The Crabs, Band Seumur Jagung yang Digawangi Anak Soeharto

Ilustrasi Poster Band The Crabs. tirto.id/Fuad
Oleh: Petrik Matanasi - 23 November 2020
Dibaca Normal 3 menit
Riwayat bandnya putra Soeharto menjajal peruntungan di skena sweet sound era 1970-an. Tidak bertahan lama ditinggal personelnya berbinisnis.
Jauh sebelum kenal Mayangsari, Bambang Trihatmodjo sudah lama sekali bergaul dengan musisi. Tidak banyak yang tahu, Bambang pernah jadi anak band di masa mudanya. Majalah Aktuil (nomor 77, 6 Juli 1971) menyebut putra ketiga Soeharto itu merupakan leader dan bassist dari grup musik The Crabs.

Ketika Aktuil memberitakannya, band ini baru saja berubah formasi. Beberapa personelnya dikabarkan hengkang dan cabut ke luar negeri. Kala itu, bermusik di luar negeri adalah hal biasa bagi anak band di Indonesia.

Meski digawangi seorang anak presiden, majalah Aktuil rupanya tidak kikuk mengkritik The Crabs. Redaksinya menganggap band ini masih malu-malu kala naik panggung. Seorang anggotanya disebut kerap main di sisi panggung yang pencahayaannya redup. Jika biasanya anak band suka beraksi untuk memikat penonton, dia tentu saja tidak mendapat perhatian dari para penonton yang apatis.

Selain malu-malu, mereka kurang berani menaikkan volume amplifier sehingga musiknya hambar. Gitar pengiring tidak terdengar, gitar melodi kurang mencolok, suara organnya entah ke mana, juga suara bass dan drumnya hanya sayup-sayup.

Namun, si pemberi kritik berusaha memaklumi The Crabs yang kurang pengalaman itu. Redaksi menyebut masih ada waktu, setidaknya satu setengah tahun, untuk lebih matang dalam bermusik. The Crabs tetap menyimpan potensi untuk menjadi salah satu band bergenre sweet sound di skena Jakarta.

Penampilan personel The Crabs dianggap cukup manis untuk ukuran anak band pada awal 1970-an. Di masa itu, anak band kebanyakan tampil gondrong, alih-alih klimis. Maka itu, si pengkritik menyarankan agar para personel The Crabs memanjangkan rambutnya untuk beradaptasi dengan tren.

Mengingat salah satu anggotanya adalah anak presiden, redaksi Aktuil jug menyebut tidak perlu sampai segondrong John Lennon atau Jimi Hendrix. Terlalu panjang tentu tidak bagus. Terlebih, Tien Soeharto—ibunya Bambang—tidak suka rambut gondrong.

Aktuil tak hanya menyoroti Bambang, tapi juga pemain lain. Kemampuan Tommy sebagai gitaris merangkap vokalis dianggap cukup mumpuni. Hanya saja, dia perlu lebih berani melantangkan suaranya. Aling alias Mohamad Tachril Sapiie si penggebuk drum tampak masih dalam tahap mengembangkan permainannya. Mereka semua sebaya dengan Bambang yang kelahiran Solo, 23 Juli 1953.

Aktuil mencatat The Crabs bermarkas di Jalan Cendana 15 Jakarta—tidak jauh dari kediaman keluarga daripada Soeharto. Para penggemar The Crabs bisa mengirimkan surat untuk pujaannya ke alamat itu. Aktuil dengan agak kocak berpesan, “Untuk surat cinta lebih baik berhati-hati karena salah-salah bisa terbaca oleh Pak Harto.”


Rekaman

Kehadiran Bambang di The Crabs mengingatkan orang pada Guntur Sukarnoputra yang juga dikenal sebagai musikus. Guntur muda aktif di band Aneka Nada. Tapi, beda dari Guntur yang memang serius bermusik, ketertarikan Bambang pada musik putus setelah dirinya sekolah ke luar negeri.

Bambang lalu terjun ke dunia usaha setelah menyelesaikan pendidikannya. Meski ditinggal Bambang sebagai pencabik bass, The Crabs jalan terus. Mereka bahkan berhasil masuk dapur rekaman kemudian. Dua album The Crabs dirilis oleh label musik Republic Manufacturing Company (Remaco) pimpinan Eugene Timoty.


Formasinya lengkap The Crabs kala itu terdiri dari Ade Anwar di posisi vokal dan drumer, Frieke Supit sebagai pembetot bass, Tommy memegang keyboards, dan Dady Amiarsa sebagai gitaris. Di sampul depan album mereka tertulis, “The Crabs asuhan Bambang Tri S.”

Album pertama The Crabs dirilis pada 1973. Album debut itu diisi 10 lagu dengan nuansa yang hangat, ceria, dan manis. Tema cinta memang amat dominan dalam album ini. Lagu Duri Dan Cinta ciptaan Dady Amiarsa bisa dibilang lagu andalan The Crabs yang masih diingat orang hingga kini. Aura romantis muncul pula di lagu Kata Cinta.

Lain itu, ada pula lagu-lagu yang cocok didendangkan saat nongkrong seperti Semua Gembira, Gadis Ayu, dan Gadis Berita. Di nomor Jalan Hidupku yang bernuansa sedih, The Crabs seakan mengajak pendengarnya sedikit berefleksi. Mereka juga menghadirkan lagu bernada patriotik di nomor Hey Hey Hayo Hayo atau pujian untuk tanah air di lagu Tampak Siring.

Tak hanya membawakan lagu ciptaan sendiri, The Crabs juga mengaransemen ulang lagu Sebelum Kau Pergi dan Sepanjang Jalan Kenangan ciptaan Is Haryanto. Dua lagu itu sebelumnya populer kala dinyanyikan oleh Tetty Kadi.

Di album kedua yang di rilis pada 1975, The Crabs masih mengulang resep lagu yang sama. Nomor-nomor baru yang mereka sajikan di antaranya Hilang Permataku, Cinta Remaja, Selamat, Oh Mengapa, Kenangan Abadi, Bali, Laguku Lagumu, dan Jangan Datang Lagi.

Lagu andalan The Crabs di album kedua ini adalah Hilang Permataku. Lagu ini nomor populer di radio-radio pada pertengahan 1970-an. Setidaknya selama Orde Baru tegak, lagu patah hati ini pun tetap masuk nomor yang kerap diminta pendengar radio di sesi tembang kenangan.

Reffrain lagu ini ditulis dengan sederhana sehingga mudah membangkitkan kesan nostagia bagi mereka yang mengalami masa muda di era 1970-an.

“Hilang permataku.

Hilang harapanku

yang kupupuk sejak dulu kala.

Aku tak mengerti mengapa terjadi

pada saat aku menderita.”




Tidak Bertahan Lama

Meski diproduksi dan rilis pada era 1970-an, musik The Crabs terdengar seperti musik era 1960-an. Tidak seperti namanya yang terdengar sangar, The Crabs memilih fokus di jalur sweet sound. Padahal, pada pertengahan 1970-an, insan musik Indonesia sedang getol menggubah musik yang berkesan progresif. Namun, The Crabs memilih jalannya sendiri.

Lagu-lagu mereka bernuansa manis, sekali pun bicara tentang patah hati. Itu adalah sajian yang cocok untuk kelas menengah era Orde Baru yang terobsesi dengan stabilitas dan kemapanan. Lebih baik manis di zaman Orde Baru daripada membuat musik bermutu tapi tak laku.

Tapi, musik yang laku saja rupanya tak cukup untuk bertahan di industri musik. The Crabs nyatanya berumur pendek. Bambang tentu sibuk dengan bisnisnya. Bersama Aling, Bambang sibuk membangun Bimantara. Semua orang tahu belaka bahwa Bambang kemudian dikenal sebagai salah satu pengusaha terkaya dan terkenal di era bapaknya berkuasa.

Aling sebagai mitra Bambang juga ikut kaya raya. Sementara itu, Ade Anwar kemudian main gendang dan bernyanyi untuk orkes Pancaran Sinar Petromaks. Belakangan dia juga jadi politisi di Partai Nasional Demokrat (Nasdem).

Bicara soal popularitas, The Crabs masih kalah dari The Mercy’s, Panbers, D’lloyd, apalagi Koes Plus. Mereka adalah para titan di skena sweet sound. Lagu orisinal mereka yang paling populer dan awet dalam ingatan nisbi hanya Hilang Permataku.


Baca juga artikel terkait GRUP BAND atau tulisan menarik lainnya Petrik Matanasi
(tirto.id - Musik)

Penulis: Petrik Matanasi
Editor: Fadrik Aziz Firdausi
DarkLight