Steven Sasson, Penemu Kamera Digital yang Karyanya Dibuang Kodak

Oleh: Ahmad Zaenudin - 3 Februari 2018
Dibaca Normal 3 menit
Steven Sasson berhasil menciptakan konsep kamera digital pada 1975. Sayangnya, temuan itu diabaikan para petinggi Kodak.
tirto.id - Steven Sasson baru berusia 24 tahun ketika menciptakan sebuah temuan penting yang akan menjadi tonggak dalam dunia fotografi modern di abad ke-20. Pada 1975, ia mencoba membuat mesin Rube Goldberg, alat yang menjalankan tugas sederhana tetapi dengan teknik fotografi yang rumit.

Mesin Rube Goldberg ciptaan Sasson berbentuk kamera. Saat ini barangkali mesin itu sebesar microwave dengan bobot 4 kg. Karyanya membuahkan nomor paten US4131919A “Electronic Still Camera" pada 1977. Kamera tersebut merupakan bagian dari tugasnya saat menjadi karyawan Kodak di bagian Applied Electronics Research Centre.

Berbekal kamera itu, Sasson kemudian masuk ke dalam ruang pertemuan yang telah terisi petinggi-petinggi Kodak untuk memulai mendemonstrasikan hasil kerjanya.

“Perangkat ini membutuhkan waktu 50 milidetik untuk menangkap gambar, tapi perlu 23 detik untuk menyimpannya pada kaset,” kata Sasson dengan percaya diri dikutip dari The New York Times.

“Saya akan mengeluarkan kaset itu, menyerahkannya ke asisten lalu memasukkannya ke perangkat pemutar. Sekitar 30 detik kemudian, muncul gambar hitam putih ukuran 100 kali 100 piksel,” tambahnya.

Sayangnya, para petinggi Kodak tak terkesan dengan ciptaan Sasson kala itu. Kodak saat itu memang berdiri tegak sebagai perusahaan yang cukup dominan di dunia fotografi global. Produk konvensional seperti kamera, lampu flash, dan film mampu mereka produksi.


“Teknologi cetak telah hidup bersama kami selama lebih dari 100 tahun, tak ada siapapun yang mengeluh tentang cetak. Selain itu, cetak juga murah. Mengapa orang-orang kemudian menginginkan melihat gambar mereka melalui televisi?” kata petinggi Kodak saat itu.

Meski ditolak petinggi Kodak, karya Sasson di kemudian hari menjadi konsep awal apa yang disebut sebagai fotografi digital.

Sebelum Temuan Penting Sasson

Michael Shamiyeh dalam bukunya berjudul “Driving Desired Futures: Turning Design Thinking into Real Innovation (2014)” menyebut Sasson sebagai sosok yang serba ingin menciptakan sesuatu. Sasson kecil yang tinggal di Bay Ridge, Brooklyn, New York, AS, sering melakukan percobaan ilmiah. Bermain-main dengan bubuk mesiu ataupun menjadi operator radio amatir jadi pengalaman berharganya. Salah satu titik yang membuat ia tertarik dengan dunia mekanik adalah saat antena radio miliknya menginterferensi sinyal TV milik tetangganya.



Untuk memuaskan hasrat bermain-main dengan perangkat elektronik, Sasson muda sering mengumpulkan bagian-bagian elektronik dari TV tua yang dibuang pemiliknya. Dengan cara itu, ia mengenal transistor, integrated circuit, dan komponen elektronik lainnya.

Di masa-masa libur sekolah, Sasson diketahui pernah bekerja di beberapa tempat. Ia sempat bekerja sebagai runner, istilah untuk merujuk pada pekerja yang ditugaskan mengantarkan dan menyerahkan dokumen atau sertifikat antar broker di Wall Street.

Sasson juga menggali ilmu elektrik, mekanikal dan melakukan percobaan-percobaan ilmiah di Brooklyn Technical High School, sebagai tempat menimba ilmu yang terkenal melahirkan siswa-siswa yang tembus di universitas-universitas teknik terbaik di AS. Sasson akhirnya masuk Rensselaer Polytechnic Institute. Di sana ia memperoleh gelar sarjana dan master di bidang teknik elektrik.

Pada 1973, di tengah euforia anak-anak muda AS yang ingin mengabdi pada NASA, Sasson memilih bekerja di Kodak. Berkat supervisi Gareth A. Lloyd, ia kemudian diberi tugas untuk menciptakan kamera yang tak memerlukan film atau bahkan kertas untuk menciptakan gambar.



“Hampir tidak ada yang tahu bahwa saya sedang mengerjakan ini, karena itu proyek kecil [...] Itu bukan (proyek) rahasia. Saya rasa, Itu hanya sebuah proyek yang (mungkin diciptakan) untuk saya agar tidak membuat onar di bagian lain,” tutur Sasson.

Infografik Steven Sasson REV


Konsep Awal Kamera digital

Sebagai karyawan Kodak, Sasson bekerja di bidang yang tak berhubungan dengan bisnis inti bisnis perusahaan yang didirikan George Eastman itu. Tugas pertamanya cenderung sukar diselesaikan. Tugas itu tak lain untuk mencari tahu bagaimana menciptakan kamera digital dengan memanfaatkan charge-couple device (CCD).

CCD merupakan integrated circuit (IC) yang sensitif terhadap cahaya. Ini ditemukan oleh peneliti dari AT&T Bell Labs bernama Willard Boyle dan George E. Smith pada 1969. CCD dalam laporan yang ditulis The New York Times, memiliki kelemahan terkait mudah hilangnya gelombang elektronik yang tertangkap komponen. Hal tersebut membuat CCD sukar diimplementasikan menjadi perangkat kamera.

Namun, Sasson bukanlah sosok yang mudah menyerah. Ia kemudian memiliki cara mengakali kelemahan dengan mengubah gelombang elektronik menjadi angka. Angka tersebut disimpan dalam memori RAM untuk kemudian disimpan di media penyimpanan berupa kaset.


Tiga tahun sebagai karyawan Kodak, konsep kamera digital akhirnya lahir. Sebuah unit kamera yang tersusun dari beragam komponen: lensa dari kamera Super-8, perekam kaset digital portabel, konverter analog ke digital, dan 16 baterai kadmium nikel.

Dalam perkiraan Sasson, ciptaannya itu akan menyaingi kamera film antara 15-20 tahun semenjak diciptakan. Itu terutama untuk mengejar 2 juta piksel untuk menyaingi film negatif 110.

Sayangnya, ciptaan Sasson tak disambut baik, para petinggi Kodak menilai film dan cetak saat itu masih begitu populer. Dampaknya, temuan Sasson tertutup rapat lebih dari 20 tahun pada publik. Paten “Electronic Still Camera,” dalam laporan Wired, baru dibuka ke masyarakat pada 2001.

Tindakan para petinggi Kodak saat Sasson memperkenalkan ciptaannya bakal disesali setengah mati oleh Kodak. Pada 2012 perusahaan itu kemudian mengajukan dokumen Chapter 11 dalam rangka perlindungan dari kebangkrutan. Dunia fotografi film yang dibanggakan Kodak, akhirnya mati, digantikan fotografi digital yang kemudian dikuasai Nikon dan Canon dari Jepang.

Pada kenyataannya industri kamera digital juga tak berarti nyaman bertahan. Perkembangan smartphone yang sudah semakin beragam dan canggih disematkan kamera mumpuni berdampak pada kamera digital konvensional yang juga berhadapan dengan kamera mirrorless digital.

Kisah Sasson jadi pelajaran bahwa perusahaan yang tak menghargai ide dan karya inovasi dari karyawannya bisa tertinggal jauh dari pesaing. Sekalipun Kodak tak mencampakkan karya Sasson, tak menjadi jaminan mereka tetap bertahan karena kenyataannya dunia fotografi berlari lebih kencang dari orang-orang yang semula menganggap gulungan film adalah segalanya.

Baca juga artikel terkait KAMERA atau tulisan menarik lainnya Ahmad Zaenudin
(tirto.id - Teknologi)

Reporter: Ahmad Zaenudin
Penulis: Ahmad Zaenudin
Editor: Suhendra