Menuju konten utama

Tema Hari Janda Internasional 2023, Sejarah, Tujuan Peringatan

Sejarah dan tema peringatan Hari Janda Internasional 2023. 

Tema Hari Janda Internasional 2023, Sejarah, Tujuan Peringatan
Seorang wanita janda berumur 55 tahun. Tirto.id/Andrery Gromico

tirto.id - Hari Janda Internasional akan jatuh pada Jumat, 23 Juni 2023. Tahun ini, adalah peringatan yang ke-13 sejak peringatan pertamanya diresmikan oleh United Nations atau Perserikatan Bangsa-bangas (PBB) pada tahun 2011 lalu.

Melansir laman PBB, peringatan Hari Janda Internasional didedikasikan untuk menyuarakan pengalaman para janda dan untuk menggalang dukungan yang mereka butuhkan.

Tema Hari Janda Internasional atau International Widows' Day adalah "Invisible Women, Invisible Problems" atau "Wanita Tak Terlihat, Masalah Tak Terlihat".

Pada Hari Janda Internasional, 23 Juni, lihatlah beberapa masalah yang mempengaruhi para janda di seluruh dunia dan apa yang harus dilakukan untuk melindungi dan memajukan hak-hak mereka.

Hari Janda Internasional adalah kesempatan untuk bertindak dalam mencapai hak-hak dan pengakuan penuh bagi para janda.

Hal ini termasuk memberikan informasi kepada mereka tentang akses ke bagian yang adil atas warisan, tanah, dan sumber daya produktif; pensiun dan perlindungan sosial yang tidak didasarkan pada status perkawinan saja; pekerjaan yang layak dan upah yang setara; serta kesempatan pendidikan dan pelatihan.

Memberdayakan para janda untuk menghidupi diri mereka sendiri dan keluarga mereka juga berarti mengatasi stigma sosial yang menciptakan pengucilan, dan praktik-praktik diskriminatif atau berbahaya.

Selain itu, Pemerintah harus mengambil tindakan untuk menegakkan komitmen mereka dalam menjamin hak-hak para janda sebagaimana tercantum dalam hukum internasional, termasuk Konvensi Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi terhadap Perempuan dan Konvensi Hak Anak.

Bahkan ketika hukum nasional ada untuk melindungi hak-hak para janda, kelemahan dalam sistem peradilan di banyak Negara membahayakan bagaimana hak-hak para janda dipertahankan dalam praktiknya dan harus diatasi.

Kurangnya kesadaran dan diskriminasi oleh para pejabat peradilan dapat menyebabkan para janda tidak menggunakan sistem peradilan untuk mencari reparasi.

Program dan kebijakan untuk mengakhiri kekerasan terhadap janda dan anak-anak mereka, pengentasan kemiskinan, pendidikan dan dukungan lain untuk para janda dari segala usia juga perlu dilakukan, termasuk dalam konteks rencana aksi untuk mempercepat pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan.

Dalam situasi pascakonflik, para janda harus dilibatkan untuk berpartisipasi penuh dalam proses pembangunan perdamaian dan rekonsiliasi untuk memastikan bahwa mereka berkontribusi pada perdamaian dan keamanan yang berkelanjutan.

Sejarah Hari Janda Internasional

Sebelum diresmikan oleh PPB, peringatan Hari Janda Internasional sudah diperingati sejak tahun 2005 oleh Loomba Foundation.

Seperti ditulis National Today, Rajinder Loomba, yang merupakan anggota House of Lords di Inggris, mendirikan Loomba Foundation untuk menangani masalah yang dihadapi seorang perempuan selama menjadi janda di negara-negara berkembang.

Rajinder terinspirasi untuk memulai yayasan ini setelah menyaksikan perjuangan yang harus dilalui ibunya saat menjadi janda di usia 37 tahun pada tahun 1954.

Setelah peluncurannya pada tahun 2005, Loomba Foundation memimpin kampanye global selama lima tahun untuk mendapatkan pengakuan dari PBB. Hasilnya, Majelis Umum PBB membuat keputusan dengan suara bulat untuk mengadopsi Hari Janda Internasional sebagai Hari Aksi Global tahunan.

Karena kehilangan orang yang dicintai dalam kapasitas apa pun merupakan hal yang sulit dan traumatis, hari ini bertujuan untuk memastikan bahwa para janda di seluruh dunia diberikan dukungan yang mereka butuhkan untuk melewati masa-masa yang sangat sulit itu.

Karena di banyak negara, orang-orang, terutama perempuan yang menjadi janda juga menemukan diri mereka dalam situasi di mana mereka tidak mendapatkan hak mereka untuk mendapatkan warisan.

Ada juga budaya di berbagai belahan dunia yang menganggap janda sebagai orang yang dikutuk atau dikaitkan dengan praktik sihir. Pola pikir yang salah ini memisahkan mereka dari komunitas mereka dan bahkan dari anak-anak mereka.

Meskipun tidak ada seorang pun yang ingin atau bahakan membayangkan kematian pasangannya di masa depan, sangat penting bagi kita semua untuk mempersiapkan diri menghadapi kejadian yang tidak menguntungkan dan tak terduga, dan yang terpenting, mendukung mereka yang membutuhkan.

Baca juga artikel terkait AKTUAL DAN TREN atau tulisan lainnya dari Balqis Fallahnda

tirto.id - Sosial budaya
Kontributor: Balqis Fallahnda
Penulis: Balqis Fallahnda
Editor: Dipna Videlia Putsanra