Sejarah Emas PB Djarum Harumkan Indonesia di Kancah Dunia

Oleh: Oryza Aditama - 9 September 2019
Dibaca Normal 2 menit
PB Djarum telah menjadi bagian dari sejarah emas bulu tangkis Indonesia di kancah internasional.
tirto.id - Sebagai salah satu klub badminton paling tersohor di Indonesia, PB Djarum seakan tak pernah berhenti melahirkan atlet papan atas. Sejarah emas telah ditorehkan klub yang berdiri sejak 1969 ini untuk mengharumkan nama Indonesia di kancah bulu tangkis dunia, bahkan hingga kini.

Akibat berpolemik dengan Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), PB Djarum memutuskan untuk menghentikan program seleksi beasiswa atau audisi umum bulu tangkis per 2020 mendatang. Padahal, dari audisi umum ini, telah muncul jajaran pebulutangkis yang nantinya menyumbangkan prestasi untuk Indonesia di kancah internasional.

PD Djarum mendapat tudingan dari KPAI dan Yayasan Lentera Anak bahwa telah terjadi praktik eksploitasi anak dengan dipasangnya logo yang identik dengan produsen rokok PT Djarum. KPAI kemudian meminta PB Djarum untuk melepas logo tersebut, dan dipenuhi.

Namun, kemudian KPAI menuntut lebih sehingga PB Djarum menolaknya. Rangkaian pertemuan yang digelar tidak menemui kata sepakat. Pada akhirnya, PB Djarum mengalah dan menyatakan pamit.

“Pada audisi kali ini juga saya sampaikan sebagai ajang pamit sementara waktu, karena tahun 2020 kami memutuskan untuk menghentikan audisi umum,” ucap Direktur Program Bakti Olahraga Djarum Foundation, Yoppy Rosimin, dalam konferensi pers di Hotel Aston Purwokerto, Sabtu (7/9/2019).


“Memang ini disayangkan banyak pihak, tapi demi kebaikan bersama kami hentikan dulu. Biar reda dulu dan masing-masing pihak dapat berpikir dengan baik,” imbuhnya.

Pihak KPAI pun menanggapi keputusan PB Djarum ini. “Kata 'pamit' dari Djarum tiba-tiba saja menjadi trending, dan publik menyalahkan pemerintah, dalam hal ini KPAI, atas keputusan Djarum,” ujar Komisioner KPAI, Sitti Hikmawatty, Senin (9/9/2019).

KPAI juga telah mengajukan pilihan kepada Djarum Foundation untuk mengganti proses seleksi ke skala yang lebih kecil, bukan dilakukan secara jor-joran dan melanggar undang-undang.

“Jadi, pembinaan tetap berjalan, audisinya yang kita cari bentuk lain. Harusnya masalah ini bisa disikapi dengan tetap berkepala dingin, tidak baper dan lebay,” tukas Sitti.


Dimulai dari Liem Swie King

Liem Swie King adalah atlet PB Djarum pertama yang memiliki prestasi mentereng. Tahun 1972, ia berhasil menduduki podium tertinggi sektor tunggal putra di kejuaraan tingkat junior. Selanjutnya, pebulutangkis asli Kudus kelahiran 1956 ini sukses mendulang prestasi di arena PON serta Kejurnas 1974 dan 1975.

Dalam kejuaraan bergengsi level internasional, catatan terbaik Liem Swie King adalah membukukan tiga gelar juara All England pada 1978, 1979, dan 1981. Ia juga masuk dalam skuad beregu putra Indonesia saat menjuarai Piala Thomas pada 1976, 1979, dan 1984.

Piala Thomas 1984 menjadi catatan istimewa bagi PB Djarum. Pada edisi itulah timnas beregu putra Indonesia berhasil merengkuh gelar juara dengan mayoritas pemainnya berasal dari klub yang berpusat di Kudus, Jawa Tengah, tersebut.


Ketika itu, nama-nama pebulutangkis asal PB Djarum, seperti: Liem Swie King, Hadibowo Susanto, Hadiyanto, Hastomo Arbi, Heryanto, dan Kartono, tampil sebagai tulang punggung skuad bulu tangkis Indonesia.

Di partai final, Indonesia berhasil menundukkan juara bertahan Cina dengan skor tipis 3-2. Sumbangan poin kemenangan berasal dari tunggal putra Hastomo Arbi, serta dua poin tambahan dari ganda putra Christian Hadinata/Hadibowo Susanto dan Liem Swie King/Kartono.

Sumbangsih di Olimpiade

Di ajang Olimpiade, hingga kini terhitung 11 atlet PB Djarum telah menyumbangkan medali untuk kontingen Indonesia. Sumbangan medali emas datang dari Alan Budikusuma (tunggal putra Olimpiade 1992) serta duet Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir (ganda campuran Olimpiade 2016).

Sedangkan medali perak dipersembahkan oleh Ardi B. Wiranata (tunggal putra Olimpiade 1992), Minarti Timur (ganda campuran Olimpiade 2000), Liliana Natsir (ganda campuran Olimpiade 2008 berpasangan dengan Nova Widianto), juga pasangan Eddy Hartono/Gunawan (ganda putra Olimpiade 1992).

Duet Antonius B Ariantho/Denny Kantono (ganda putra Olimpiade 1996), Eng Hian (ganda putra Olimpiade 2004), dan Maria Kristin (tunggal putri Olimpiade 2008), adalah para didikan PB Djarum yang menyumbangkan medali perunggu di pesta olahraga terbesar dunia itu.


Hingga saat ini, banyak pemain PB Djarum yang masih menjadi tulang punggung tim Merah Putih. Untuk sektor ganda putra, misalnya, ada pasangan Kevin Sanjaya Sukamuljo dan Mohammad Ahsan, kemudian Shesar Hiren Rhustavito serta Ihsan Maulana Mustofa di sektor tunggal putra.

Tontowi Ahmad, Praveen Jordan, dan Melati Daeva Oktavianti merupakan andalan PB Djarum untuk sektor ganda campuran Indonesia, ada pula Tania Oktaviani Kusumah dan Ribka Sugiarto di nomor ganda putri.

Baca juga artikel terkait PB DJARUM atau tulisan menarik lainnya Oryza Aditama
(tirto.id - Olahraga)

Penulis: Oryza Aditama
Editor: Iswara N Raditya
DarkLight