Kultum Quraish Shihab

Senjata Umat Islam Sekarang: Ilmu Pengetahuan & Teknologi

Oleh: M. Quraish Shihab - 23 Mei 2018
Dibaca Normal 4 menit
Allah memerintahkan kita mempersiapkan "kekuatan" menghadapi lawan. Di masa kini, "kekuatan" berarti ilmu pengetahuan dan teknologi.
tirto.id - “Kembali kepada al-Qur’an dan sunnah”. Itulah semboyan yang sering kita dengar, walaupun dalam pemahaman dan penerapannya tidak jarang satu sama lain saling berbeda atau bahkan berkelahi.

Dalam konteks “kembali” itu, kita antara lain harus mengakui penegasan al-Qur’an yang menyatakan bahwa Allah tidak menganiaya satu kaum, tetapi merekalah sendiri yang menganiaya diri mereka (baca antara lain Q.S. Ali Imran ayat 117). Ini karena, merujuk surat Al-Anfal ayat 53:

Yang demikian itu adalah karena sesungguhnya Allah sekali-kali tidak akan mengubah sesuatu nikmat yang telah dianugerahkan-Nya kepada suatu kaum, hingga kaum itu mengubah apa yang ada pada diri mereka sendiri, dan sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.

Juga dengan merujuk firman-Nya yang lain dalam surat A-Rad ayat 11:

"Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah apa yang ada pada diri mereka."

Keterbatasan pengetahuan bukan saja berarti ketiadaan ilmu, tetapi juga ketidakmampuan memilah, mengamalkan dan menyosialisasikannya. Terkadang kita tidak mengetahui apa yang kita kehendaki. Kita tidak mampu membedakan mana yang utama dan mana yang tidak, mana yang penting dan mana yang tidak penting, mana keinginan dan mana keperluan. Kita tidak mampu membedakan mana kawan yang sebenar-benarnya dan mana pula lawan. Terkadang lawan justru dijadikan kawan, dan kawan dijadikan lawan. Ada lawan yang benar-benar lawan dan ada juga yang pada hakikatnya bukan lawan, tetapi karena ulah dan keterbatasan pengetahuan kita maka mereka kita anggap sebagai lawan dan penantang.

Sering kali kita juga menilai sesuatu hanya karena keuntungan material yang dapat diperoleh atau karena ide itu disampaikan seseorang yang kita kagumi. Sikap semacam ini sungguh bertentangan dengan tuntunan agama kita.

Dalam Perang Uhud, kaum musyrik menyebarkan isu bahwa Nabi Muhammad SAW., telah wafat/gugur. Sebagian orang yang lemah imannya menjadi murtad. Ketika itu turun firman Allah yang mengingatkan bahwa:

(Nabi) Muhammad tidak lain kecuali rasul, (sama dengan rasul-rasul lain) yang telah berlalu (yakni wafat). Apakah apabila dia wafat atau terbunuh, kamu berbalik ke belakang, yakni murtad menganut kembali agama dan kepercayaan kamu di masa Jahiliyah? Siapa yang berbalik ke belakang maka dia tidak menimpakan Allah sedikit mudharat pun … (Q.S. Ali Imran ayat 144).

Ayat ini oleh sebagian ulama dipahami sebagai teguran kepada kaum Muslim agar jangan menilai kebenaran sesuatu hanya karena diucapkan oleh si A atau B. Tetapi hendaklah menilai baik dan buruk sesuatu berdasarkan nilai-nilai yang terdapat pada sesuatu yang dinilai itu. Dengan kata lain, "nilailah ucapannya, jangan menilai siapa yang mengucapkan”, atau “ambillah hikmah walau dari mulut-mulut orang gila," demikian bunyi sebuah ungkapan.

Mungkin juga kita telah memiliki pengetahuan, tetapi iradah, kemauan dan tekad kita tidak cukup. Kini banyak tantangan besar yang dihadapi, tetapi yang terbesar ada pada diri kita sendiri. Keadaan kita sekarang seperti judul sebuah buku: Antara Kelumpuhan Ulama dan Cendekiawan dan Kebodohan Umatnya.

Sebelum menyalahkan orang lain, kita perlu bercermin diri. Kenyataan memang menunjukkan bahwa masyarakat kita belum memiliki pengetahuan yang memadai tentang dirinya, demikian juga tentang agamanya.

Malik bin Nabi menulis bahwa sebelum lima puluh tahun ini, kita baru mengenal satu penyakit saja, yaitu kebodohan dan buta huruf. Penyakit itu dapat disembuhkan. Tetapi, kini kita melihat penyakit baru yang sangat buruk, yaitu “sok pintar” dan mengaku “serba tahu”. Ini sangat sulit diobati, bahkan tidak bisa diobati. Penyakit ini bisa menimpa masyarakat secara keseluruhan sehingga menjadi budaya masyarakat. Perlu diingat bahwa dalam satu masyarakat terbelakang, bisa saja ada pribadi-pribadi yang maju, tetapi mereka tidak memberi pengaruh yang cukup untuk mengubah masyarakatnya.

Ada kelompok dari umat Islam yang sok tahu itu yang justru mengangkat tinggi-tinggi panji-panji Islam, tetapi melakukan kegiatan-kegiatan yang tidak sepenuhnya sejalan dengan tuntunan Islam. Salah satu penyebabnya adalah karena sebagian mereka berpegang teguh pada bunyi teks al-Qur’an atau Sunnah tanpa memperhatikan konteksnya.

Ketika kelompok Taliban di Afganistan menghancurkan patung Budha yang demikian bersejarah dan amat dihormati oleh penganut agama Budha, mereka berpegang kepada sabda Nabi Muhammad yang melarang pembuatan patung. Mereka tidak menyadari bahwa larangan tersebut beliau kemukakan pada awal masa Islam, ketika patung-patung masih disembah.

Dalam al-Qur’an kita menemukan bahwa Nabi Sulaiman AS., menyuruh membuat patung-patung. Nabi Isa AS., pun membuat patung dari tanah berbentuk burung, tetapi karena mereka tidak menyembahnya, maka hal itu boleh-boleh saja. Saat sahabat-sahabat Nabi Muhammad SAW., masuk ke Mesir, di sana mereka menjumpai ribuan patung, dari yang kecil sampai yang terbesar. Namun tidak satu pun yang mereka hancurkan.

Ada lagi yang tidak dapat mengaitkan antara ajaran agama dan perkembangan budaya, sehingga sering kali perubahan budaya, walau tidak bertentangan dengan prinsip-prinsip akidah dan syariah, tetap saja dikecam. Ini karena mereka menyalahpahami sabda Nabi Muhammad: "Semua yang baru adalah kesesatan dan semua kesesatan di neraka."

Mereka menduga bahwa segala sesuatu yang tidak diamalkan atau belum terjadi pada masa Rasul SAW., adalah bid’ah. Mereka tidak menyadari bahwa sesungguhnya banyak hal baru yang, sadar atau tidak, mereka amalkan juga.

Karena itu, sungguh tepat pandangan ulama seperti yang dikatakan Abdul Aziz bin Abdussalam (w. 1262 M.) dalam buku nya al-Qawa’id, bahwa bid’ah ada yang wajib (seperti mempelajari ilmu nahwu (grammar/tata bahasa), ada yang sunnah seperti membangun ma’had dan sekolah, ada yang makruh seperti menghiasi masjid atau mushaf, dan ada juga yang mubah, seperti berjabat tangan setelah salat Asar dan Subuh.

Pada sisi lain, ada kaidah-kaidah yang telah disusun oleh para ulama, yang sering kali karena keterbatasan pengetahuan menjadikan kita bersikap sangat keras dan kaku. Ambillah sebagai contoh kaidah ikhtiyah akhaffu ad-dhararain (memilih salah satu dari dua alternatif yang paling sedikit mudaratnya). Kaidah ini dapat digunakan untuk menghadapi sekian banyak kemungkaran yang, karena satu dan lain hal, belum mampu diberantas secara tuntas. Untuk menghadapinya dapat dicarikan alternatif lain, membiarkannya untuk sementara selama dampak buruknya atau pelakunya dapat dikurangi.

Hemat penulis, pemahaman agama khususnya dalam bidang selain ibadah murni, harus selalu dikaitkan denga konteksnya. Jika tidak, kita akan terjebak kesulitan bahkan kekeliruan dalam memahami dan menerapkan ajaran agama kita.

Infografik Al Halim


Dalam konteks keterbatasan pengetahuan itu, kita juga tidak pandai memilih prioritas.

Seperti penulis (pernah) kemukakan, tantangan dan problem yang dihadapi umat manusia berbeda satu sama lain, sejalan dengan perbedaan waktu dan lingkungan mereka. Agama Islam turun di Jazirah Arab yang adat istiadatnya berbeda dengan masyarakat lain. Ada tuntunan Nabi Muhammad yang beliau peruntukkan buat masyarakat beliau, yang kini dalam wilayah itu sekalipun, setelah berlalunya waktu, sudah tidak sesuai lagi. Lebih-lebih bagi masyarakat lain. Problem yang mereka hadapi berbeda dengan problem kita sehingga pemecahannya pun harus berbeda.

Jika anda menghadapi dua tantangan atau memiliki dua musuh, satu di sungai yang penuh buaya dan yang satunya lagi di darat, maka anda harus menghadapi yang di sungai bila anda sedang berenang dan yang di darat bila anda berada di darat. Itu disebut logika prioritas.

Yang dihadapi oleh masyarakat Indonesia, yang mayoritas muslim, bisa berbeda dengan yang dihadapi masyarakat Singapura, atau masyarakat lainnya. Salah satu kesalahan/kelemahan kita adalah penyelesaian problem masa kini dilakukan dengan memakai cara penyelesaian masa lalu. Sebagian kita masih menggunakan kitab-kitab lama yang ditulis ratusan tahun yang lalu untuk menyelesaikan problem masa kini.

Memang, kita hendaknya tidak terputus dari akar kita. Ulama-ulama masa lampau telah banyak berjasa dalam pengembangan ilmu dan penyelesaian problem, tetapi itu untuk masa mereka. Kita dapat menggunakan metode mereka, tetapi tidak harus menggunakan hasil penerapan metode itu, yakni pendapat mereka yang ditujukan untuk mengatasi problem zamannya.

Selanjutnya karena keterbatasan pengetahuan kita, maka sering kali terjadi tumpang tindih kegiatan. Seakan-akan komunikasi terputus antara sesama kita dan tidak terjadi koordinasi sehingga masing-masing berjalan sendiri-sendiri dan semua dalam kemampuan yang terbatas. Kini kita ditantang untuk menyatukan langkah dan memfokuskan diri dalam spesialisasi.

Demikianlah sekelumit potret masyarakat kita yang sekaligus menjadi tantangan terbesar yang dihadapi umat Islam. Tantangan yang datang dari luar tidak akan berarti apa-apa jika potret itu dapat kita perindah.

Allah memerintahkan kita mempersiapkan kekuatan menghadapi lawan. Kalau dulu Nabi Muhammad SAW., menafsirkan kekuatan sesuai perkembangan masyarakat ketika itu dengan kemampuan memanah, maka kini kita harus mempersiapkan diri dengan ilmu dan teknologi. Sedangkan ilmu dan teknologi tidak dapat dipisahkan dari budaya dan nilai-nilai yang dianut oleh masyarakat tempat ia dikembangkan dan diterapkan.

Sebelum berupaya lebih serius menghadapi tantangan, kita harus merumuskan bersama visi kita ke depan; visi yang bersifat holistik, dimulai dari mental, spiritual, kualitas dan daya pikir, daya kerja dan daya hidup. Juga kepemimpinan yang dapat dimengerti dan mampu membawa masyarakat menuju cita-citanya. Apalagi di balik sosok kehidupan modern yang kita lihat dewasa ini, terdapat sejumlah nilai dan perilaku yang mengantar manusia kepada kehancurannya. Wa Allah a’lam.

=======

*) Naskah diambil dari buku "Membumikan al-Qur'an Jilid 2" yang diterbitkan oleh penerbit Lentera Hati. Pembaca bisa mendapatkan karya-karya Prof. Quraish Shihab melalui website penerbit.

Kultum Quraish Shihab


Baca juga artikel terkait KULTUM QURAISH SHIHAB atau tulisan menarik lainnya M. Quraish Shihab
(tirto.id - Pendidikan)


Penulis: M. Quraish Shihab
Editor: Zen RS