Menuju konten utama

Sindrom Syok Dengeu Bisa Terjadi pada Anak-anak Usai DBD

Sebagian anak-anak akan mengalami komplikasi infeksi dengue setelah terjangkit DBD.

Sindrom Syok Dengeu Bisa Terjadi pada Anak-anak Usai DBD
Seorang anak penderita demam berdarah mendapatkan perawatan di Rumah Sakit Umum Daerah Gambiran, Kota Kediri, Jawa Timur, Kamis (22/12). Data dari Dinas Kesehatan setempat menyebutkan kasus demam berdarah mengalami kenaikan yakni 328 penderita sepanjang tahun 2016 dari sebelumnya 276 penderita pada periode yang sama tahun 2015. ANTARA FOTO/Prasetia Fauzani/aww/16.

tirto.id - Demam Berdarah Dengeu (DBD) adalah penyakit yang berasal dari gigitan salah satu jenis nyamuk. DBD bisa disembuhkan dan para ilmuwan sudah mulai menemukan beberapa alternatif.

Tetapi setelah sembuh dari DBD, bagi sebagian anak-anak akan mengalami komplikasi infeksi dengue yang paling serius dan juga mengancam nyawa, yaitu mengalami sindrom syok dengue (DSS).

Dengue shock syndrome (DSS) atau sindrom syok dengue adalah sindrom disebabkan virus dengue yang cenderung mempengaruhi anak-anak di bawah 10 tahun dan bisa menyebabkan kematian.

Gejala DSS

Dilansir Dengue Virus Net, pada kasus DBD yang parah, setelah tanda dan semua gejala demam mereda, kondisi pasien mungkin tiba-tiba memburuk setelah beberapa hari demam; suhu turun, diikuti oleh tanda-tanda kegagalan peredaran darah, dan pasien dapat dengan cepat mengalami kondisi syok kritis.

Dengue Shock Syndrome (DSS) ditandai dengan perdarahan yang mungkin muncul sebagai bintik-bintik kecil darah pada kulit (petechiae) dan bercak darah lebih besar di bawah kulit (ekimosis).

Selain itu, cedera ringan pada penderita dapat menyebabkan perdarahan. Syok kritis pada penderita juga dapat menyebabkan kematian dalam 12 hingga 24 jam.

Menurut penelitian yang diterbitkan oleh PLOS Neglected Tropical Diseases, jumlah trombosit harian pada anak-anak pada tahap awal demam berdarah dapat memprediksi mereka yang paling berisiko terkena DSS.

Dalam penelitian ini, Phung Khanh Lam, dari Unit Penelitian Klinis Universitas Oxford, Vietnam, dan rekannya mengikuti 2.301 anak berusia 5 hingga 15 tahun yang dirawat di Rumah Sakit Penyakit Tropis di Kota Ho Chi Minh karena diduga menderita demam berdarah antara 2001 dan 2009.

Para peneliti mengamati tanda-tanda vital, gejala, dan informasi ujian fisik dalam empat hari pertama timbulnya gejala sindrom ini. Para peneliti menganalisis faktor-faktor mana yang dikaitkan dengan risiko lebih besar terkena DSS.

Di antara anak-anak dalam penelitian ini, 143 (6 persen) berkembang menjadi DSS. Faktor-faktor risiko muncul pada saat anak-anak mulai masuk rumah sakit. Hal ini semakin berkembang menjadi DSS yang ditandai dengan muntah, suhu tubuh lebih tinggi, hati terasa tertusuk, dan jumlah trombosit lebih rendah.

Selain itu, jumlah trombosit setiap hari, serta perubahan jumlah trombosit dari waktu ke waktu, membantu membedakan pasien yang terkena DSS. Namun, model yang dibuat berdasarkan hasil ini hanya memiliki nilai prediksi sedang dalam mengidentifikasi semua pasien yang mendapatkan DSS.

Penelitian lebih lanjut diperlukan untuk menentukan faktor-faktor lain yang dapat diintegrasikan ke dalam model prediksi sehingga lebih berguna secara klinis.

"Meskipun penelitian ini dilakukan di antara anak-anak yang dirawat di rumah sakit, temuan ini mungkin berlaku untuk populasi anak-anak yang sekarang dikelola sebagai pasien rawat jalan selama fase awal penyakit mereka di banyak kota besar di Asia Tenggara," kata Lam.

"Temuan ini memperkuat pandangan bahwa pada fase demam awal, demam berdarah biasanya merupakan penyakit yang tidak spesifik, tetapi juga memberikan dukungan kuat bagi rekomendasi WHO untuk melakukan penghitungan darah lengkap harian untuk memantau jumlah trombosit secara ketat pada pasien ini," tambah dia.

Infografik SC Dengue Shcok Syndrome

Infografik SC Dengue Shcok Syndrome. tirto.id/Lugas

Baca juga artikel terkait DEMAM BERDARAH atau tulisan lainnya dari Febriansyah

tirto.id - Kesehatan
Reporter: Febriansyah
Penulis: Febriansyah
Editor: Agung DH