Menuju konten utama

SBY sebagai Selebtweet

Kicauan SBY di Twitter menjadi bahan plesetan. Dampak cyber culture yang meniadakan hierarki.

SBY sebagai Selebtweet
Presiden RI ke-6, Susilo Bambang Yudhoyono bersama keluarga ketika meluncurkan akun Twitternya di Istana Negara. Abror Rizki/Rumgapres

tirto.id - Serial kicauan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) di Twitter dalam empat hari terakhir menjadi perbincangan publik.

Seluruh kicauan SBY dari 4 November sampai 7 November mengutarakan persoalan yang menyangkut dirinya sendiri: dari isu penyadapan, demonstrasi di kediamannya di Kuningan hingga akun-akun Twitter palsu yang mengatasnamakan dirinya. Serial kicauan SBY itu melengkapi kicauan tunggal SBY pada 19 Januari yang mengeluhkan juru fitnah dan penyebar hoax merajalela.

Para pendukung SBY, atau yang pilihan politiknya dalam Pemilihan Gubernur DKI beririsan dengan pilihan politik SBY, tentu akan mengafirmasi kicauan-kicauan tersebut. Namun, bagi yang tidak atau setidaknya netral, serial kicauan SBY itu dengan cepat menjadi bahan yang empuk untuk diplesetkan.

Kicauan SBY pada 19 Januari 2017, “Ya Allah, Tuhan YME. Negara kok jadi begini. Juru fitnah & penyebar "hoax" berkuasa & merajalela. Kapan rakyat & yg lemah menang? *SBY*”, menjadi bahan lelucon netizen. Kalimat “Ya Allah, Tuhan YME” dipakai oleh para netizen sebagai kalimat pembuka untuk menyampaikan berbagai hal: dari urusan sepakbola hingga macam-macam.

Hal serupa terjadi pada kicauan SBY pada 6 Februari, “Saya bertanya kpd Bapak Presiden & Kapolri, apakah saya tidak memiliki hak utk tinggal di negeri sendiri, dgn hak asasi yg saya miliki? *SBY*”. Kalimat pembuka “Saya bertanya kpd Bapak Presiden dan Kapolri”, langsung dipakai para netizen sebagai kalimat pembuka untuk mengicaukan, lagi-lagi, berbagai urusan: dari urusan sepakbola hingga macam-macam.

Untuk mengetahui ragam plesetan yang menggunakan “Ya Allah, Tuhan YME” dan “Saya bertanya kpd Bapak Presiden & Kapolri”, seseorang hanya perlu mengetikkan kalimat-kalimat di atas pada mesin pencari Twitter atau Facebook. Jumlahnya ribuan. Di jejaring media sosial lain, seperti Facebook, tangkapan layar atas plesetan-plesetan itu beredar dengan cepat. Rata-rata bernada candaan, tidak serius, kocak, dan main-main.

Cyber Culture Meniadakan Hierarki SBY

Dalam cyberculture seperti di Twitter, jarak dan interaksi sosial bisa berlangsung dengan sangat banal dan liar—bahkan kadang bisa sangat jahat.

Tidak seperti konferensi pers atau pidato pada panggung kampanye, dalam dunia Twitter SBY tidak dilindungi pasukan pengamanan, tidak pula dilindungi norma atau etika sosial, juga tidak dilindungi oleh tim yang bisa menjadi benteng sebelum segala sesuatunya langsung mengenai SBY.

Bagi Tim Jordan dalam Cyberpower: An Indroduction to the Politics of Cyberspace (Hal. 62), hal semacam ini memungkinkan karena tiga hal. Pertama, adanya identity fluidity, di mana konstruksi identitas akun SBY di Twitter tidak sama dengan konstruksi identitas SBY di dunia nyata.

Infografik serial kicauan SBY

Di Twitter, akun SBY memang mendapatkan pengikut sampai 9,5 juta, dan ini jelas ada kaitannya dengan identitas SBY di dunia nyata sebagai mantan Presiden. Tapi sebagai pengguna Twitter, reputasi SBY sebagai mantan presiden tidak membuatnya otomatis jadi punya kekuatan dan pengaruh yang sama saat sedang berkicau. Pengaruhnya mungkin sama besarnya (diliput media setiap kali SBY berkicau), hanya saja respons yang muncul menerabas batas-batas hierarki di dunia nyata.

Dan itulah kenapa Jordan juga menyebut renovated hierarchies pada poin kedua. Artinya, ada definisi baru mengenai hierarki interaksi sosial dalam ruang siber. Interaksi yang menerabas etika-etika sosial di dunia nyata.

Netizen tidak perlu mengetuk pintu rumah SBY, mengirim pesan untuk berkunjung, atau membuat janji pertemuan. Semua bisa dilakukan sesaat setelah SBY muncul dalam kicauan Twitter. Tanggapan yang bermacam-macam bentuknya. Semua tersedia dalam ruang yang membuat SBY bisa sama levelnya dengan seorang selebtweet yang lain untuk bebas dikomentari bahkan leluasa diplesetkan dan menjadi lelucon.

Lebih rentan lagi, dalam cyberculture, citra yang muncul dalam ruang siber seperti di Twitter ini akan menjadi realitas yang berdiri sendiri. Information as reality, dalam bahasa Jordan. Dalam hal ini bukan akun Twitter SBY yang kemudian menjadi representasi SBY, tapi malah sebaliknya. Justru SBY yang muncul di konferensi pers maupun pidato terbuka yang malah jadi representasi dari akun SBY. Artinya, apa yang disampaikan SBY di Twitter lebih dianggap sebagai realitas daripada segala macam ucapannya di dunia nyata.

Pada akhirnya, kicauan yang sedianya digunakan sebagai persentasi personal SBY memang benar-benar langkah brilian. Langkah brilian untuk menjadikan SBY jadi dekat dengan rakyat, bahkan, mungkin terlalu dekat. Sampai-sampai rakyat, dalam hal ini netizen, menilai bahwa bukan mantan presiden yang hadir ke lini masa mereka, melainkan seorang yang lain, semacam selebtweet, yang kebetulan pernah menjadi presiden.

Baca juga artikel terkait SUSILO BAMBANG YUDHOYONO atau tulisan lainnya dari Ahmad Khadafi

tirto.id - Sosial budaya
Reporter: Ahmad Khadafi
Penulis: Ahmad Khadafi
Editor: Zen RS