Menuju konten utama
Periksa Fakta

Teori Konspirasi di Balik Permainan Latto-Latto

Menurut unggahan Instagram Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud), latto-latto berasal dari Bahasa Bugis.

Teori Konspirasi di Balik Permainan Latto-Latto
Header Periksa Fakta Teori Konspirasi di Balik Permainan Latto-Latto. tirto.id/Gery

tirto.id - Permainan latto-latto belakangan tengah digandrungi masyarakat. Video orang-orang yang menjajal mainan dengan dua bola pemberat dan tali itu pun meluas di media sosial.

Presiden Joko Widodo bahkan tak ketinggalan. Dokumentasi yang diabadikan MedcomId di kanal YouTube akhir Desember lalu menunjukkan keikutsertaan Jokowi mencoba permainan latto-latto saat kunjungan kerjanya ke Provinsi Jawa Barat. Kunjungan tersebut didampingi Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil, yang terlihat turut serta memainkan latto-latto.

Di balik ketenarannya, unggahan teori konspirasi terkait latto-latto pun mulai tersebar. Akun Instagram Katakitaig (tautan) contohnya, menyebut arti kata "latto-latto" sebagai “Aku Yahudi.” Bentuk latto-latto yang menyerupai segitiga saat dimainkan juga diklaim melambangkan Freemason dan Illuminati—yakni sebuah kelompok rahasia beranggotakan kalangan elit yang konon berusaha menguasai dunia.

Periksa Fakta Permainan Latto-Latto

Periksa Fakta Teori Konspirasi di Balik Permainan Latto-Latto. (Sumber: Facebook)

Lewat akun Instagramnnya, akun itu menyebarkan tangkapan layar pesan terusan WhatsApp yang diberi takarir “Hati hati.” Gambar ini telah disukai 2.287 orang dan mendapatkan 751 komentar sejak diunggah pada 8 Januari 2023 hingga Selasa (10/1/2023).

Lantas, bagaimana fakta sebenarnya?

Penelusuran Fakta

Tim riset Tirto mencoba menyusuri sumber kredibel mengenai permainan latto-latto ini. Menurut hasil wawancara Detik dengan Dosen Sastra Daerah Bugis-Makassar dari Universitas Hasanuddin (Unhas) Dr. Firman Saleh, “latto” adalah bahasa Makassar yang berarti bunyi yang dikeluarkan dua benda yang berbenturan.

Sementara pengulangan kata latto-latto menggambarkan bunyi yang berulang dari permainan tersebut, dengan kata lain ia sama sekali tak berhubungan dengan Yahudi.

Sebuah unggahan dalam Instagram resmi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) menyatakan latto-latto sendiri berasal dari Bahasa Bugis. Latto-latto disebut sebagai salah satu jenis permainan tradisional yang sudah ada sejak 1990-an.

Selain dinamai latto-latto, mainan ini juga disebut nok-nok lantaran mengeluarkan bunyi “nok nok nok” ketika dimainkan. Meski begitu, masih merujuk unggahan Kemendikbud, latto-latto atau nok-nok dikatakan bukan permainan asli Indonesia. Mainan ini diperkirakan berasal dari Eropa dan Amerika Serikat yang muncul di pengujung 1960-an dan kian populer pada awal 1970-an.

Di Eropa permainan ini dikenal dengan sebutan clackers, click-clacks, knockers, ker-bangers, dan clankers. Sementara di Negeri Paman Sam ada yang menyebutnya Newton’s yo yo, selain juga disebut dengan clackers ball.

Menukil artikelQuartz bertanggal 24 Desember 2016, clacker itu disebut memiliki desain yang mirip dengan senjata koboi Argentina untuk menangkap guanaco atau hewan yang terlihat seperti Llama.

Ratusan clacker disebut telah terjual di seluruh dunia pada awal tahun 1970-an. Popularitasnya pada periode itu bahkan telah menjangkau penduduk sebuah provinsi kecil di Italia Utara bernama Calcinatello yang mengadakan kompetisi tahunan untuk penggemar clacker.

Namun permainan ini punya riwayat pelarangan lantaran ia bisa pecah dan berdampak pada kebutaan mata, masih dari Quartz. Pada tahun 1971, clacker ditarik dari pasaran setelah Food and Drug Administration (FDA) AS menetapkan standar keamanan baru untuk produsen yang mencakup pengujian preskriptif dan pencatatan yang ketat.

Jelas clacker bukanlah makanan atau obat. Akan tetapi di AS, mengatur keamanan mainan pada awalnya merupakan tugas FDA. Badan pengawas itu memiliki wewenang melalui Undang-Undang Tahun 1966 untuk melarang mainan yang mengandung "bahaya bahan kimia, mudah terbakar, atau radioaktivitas.”

Sementara menyoal teori konspirasi Iluminati yang tersebar, dilansir Vox, seorang Ilmuwan Politik di University of Miami, Florida, AS, Joseph Uscinski menyatakan orang-orang akan menggunakan istilah seperti “Iluminati” untuk mendefinisikan apa pun yang tidak mereka sukai yang mungkin bertentangan dengan nilai-nilai mereka.

Dalam pengertian sejarah, istilah "Illuminati" mengacu pada Illuminati Bavaria, yakni sebuah perkumpulan rahasia yang beroperasi hanya selama satu dekade, dari tahun 1776 hingga 1785. Organisasi ini didirikan oleh Adam Weishaupt, seorang profesor hukum Jerman yang sangat meyakini cita-cita “pencerahan” dan berusaha untuk mempromosikan cita-cita itu di antara para elit.

Weishaupt ingin mendidik anggota Illuminati dalam nalar, filantropi, dan nilai-nilai sekuler lainnya sehingga mereka dapat mempengaruhi keputusan politik ketika mereka berkuasa. Kelompok itu sempat tumbuh dan kemudian bergabung dengan Freemason.

Maka, meski sudah tidak ada lagi, banyak orang masih memiliki keyakinan paranoid tentang tujuan ambisius kelompok Iluminati mengenai kekuasaan.

Drajat Tri Kartono selaku Sosiolog dari Universitas Negeri Sebelas Maret (UNS) pun punya penjelasan serupa, bahwa adanya teori konspirasi ini merupakan bentuk kecemasan sekelompok orang atau rasa traumatik dunia terkait kekuatan-kekuatan baru yang mampu mengendalikan dunia.

"Itu selalu dijadikan traumatik dunia bahwa ada kekuatan-kekuatan tersembunyi dan mengorganisir secara diam-diam, kemudian akan berbalik menguasai dunia," kata Drajad, seperti dinukil dari Kompas.com, Minggu (8/1/2022).

Kesimpulan

Berdasarkan penelusuran fakta yang telah dilakukan, menurut unggahan Instagram Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud), latto-latto berasal dari Bahasa Bugis. Dosen Sastra Daerah Bugis-Makassar dari Universitas Hasanuddin (Unhas) Dr. Firman Saleh menjelaskan arti “latto” adalah bunyi yang dikeluarkan benturan dua benda.

Sementara pengulangan kata latto-latto menggambarkan bunyi yang berulang dari permainan tersebut, dengan kata lain ia sama sekali tak berhubungan dengan Yahudi.

Dengan demikian narasi tentang arti latto-latto sebagai “Aku Yahudi” bersifat salah dan menyesatkan (false & misleading).

Baca juga artikel terkait PERIKSA FAKTA atau tulisan lainnya dari Fina Nailur Rohmah

tirto.id - Sosial budaya
Penulis: Fina Nailur Rohmah
Editor: Farida Susanty