Vaksin Corona "Made in China" dan Sejarah Berdirinya Sinovac

Oleh: Ahmad Zaenudin - 22 Desember 2020
Dibaca Normal 5 menit
Sebelum 2020, Sinovac tengah mengembangkan vaksin untuk Ensefalitis Jepang (infeksi otak), SARS, dan H5N1.
tirto.id - Pada 29 Februari 2020, hampir dua bulan semenjak SARS-CoV-2 alias COVID-19 muncul ke dunia, Chen Wei, jenderal sekaligus pemimpin tim ilmuwan militer Cina, disuntik vaksin Corona. Kala itu, sebagaimana ditulis Jon Cohen dalam artikel berjudul "China's Vaccine Gambit," yang terbit pada Science Magazine vol. 370 (11 Desember 2020), vaksin yang disuntikkan pada tubuh Chen bukanlah vaksin ujicoba, melainkan vaksin betulan.

Masalahnya, karena di akhir Februari itu belum banyak negara yang mengumumkan kasus positif Corona, acara pemberian vaksi Corona pada Chen tak terasa spesial. "Stasiun televisi atau media cetak bahkan tidak memberitakan kejadian bersejarah tersebut," tulis Cohen. Belum lagi pemberitaan People's Daily, corong Partai Komunis Cina, menyatakan bahwa vaksin Corona yang disuntikkan pada Chen adalah berita bohong. Meski demikian, Hou Li-Hua, ilmuwan militer Cina, menegaskan bahwa vaksin tersebut adalah berita benar.

Perjalanan waktu lebih memihak pada pemberitaan People's Daily alih-alih Chen atau Hou. Vaksin Corona yang diberikan pada Chen memang hoaks. Terlebih, tutur Cohen, Amerika Serikat saja baru mengaktifkan Operation Warp Speed senilai USD 10,8 miliar guna mengakselerasi penelitian untuk menemukan vaksin Corona. Vaksin Chen hanya dianggap upaya sebagian kalangan petinggi Cina meredam kekhawatiran sekaligus tuduhan bahwa Cina adalah biang kerok COVID-19.

Meskipun upaya Beijing menciptakan vaksin Corona diawali dengan hoaks, keadaan dalam negeri Tirai Bambu di dunia medis sesungguhnya sangat memungkinkan mereka menciptakan vaksin Corona. Akhirnya, pada November kemarin, perusahaan-perusahaan farmasi Cina melakukan fase ke-3 untuk 5 kandidat vaksin. Bulan ini, empat kandidat vaksin masuk ke titik paling ujung fase tersebut. Satu di antaranya yang dibuat oleh perusahaan bernama Sinovac Biotech telah siap disuntikkan ke masyarakat Indonesia.

Sinovac: Virus Baru, Vaksin Cara Lama

"Pasar kesehatan Cina tengah bersiap lepas landas," tulis Sarah E. Frew dalam studinya berjudul "Chinese Healt Biotech and The Billion-Patient Market" yang terbit pada jurnal Nature Biotechnology Volume 26 Nomor 1, Januari 2008. Frew menyebut industri kesehatan Cina tumbuh 30 persen tiap tahun sejak 2000. Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan rerata pertumbuhan industri kesehatan global yang cuma 19 persen. Masalahnya, jika diperhatikan mendalam, pertumbuhan industri kesehatan Cina hanya berkutat di segmen umum, sedangkan segmen khusus (atau biotech) semisal vaksin, antibodi, hingga obat genetik terbilang kecil. Bioteknologi hanya menyumbang 7,4 persen industri kesehatan Cina.

Sumbangsih bioteknologi pada industri kesehatan Cina memang kecil. Namun, Frew menegaskan bahwa pengaruhnya cukup besar. Beijing Wantai Biological Pharmacy Enterprise dan Shanghai Huaguan Biochip, misalnya, termasuk dua dari sedikit perusahaan farmasi di dunia yang mengembangkan teknologi tes darah guna mendeteksi HIV, Hepatitis B (HBV), Hepatitis C (HCV) dan rotavirus. Dua perusahaan ini menciptakan teknologi untuk dipasarkan di Asia, Afrika, dan Amerika Selatan, negara-negara yang masyarakatnya sukar menjangkau teknologi canggih dari AS dan Eropa karena harga yang tinggi. Tak cuma itu, perusahaan Cina yang disokong pemerintah, semisal Shenzhen SiBiono GeneTech dan Sunway Biotech, mengembangkan teknologi terapi baru di bidang gen dan sel punca. Salah satu produknya yakni Gendicine, produk yang menginjeksi adenovirus-p53 pada manusia sebagai bagian dari pengobatan Kanker Kepala dan Leher.

Perusahaan Cina lainnya yang berkutat di segmen biotecknologi adalah Sinovac Biotech.

Keberadaan Sinovac, tutur Frew, dapat dilacak hingga awal dekade 1980-an. Kala itu, Cina sedang ditimpa musibah bernama Hepatitis A. Banyak warga Cina meninggal dunia. Di kota Shanghai saja, lebih dari 300.000 jiwa jadi korban. Seorang dokter bernama Weidong Yin pun kesal pada kenyataan bahwa sesungguhnya vaksin Hepatitis A telah ada, tetapi sukar dijangkau sebagian besar masyarakat Cina karena harga yang mahal. Vaksin harus didatangkan dari luar negeri dan tidak ada padanannya di dalam negeri. Saking kesalnya, Weidong mendirikan lembaga riset sendiri. Semenjak 2001, berkat dukungan dana dari China Bioway Biotech Group dan Peking University, Sinovac Biotech terbentuk.

Salah satu produk pertama Sinovac merupakan vaksin Hepatitis A bernama Healive yang diciptakan ilmuwan-ilmuwan Cina pada 1999. Sinovac membanderol vaksin tersebut seharga 94 yen, setara dengan USD 12. Ini harga yang paling murah dibandingkan produk sejenis. Usai merilis vaksin Hepatitis A, Sinovac merilis produk kedua bernama Bilive, vaksin untuk menyembuhkan Hepatitis A dan Hepatitis B. Pada 2006, mereka merilis vaksin influenza bernama Anflu.

Vaksin-vaksin buatan Sinovac telah menggenggam sertifikat cGMP dari otoritas Cina. Sebelum 2020, Sinovac tengah mengembangkan vaksin untuk Ensefalitis Jepang (infeksi otak), SARS, dan H5N1.

Mengapa perusahaan farmasi yang belum genap berusia 20 tahun dapat memiliki portofolio produk yang kuat? Sederhana, Sinovac didukung oleh kekuatan riset yang cukup mumpuni. Masih merujuk studi Frew, dari 260 karyawan yang dimilikinya, 80 di antaranya merupakan periset. Kerja riset yang dilakukan Sinovac didukung dana minimal 10 persen dari pendapatan. Agar riset yang dihasilkan lebih mendalam, Sinovac membuka pendanaan dari banyak pihak, termasuk Pemerintah Cina yang saban tahun menyalurkan uang senilai USD 7 juta untuk perusahaan ini.

Tak hanya itu, Sinovac bekerjasama dengan lembaga riset lain, termasuk Laboratory Animal Science, Chinese Academy of Medical Science, National Institute for the Control of Pharmaceutical and Biological Products, National Institute for Viral Disease Control and Prevention, National Institute for Epidemic Disease, dan Chinese Center for Disease Control and Prevention, yang semuanya berasal dari Cina. Di luar Cina, Sinovac bekerjasama dengan University of Hong Kong, LG Life Sciences, Glovax CV, bahkan GlaxoSmithKline, salah satu perusahaan farmasi terkemuka dunia.

Karena kerjasama riset ini, klaim Weidong Yin, Sinovac hanya ingin menghadirkan produk berkualitas. "Saya ingin memastikan setiap orang memperoleh vaksin berkualitas tinggi, sama seperti yang diperoleh masyarakat AS," katanya.

Infografik Jenis Vaksin
Infografik Jenis-Jenis Vaksin. tirto.id/Quita


Lalu muncullah COVID-19.

Akhir November lalu, dunia yang terpuruk akibat pandemi Corona dibuat gembira oleh perusahaan bernama Moderna, Pfizer (asal AS) dan BioNTech (asal Jerman). Perusahaan-perusahaan tersebut mengabarkan vaksin Corona yang mereka kembangkan memiliki efektivitas mencapai 95 persen, usai melewati uji coba fase ke-3 alias babak yang paling krusial dalam pengembangan vaksin karena langsung diujicobakan pada manusia. Cina tentu tak mau ketinggalan.

Pada waktu hampir bersamaan, muncul empat vaksin "made in China" yang siap disuntikkan untuk menghentikan pandemi Corona. Dua vaksin di antaranya dikembangkan BUMN Cina, China National Pharmaceutical Group alias Sinopharm, dari dua markas mereka: Beijing dan Wuhan--episentrum Corona. Vaksin ketiga lahir dari tangan CanSino Biologics, hasil kerjasama dengan tim riset militer Cina. Terakhir, tentu, buatan Sinovac.

Vaksin Corona buatan Sinovac, CoronaVac, mulai dikembangkan semenjak Corona melanda seluruh dunia. CoronaVac masuk uji coba fase ke-1 pada pertengahan April dengan 144 sukarelawan. Fase ke-2 dilakukan pada pertengahan Mei, melibatkan lebih dari ribuan sukarelawan, termasuk 1.620 dari Indonesia. Hasilnya, sebagaimana tertuang dalam publikasi The Lancet berjudul "Safety, Tolerability, and Immunogenicity of an Inactivated SARS-CoV-2 Vaccine in Healthy Adults Aged 18–59 Years: A Randomised, Double-blind, Placebo-controlled, Phase 1/2 Clinical Trial" (November 2020), CoronaVac "menimbulkan respon humoral terhadap SARS-CoV-2 yang baik dan dapat ditoleransi" serta tidak menimbulkan "reaksi parah" pada sukarelawan, atau dengan kata lain, "menjanjikan". Tak lama berselang, CoronaVac memasuki ujicoba fase ke-3.

Namun, jika Moderna, Pfizer, dan BioNTech telah mempublikasikan hasil ujicoba fase ke-3, Sinovac beserta kandidat vaksin "made in China" lainnya belum. Sebagaimana dilaporkan Lili Pike untuk Vox, Sinovac baru sebatas mengklaim keberhasilan ujicoba tahap awal fase ke-3.

Yang menarik, meskipun sama-sama bertitel "kandidat vaksin Corona", metode yang digunakan untuk menciptakan vaksin antara perusahaan Barat dan Cina berbeda.

Suh-Chin Wu, dalam studi berjudul "Progress and Concept for COVID-19 Vaccine Development" yang terbit pada Biotechnology Journal edisi Juni 2020, menyebut bahwa isolat virus SARS-CoV-2 termasuk ke dalam genus Betacoronavirus, bagian dari keluarga Coronaviradae. Isolat ini merupakan virus RNA untai, yang mengandung genom sebesar 30 kb dengan 14 open reading frames--kerangka dari molekul DNA si virus yang mengandung asam amino yang bertanggung jawab untuk menyediakan protein replikasi dan struktural untuk virus. Dalam open reading frames tersebut, terdapat empat protein utama, yakni spike (S), membrane (M), envelope (E), dan nucleocapsid (N). Secara sederhana, open reading frames ini bertanggung jawab untuk melindungi sekaligus menduplikasi virus.

Protein S adalah protein fusi transmembran yang memainkan peran penting dalam menembus inang dan memulai infeksi (pada manusia atau hewan). Tanpa protein S, SARS-CoV-2 tidak akan pernah dapat berinteraksi dengan sel inang. Maka, tulis Suh-Chin, protein S adalah target utama pengembangan vaksin.

Pada kandidat vaksin yang dikembangkan Barat, peneliti menggunakan RNA duta (messenger RNA alias mRNA)--suatu RNA (molekul polimer yang terlibat dalam berbagai peran biologis dalam mengkode, dekode (decoding), regulasi, dan ekspresi gen) yang memberikan petunjuk kepada sel (manusia atau hewan) untuk memasang pertahanan terhadap virus yang tidak ada di sana. Katakanlah, ini seperti Microsoft langsung memasangkan Windows Defender secara default, meskipun si komputer belum terserang virus. Sementara itu, vaksin yang dikembangkan Sinovac, juga perusahaan Cina lainnya, memilih mengembangkan vaksin dengan cara "inactivated Covid". Vaksin Corona dibuat secara kimiawi dengan menonaktifkan seluruh partikel virus, khususnya protein S. Dalam bahasa sederhana, vaksin Corona buatan Sinovac menyuntikkan versi mati dari virus Corona untuk menghasilkan kekebalan. Secara teori, vaksin semacam ini dapat menghasilkan respons antibodi yang lebih luas karena mengandung set lengkap protein virus, bukan satu protein tertentu.

Tentu, karena kandidat vaksin Corona "made in China" memilih menyuntikkan versi mati dari Corona, kekhawatiran utama adalah vaksin SARSCoV-2 yang tidak aktif dapat memicu penyakit yang lebih parah, yang dikenal sebagai “penyakit pernapasan yang ditingkatkan”, khususnya pada orang yang sebelumnya positif terkena Corona. Ini terjadi karena pada dasarnya jika vaksin memicu antibodi yang tidak efektif, vaksin dapat membentuk kompleks imun yang menyumbat paru-paru.

Meskipun memiliki efek samping yang kurang sedap, hingga hari ini tercatat ada empat negara yang siap menyuntikkan warganya dengan vaksin buatan Sinovac, yakni Brazil, Chili, Turki, dan Indonesia. Secara umum, vaksin-vaksin ini memang lebih menyasar negara-negara Asia. Resty Woro Yuniar, dalam laporannya untuk South China Morning Post, menyebut bahwa disebarkannya vaksin "made in China" ke Indonesia, dapat dilihat sebagai unjuk "soft power" Cina. Bagi Cina, tulis Resty, "memenangkan negara terbesar di Asia Tenggara dengan populasinya sebesar 270 juta akan menempatkan Cina di jalan menuju kemenangan di wilayah yang sudah menjadi pusat perjuangan antara Washington dan Beijing, yakni Laut China Selatan dan wilayah Mekong".

Bagi Cina, Indonesia adalah "kunci". Sebagai kekuatan terbesar Asia Tenggara, Cina dapat menjadikannya pintu untuk mengajak Filipina, Malaysia, Vietnam, Laos, Kamboja, Thailand, dan Myanmar untuk turut menggunakan vaksin "made in China".

Baca juga artikel terkait VAKSIN CORONA atau tulisan menarik lainnya Ahmad Zaenudin
(tirto.id - Kesehatan)

Penulis: Ahmad Zaenudin
Editor: Windu Jusuf
DarkLight