Sejarah Satuan Zeni di Indonesia

Oleh: Petrik Matanasi - 7 Desember 2018
Dibaca Normal 3 menit
Nama satuan Zeni disebut oleh pihak Panglima Daerah Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat (TPNPB) terkait insiden penembakan di Nduga, Papua. Apa dan bagaimana Zeni itu bermula?
tirto.id - Semua Angkatan Darat dunia di masa modern sangat butuh satuan yang disebut zeni atau genie/teknik. Termasuk Angkatan Darat di Indonesia, yang bernaung di bawah Tentara Nasional Indonesia (TNI). Ada istilah Direktorat Zeni Angkatan Darat di TNI-AD.

Pada masa era Hindia Belanda ada Tentara Kerajaan zaman Hindia Belanda, Koninklijk Nederlandsch Indische Leger (KNIL), yang juga punya satuan Wapen der Genie atau kesenjataan zeni. Zeni termasuk bantuan tempur yang membantu melancarkan pergerakan pasukan infanteri dan lainnya.

“Kesenjataan ini relatif kecil namun kesenjataan teknik ini selalu ada dalam ekspedisi (militer),” tulis mendiang veteran kolonel KNIL CA Heshusius dalam Soldaten van de Kompagnie KNIL (1986:61).

Menurut Heshusius, satuan ini adalah konstruksi semi militer, yang diorganisir secara lokal dan regional. Di dalamnya terdapat perwira dan pengawas. Tugas satuan ini membangun kamp, perbentengan, jembatan, landasan udara, penghancuran, dan sarana perhubungan. Pada 1918, satuan ini mengurusi mobil dan melatih para sopir dan montir.

Di antara orang-orang Indonesia yang pernah dinas di Zeni KNIL antara lain: mantan Kepala Staf Angkatan Perang Jenderal Tahi Bonar (TB) Simatupang, mantan Gubernur Sulawesi Utara Mayor Jenderal Hein Victor Worang dan Arsitek Masjid Istiqlal Fredrich Silaban. TB Simatupang sangat sadar saat menentukan pilihannya pada satuan zeni. Keanggotaan zeni biasanya dipilih dari anggota prajurit yang lebih cerdas secara akademik.


“Saya memilih zeni. Pilihan itu pada satu pihak oleh karena saya memenuhi syarat yang diterima di bagian zeni, yaitu angka-angka yang lumayan (tinggi) dalam pelajaran eksakta,” kata Simatupang dalam Membuktikan Ketidakbenaran Suatu Mitos (1991: 84).

TB Simatupang menegaskan “perwira zeni mempunyai pengetahuan yang menyerupai pengetahuan insinyur (sipil).” Sementara itu, Fredrich Silaban yang lulusan sekolah teknik menengah, Koningen Wilhelmina School (KWS) Batavia, menurut buku Rumah Silaban (2008), Silaban sudah merancang bangunan selagi muda di KNIL. Namun, menurut TB Simatupang, Silaban tergolong perwira rendahan di KNIL.

Beberapa orang terkemuka Belanda di bidang konstruksi juga mantan perwira zeni di KNIL. Sebutlah Charles Prosper Wolff Schoemaker. Huib Akihary dalam Ir. F.J.L. Ghijsels, architect in Indonesia, 1910-1929 (1996:20) menyebut setelah lulus akademi militer di Breda, Wolff jadi perwira zeni dari 1905 hingga 1911, lalu menjadi arsitek.

Pria yang pernah jadi guru besar di Technische Hoogeschool Bandung ini, punya pengaruh terhadap Silaban dan Ir Sukarno. Selain Wolff Schoemaker, ada Theodoor van Erp, yang dikenal karena pekerjaannya memugar Candi Borobudur, dan disebut-sebut membangun Istana Maimun di Medan.

Dari pengalaman para pesohor di atas, para veteran dari satuan zeni, punya peluang besar bekerja di bidang teknik sipil atau konstruksi setelah tak bertugas di militer.

Namun, sulit menemukan orang-orang Indonesia yang dilatih sebagai anggota zeni militer. Namun, tentara Jepang mempekerjakan pemuda Indonesia dalam satuan pembantu tentara bernama Heiho. Di antara para Heiho itu ada yang dipekerjakan memperbaiki jembatan. Adolf Gustaaf Lembong salah satunya, sebelum ia dikirim ke sekitar Filipina. Lembong awalnya adalah operator radio KNIL yang namanya diabadikan sebagai nama jalan di Bandung.


Di masa revolusi kesenjataan satuan Zeni tidak berkembang, juga kavaleri dan artileri, termasuk pasukan tank dan meriam yang dikuasai TNI. Pada masa ini pembangunan TNI pasukan darat awalnya lebih banyak fokus ke infanteri.

Menurut Moekhardi dalam Pendidikan Pembentukan Perwira TNI-AD 1950-1956 (1981:156), sekelompok pemuda dipimpin Ir Suratin yang merupakan pendiri dan Ketua Pertama PSSI, ia sukses membuat komandan tentara Jepang menyerahkan peralatan. Moekhardi, Suratin, dan Ir Nowo membentuk satuan zeni dengan nama Dinas Genie di Kementerian Pertahanan pada 15 Oktober 1945, yang kemudian jadi nama zeni.

Di Jawa Barat, eks zeni KNIL Indonesia, membangun Sekolah Genie di Batujajar, Bandung Barat, pada 12 November 1945, di bawah pimpinan Adijat Soeparmadi. Para siswa yang dididik menjadi kompi zeni pada Divisi Siliwangi. Saat Bandung dikuasai sekutu, republik masih punya Sekolah Kader Genie di Kleco, di Solo. Sekolah ini menghasilkan 58 prajurit bawahan, 38 sersan, dan 10 letnan.

Di Jawa Tengah, para laskar dari pegawai teknik bidang minyak, angkutan, juga pekerjaan umum, menurut Moekhardi adalah sumber dari orang-orang zeni. Orang-orang ini diurus Biro Perjuangan Kementerian Pertahanan, untuk zeni ada Genie Biro Perjuangan. Di masa revolusi ada juga yang menamakan diri sebagai Tentara Genie Pelajar (TGP) yang berisikan pemuda pelajar sekolah teknik dan sekolah menengah lainnya, pada 2 Februari 1947.

“Dalam waktu singkat TGP berkembang di kota-kota yang ada sekolah tekniknya,” tulis Moekhardi dalam Pendidikan Pembentukan Perwira TNI-AD 1950-1956 (1981:155). Namun, satuan itu kemudian dimasukkan ke batalyon yang dipimpin Kapten Hartawan.

Pada masa revolusi persoalan koordinasi adalah masalah khususnya di lembaga militer. Seringkali antar perwira sulit menciptakan kondisi yang solid. Setelah para perwira zeni dari beberapa daerah berkumpul di Yogyakarta, maka Zeni disatukan dengan bagian perhubungan TNI atau PHB.

Pada 26 November 1946, di Markas Besar Tentara (MBT) Yogyakarta, Inspektorat Zeni dibentuk sebagai bagian dari Direktorat Angkatan Darat. Isi direktorat zeni ini terdapat Genir Pionir, Dinas Genie, dan Dinas Perhubungan. Setelah tentara Belanda angkat kaki, instalasi zeni Belanda dioper ke Angkatan Darat Indonesia. Saat ini terdapat di Angkatan Darat setidaknya terdapat zeni tempur juga zeni konstruksi.

Infografik Zeni Indonesia


Pada 3 Oktober 1950, dibentuklah Sekolah Perwira Genie Angkatan Darat karena kekurangan perwira dari satuan zeni. Pada 1952, sekolah itu disingkat sebagai (SPGiAD), yang menerima lulusan SMA bagian B (jurusan IPA). Pada 1956, seperti dicatat Moekhardi (1981:168), SPGiAD diubah menjadi Akademi Genie Angkatan Darat (AGiAD) pada 1 Januari 1956. Ejaan Genie diganti menjadi Zeni pada 1958, nama sekolah pun jadi AZiAD. Sejak 10 Mei 1960, nama sekolah berganti lagi Akademi Teknik Angkatan Darat (ATEKAD).

Perwira Angkatan 45 terkenal yang pernah jadi Direktur Zeni adalah Djatikusumo. Sebelumnya ia pernah menjadi Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) yang pertama kali. Ia mengisi orang nomor satu di zeni dari 29 Februari 1955 hingga 24 Juni 1958.

“Di dalam pasukan Zeni itu ada Try Soetrisno dan 51 orang yang memiliki kemampuan rata-rata sama. Misalnya, Dirjen Imigrasi sekarang, Rony Sikap Sinuraya. Beberapa di antara mereka ada yang menjadi gubernur,” kata Djatikusumo dalam memoarnya di Tempo (18/07/1992).

Djatikusumo adalah penemu bakat dari Try Sutrisno. Try lulus ATEKAD. Selain itu, ada Pahlawan Revolusi Pierre Tendean yang juga lulusan ATEKAD. Dalam sejarah, Try adalah orang zeni kedua yang menjadi orang nomor satu di Angkatan Bersenjata setelah TB Simatupang.


Baca juga artikel terkait TNI atau tulisan menarik lainnya Petrik Matanasi
(tirto.id - Sosial Budaya)


Penulis: Petrik Matanasi
Editor: Suhendra
Dari Sejawat
Infografik Instagram