat besar terhadap janin. Riset dari University of South Florida menunjukkan bahwa janin yang tidak mendapat sentuhan dari ayahnya, lebih berisiko lahir prematur atau lahir dengan berat badan lahir lebih rendah, dibanding bayi-bayi yang mendapat sentuhan dan perhatian dari ayahnya semasa di dalam kandungan.

Malahan, bayi-bayi yang tidak pernah mendapatkan kehangatan dari ayah sejak di dalam rahim empat kali berisiko mengalami kematian dalam satu tahun pertama usianya. Pada ibu, komplikasi kehamilan yang sepertinya tidak berkaitan dengan keterlibatan laki-laki, termasuk anemia dan hipertensi, lebih sering terjadi ketika suaminya tidak ada.

Riset kualitatif yang dimuat di jurnal BMC Pregnancy and Childbirth menjelaskan soal ‘laki-laki yang terlibat’, diidentifikasi sebagai ayah biologis si janin, atau kekasih (bukan ayah kandung janin) dari perempuan yang sedang hamil. Bahwa penting ada sosok yang hadir; dapat diakses, siap sedia memahami dan mau belajar tentang kehamilan, dan mau memberi dukungan fisik, emosi dan finansial bagi perempuan yang sedang hamil. Peran ayah dalam masa kehamilan sangat penting untuk kesejahteraan ibu dan bayi. Itu sebabnya kelas-kelas prenatal harus melibatkan para ayah.

Menurut Paul Raeburn, penulis buku berjudul Do Fathers Matter? What Science Is Telling Us About the Parent We've Overlooked (2014), sebelum tahun 1930, para ibu melahirkan di rumah. Setelah itu - dengan pertimbangan kesehatan ibu dan bayi, para ibu melahirkan di rumah sakit atau rumah bersalin. Tahun 1960-an para ayah berhasil memperjuangkan hak untuk mendampingi istri di kamar bersalin di rumah sakit atau rumah bersalin.


Semakin banyak para ayah yang mendampingi istri bersalin, semakin banyak laporan bahwa rasa sakit melahirkan dan permintaan obat untuk mengurangi rasa sakit semakin berkurang. Selain itu, intensitas tangisan para ibu menjadi berkurang pula selama proses melahirkan. Lebih dari itu, kehadiran ayah pada proses kelahiran anak, menumbuhkan ikatan yang kuat antara anak dengan ayah, dan membuat ayah menjadi peduli pada perawatan anak.

Pascapersalinan: Risiko yang Tidak Dilaporkan

Pentingnya kedekatan ayah dan anak dapat diukur dengan cara mengamati apa yang terjadi ketika ayah tidak ada. Menurut Raeburn, 1 dari 10 ayah mengalami depresi pascapersalinan, yang membatasi kemampuan emosi mereka untuk berdekatan dengan bayinya. Gejala depresi pascapersalinan pada ayah termasuk: tiba-tiba menjadi pemarah, mudah tersinggung, motivasi rendah, sakit kepala, gangguan pencernaan, sakit perut, dan sakit otot, gagal fokus, bekerja terlalu keras, atau sebaliknya malas bekerja, menghindari pertemuan, muncul perasaan ingin bunuh diri.

Anak-anak dengan ayah yang mengalami episode depresi pascapersalinan, memiliki kemungkinan delapan kali lebih tinggi dibanding anak lain dalam masalah perilaku, dan 36 kali lebih besar kemungkinan mengalami kesulitan berteman.

Robyn Horsager-Boehrer, MD seorang ginekolog yang tulisannya dimuat di situs UTSouthwestern Medical Center menyatakan bahwa kondisi kesehatan mental orang tua sangat berpengaruh pada kesejahteraan anak. Depresi pascapersalinan pada ayah dikaitkan dengan kurangnya perhatian pada kesehatan bayi - termasuk tidak membawa bayi untuk periksa kesehatannya ke dokter anak.

Psikoterapi diperlukan untuk membantu para ayah pulih dari depresi pascapersalinan. Apabila kedua orang tua sama-sama mengalami depresi pascapersalinan, penting untuk keduanya datang secara bersamaan. Terapi lain seperti massage, olah raga atau akupuntur juga bisa ditambahkan.


Pengaruh Ayah dalam Kehidupan Sosial Anak

Beberapa peneliti dari Universitas Oxford mengunjungi keluarga-keluarga yang memiliki bayi berumur 1 tahun pertama. Mereka menemukan bahwa para ayah yang mempertahankan hubungan jarak jauh dengan bayinya, akan membuat anak-anak di kemudian hari memiliki tingkat yang lebih tinggi perilaku agresif, walaupun ibu sudah mengusahakan pengasuhan sebaik mungkin.

Dari sebanyak 24 riset kuantitatif tentang keterlibatan ayah, seorang peneliti asal Swedia menemukan bahwa anak-anak yang dirawat dan diasuh oleh ayahnya memiliki kecil kemungkinan berperilaku menyimpang saat remaja.

Para ayah sering bertanya-tanya, untuk apa mereka harus mencurahkan waktu dan tenaga untuk bayinya selama beberapa tahun, toh mereka tidak akan ingat. Anak-anak juga tidak terlalu merindukan ayahnya ketika para ayah itu kembali dari bepergian. Krisch mengingatkan bahwa reaksi jangka pendek ini berbeda dengan efek jangka panjang dari keberadaan ayah.

Ketika bayi tumbuh menjadi balita, efek ayah menjadi terasa. Banyak riset juga menunjukkan, keterlibatan ayah dalam tugas sehari-hari seperti menyiapkan makan malam, atau bermain bersama anak, akan sangat bermanfaat bagi anak.

Raeburn juga mengungkapkan penjelasan para ilmuwan tentang anak-anak Amerika Serikat dan Norwegia yang ayahnya bertugas pada Perang Dunia II - yang mengalami kesulitan membangun relasi yang sehat di lingkungannya.


Infografik Bapak
Infografik Bapak. tirto.id/Fuad


Kemampuan Berbicara Anak

Masih menurut Raeburn, dalam perkembangan bicara, peran ayah lebih penting dibanding ibu. Para peneliti melakukan riset tentang peran orang tua dalam perkembangan bahasa di kalangan orang-orang pedesaan yang miskin. Para peneliti ini menemukan bahwa kosakata yang digunakan oleh para ayah untuk membacakan cerita pada bayi mereka yang berumur 6 bulan, bisa memprediksi ekspresi mereka di usia 15 bulan, dan penggunaan bahasa mereka di usia 3 tahun - terlepas dari tingkat pendidikan ibu dan caranya berbicara dengan anak.

Hipotesisnya adalah, meski ibu meluangkan banyak waktu dengan anak, para ibu ini cenderung lebih suka menggunakan kata-kata yang sudah dikenal oleh anak. Sementara para ayah yang merasa kurang nyaman dengan zona nyaman bahasa anak-anaknya, memperkenalkan kosakata yang lebih luas.

Nadya Pancsofar, dalam laporan risetnya "Fathers’ Early Contributions to Children’s Language Development in Families from Low-income Rural Communities" yang dimuat di jurnal National Library of Medicine menyebut, ayah dapat memberikan kontribusi penting untuk mengembangkan bahasa anak dalam 3 tahun pertama usianya, melalui pendidikan dan masukan bahasa.

Aroma Ayah

Bertahun-tahun lamanya para ahli biologi evolusi menemukan jawaban mengapa anak-anak perempuan yang tidak diasuh oleh ayah mengalami kematangan seksual lebih cepat dan berisiko tinggi mengalami kehamilan di usia remaja.

Bruce Ellis dari University of Arizona meneliti keluarga-keluarga yang mengalami perceraian, dan anak-anak perempuan yang sekurangnya 5 tahun terpisah dari ayahnya, sementara kakaknya yang perempuan sempat diasuh oleh ayahnya. Ellis menemukan bahwa anak perempuan yang tidak diasuh oleh ayah mendapatkan mensturasi 11 bulan lebih awal dibanding kakaknya yang sempat diasuh oleh ayah.

Psikolog Sarah Hill dari Universitas Kristen Texas menyatakan keyakinannya kepada Raeburn bahwa ketidakhadiran ayah untuk mengasuh anak perempuannya memberikan pesan pada alam bawah sadarnya: "Pria tidak akan bertahan lama, oleh karena itu, ia perlu mencari pasangan secepatnya". Gen mereka secara efektif mendorong gadis-gadis itu untuk pubertas dini. Efek ini lebih terasa di dalam keluarga di mana ayah yang tidak hadir, tidak hadir secara positif ketika berada di rumah.

Apa sumber dari fenomena ini? Ellis merasa yakin bahwa itu ada peran ‘aroma ayah’. Dalam percobaan dengan binatang ada bukti bahwa paparan yang terus menerus oleh ayah dapat memperlambat pubertas, meski hipotesis itu sebagian besarnya belum diuji pada manusia.

Peran dan partipasi ayah dalam tubuh kembang anak memengaruhi tidak hanya psikologis, kognitif, kemampuan sosial. Ayah harus tahu, bahwa kehadirannya sangat krusial bagi kehidupan anak secara keseluruhan.

Baca juga artikel terkait PERAN AYAH atau tulisan menarik lainnya Imma Rachmani
(tirto.id - Gaya Hidup)

Kontributor: Imma Rachmani
Penulis: Imma Rachmani
Editor: Lilin Rosa Santi

DarkLight