Menuju konten utama

Semakin Terdesak, ISIS akan Jalin Aliansi dengan Alqaeda

ISIS tengah berunding dengan Alqaeda mengenai kemungkinan menjalin aliansi di tengah pasukan Irak yang sedang mengepung ISIS di Mosul barat, kata Wakil Presiden Irak Ayad Allawi.

Semakin Terdesak, ISIS akan Jalin Aliansi dengan Alqaeda
Mayor Jenderal Abdul Ghani al-Asadi, komandan Layanan Kontra Terorisme (CTS) berjalan di lokasi serangan udara atas Negara Islam yang menyebabkan ledakan di Mosul, Irak, Rabu (29/3). ANTARA FOTO/REUTERS/Stringer/djo/17

tirto.id - Menurut Wakil Presiden Irak Ayad Allawi dalam sebuah wawancara, ISIS tengah berunding dengan Alqaeda mengenai kemungkinan menjalin aliansi di tengah pasukan Irak yang sedang mengepung ISIS di Mosul barat.

Allawi mengaku mendapatkan informasi soal itu Senin (17/4/2017) waktu setempat lalu dari kontak-kontak Irak dan Timur Tengah yang mengetahui soal Irak, seperti dikutip dari Antara.

"Pembahasan sudah dimulai sekarang. Ada diskusi dan dialog antara para utusan yang mewakili Baghdadi dan Zawahiri," kata Allawi merujuk pemimpin ISIS Abu Bakar al Baghdadi dan pemimpin Alqaeda Ayman al Zawahiri.

ISIS menyempal dari Alqaeda pada 2014 dan sejak itu dua kelompok militan ini bersaing dalam merekrut, mendanai dan melancarkan gerakan jihad global.

Zawahiri terang-terangan mengkritik ISIS karena metoda brutalnya, termasuk kegemarannya memenggal kepala manusia, menenggelamkan orang dan kekejian lainnya.

Allawi mengakui belum jelas benar bagaimana kedua kelompok militan ini bekerjasama.

Belakangan ini ISIS semakin terusir dari Irak dan terkepung rapat di Mosul barat. Namun kelompok militan ini masih menguasai kota Qaim, Hawija dan Tal Afar di Irak, selain Raqqa yang menjadi ibu kota de facto mereka di Suriah.

Allawi juga mengakui sekalipun nanti ISIS kehilangan seluruh wilayah kekuasaannya di Irak, organisasi militan kemungkinan terus hidup dalam sel-sel lebih kecil. "Mereka akan secara laten bertahan dalam sel-sel tidur untuk menyebarkan bisa mereka ke seluruh dunia," kata Allawi.

Pada pertengahan Maret lalu, pasukan Irak berhasil menguasai Jembatan Besi yang menghubungkan Kota Mosul bagian timur dengan Kota Tua di bagian barat Mosul. Keberhasilan ini juga membuat Perdana Menteri Haider al-Abadi yakin pertempuran dengan ISIS akan mendekati akhir.

Kehilangan Mosul akan menjadi pukulan terberat ISIS karena kota ini telah menjadi ibu kota de facto ISIS sejak Abu Bakr al-Baghdadi memproklamasikan dirinya sebagai khalifah ISIS pada Juli 2014.

Baca juga artikel terkait ISIS atau tulisan lainnya dari Maya Saputri

tirto.id - Politik
Reporter: Maya Saputri
Penulis: Maya Saputri
Editor: Maya Saputri