Ritual Gadhimai, Membantai Hewan Atas Nama Agama

Penyembelahan ribuan kerbau saat Ritual Gadhimai Hindu di Nepal. FOTO/AP
Oleh: Iswara N Raditya - 5 September 2017
Dibaca Normal 2 menit
Perayaan Gadhimai di Nepal –yang disebut-sebut sebagai ritual agama dengan mengorbankan hewan terbesar di dunia -menuai protes keras, tetapi sangat sulit dihentikan.
tirto.id - Tidak kurang dari 6.000 ekor kerbau dikorbankan dalam perayaan Gadhimai di Nepal tahun 2014 lalu. Tak hanya kerbau, berbagai jenis binatang ternak lainnya –kecuali sapi yang dianggap suci dalam kepercayaan Hindu– seperti kambing, babi, ayam, bebek, angsa, bahkan burung, yang jumlahnya lebih dari 200.000 ekor pada tahun itu, juga boleh dipersembahkan untuk Gadhimai, Dewi Kekuasaan dan Kesejahteraan.

Sebagian besar orang di sana percaya, mempersembahkan korban hewan untuk Dewi Gadhimai dapat mendatangkan kemakmuran dan menghapuskan dosa. Banyak pula yang berkorban lantaran permohonannya telah tercapai, atau berharap permintaannya dikabulkan setelah melakukan persembahan untuk sang dewi.

"Saya berjanji kepada dewi bahwa jika bisnis saya menghasilkan uang dengan baik, maka saya akan mengorbankan satu ekor kambing untuknya,” kata Rajesh Shah, warga Nepal yang turut ambil bagian dalam perayaan Gadhimai pada 2014 (The Guardian, 28 November 2014).

"Saya pernah mendengar keluhan tentang perayaan ini, tapi saya sudah berdoa agar bisnis saya membaik, jadi saya harus menepati janji kepada sang dewi," lanjutnya.

Ritual Hewan Korban Terbesar

Upacara Gadhimai diadakan setiap 5 tahun sekali dan dipusatkan di kompleks candi atau kuil yang terletak kira-kira 160 km di selatan ibukota Nepal, Kathmandu, dan dekat dengan perbatasan India. Banyak media internasional yang menyebut Gadhimai adalah ritual pengorbanan hewan terbesar di dunia.

Antara 6.000 sampai 8.000 ekor kerbau dihabisi dalam upacara Gadhimai tahun 2014, itu belum termasuk ratusan ribu hewan korban lainnya (CNN, 1 Desember 2014). Namun, jumlah yang sudah sangat besar itu ternyata masih kalah jauh jika dibandingkan dengan perayaan 5 tahun sebelumnya.

Tahun 2009, sedikitnya 20.000 ekor kerbau disembelih hanya dalam sehari. Jumlah total berbagai jenis hewan korban saat itu tidak kurang dari 500.000 ekor (The Hindu, 24 November 2009). Namun, saking banyaknya, tidak pernah diketahui dengan rinci berapa jumlah pasti ekor binatang yang dikorbankan pada setiap acara Gadhimai.

Setidaknya butuh waktu 2 x 24 jam untuk menuntaskan prosesi penyembelihan seluruh hewan korban, biasanya hari Jumat dan Sabtu. Eksekusi kerbau selalu dilakukan di hari pertama, dilanjutkan terhadap jenis binatang lainnya pada hari berikutnya.

Baca Juga:

Hanya darah dan kepala hewan korban yang dipersembahkan, sementara dagingnya dibagi-bagikan kepada masyarakat. Maka tak heran, ritual ini selalu menyedot perhatian khalayak, seperti pada 2014 lalu yang diperkirakan dihadiri lebih dari 2,5 juta orang.

Mereka yang datang ke Gadhimai bukan hanya warga negara Nepal, banyak pula orang India. Ada juga peserta atau pengunjung yang datang dari wilayah-wilayah lain, terutama dari negara-negara yang pemerintahnya melarang ritual pembantaian massal terhadap binatang.

Peserta perayaan Gadhimai boleh menyembelih sendiri hewan korban yang dibawanya. Namun, panitia setempat juga menyediakan ratusan orang jagal. Tak hanya orang yang berkorban, para penjagal pun merasa sangat terhormat bisa turut ambil bagian penting dalam upacara suci ini.

"Saya sangat menantikan ini. Tuhan akan memberkati saya untuk itu,” ucap salah seorang jagal bernama Joginder Patel seperti dikutip dari The Guardian (28 November 2014).

Bagi pria yang sudah melakoni profesi jagal Gadhimai dalam 5 edisi terakhir ini, membunuh kerbau merupakan pekerjaan yang sangat mudah. “Semudah memotong sayuran. Pada festival terakhir (2009), saya memenggal 300 ekor kerbau, tapi tahun ini (2014), saya hanya membunuh 175 ekor,” sebutnya.


Pro-Kontra Upacara “Pembantaian”

Pro dan kontra kerap menyertai pelaksanaan upacara Gadhimai. Pihak yang menentang perayaan ini tentu saja adalah para aktivis pecinta binatang, terutama dari Animal Nepal, Animal Welfare Network Nepal, juga Anti-Animal Sacrifice Alliance. Selain karena mengorbankan ratusan ribu hewan hanya dalam tempo 1-2 hari, disoroti pula tentang proses eksekusi yang lebih mirip pembantaian ketimbang penyembelihan.

"Kami keberatan dengan kekejaman terhadap hewan-hewan itu. Mereka mencincang hewan-hewan itu, dan beberapa di antaranya memakan waktu hingga 40 menit sebelum mati,” sebut Pramada Shah dari Animal Welfare Network Nepal (CNN, 1 Desember 2014).

“Setiap bagian tubuh (hewan) bisa dipotong. Kami pernah melihat kerbau berjalan dengan kepala menggantung,” sambung aktivis lainnya, Niraj Gautam.

Hari-hari terakhir yang dialami hewan-hewan korban menjelang dibunuh juga menjadi kecaman. Sebagian besar dari rombongan binatang tersebut diarak dari tempat asalnya yang jauh dengan berjalan kaki, tidak memakai alat transportasi angkut.

“Ketika hewan-hewan itu sampai ke tempat perayaan, kondisinya sudah setengah mati. Mereka dibiarkan dua atau tiga hari tanpa makanan setelah dibawa ke sini,” ungkap Pramada Shah.

Terkait proses pemotongan hewan yang dituding dilakukan dengan keji, seorang pendeta di Kuil Gadhimai, Chandan Dev Chaudhury, menyatakan pembelaannya. "Jika ada yang punya masalah, maka saya akan memotong tenggorokan binatang itu dan masalah akan terpecahkan,” tandasnya (BBC, 24 November 2009).

Walaupun disorot media-media internasional juga mendapat kecaman dari sejumlah pihak, namun pelaksanaan ritual Gadhimai barangkali sangat sulit dihentikan, bahkan oleh pihak yang berwenang di Nepal sekalipun. Agama dan tradisi menjadi alasan utamanya.

“Kami tidak bisa melakukan ini (melarang ritual Gadhimai). Kita tidak bisa menentangnya, ini ada kaitannya dengan budaya,” kata seorang kepala distrik di Nepal yang tidak disebutkan identitasnya dalam laporan CNN.

Baca Juga:

Perayaan Gadhimai 2014 tetap berlangsung ramai meski suara-suara protes semakin keras. Segelintir aktivis pun melakukan aksi simbolis dengan membelah kelapa di luar kuil, barangkali saking putus-asanya. Mereka ingin memberikan pesan, pengorbanan kepada dewa atau dewi tidak harus menumpahkan darah, melainkan bisa diganti dengan buah, sayur, atau hasil bumi lainnya.

Kendati belum tentu membuahkan hasil seperti yang diharapkan, upaya untuk menghentikan pembantaian binatang tampaknya akan terus terjadi di penyelenggaraan upacara Gadhimai berikutnya. “Sangat tidak layak membunuh binatang dengan mengatasnamakan agama,” tutur Direktur Animal Nepal, Uttam Kafle (Reuters, 28 November 2014).

“Kami tetap akan mencoba meyakinkan kepada masyarakat bahwa mereka bisa melakukan pemujaan, namun dengan damai, tanpa perlu melakukan kekejaman terhadap hewan,” tambahnya.

Baca juga artikel terkait GADHIMAI atau tulisan menarik lainnya Iswara N Raditya
(tirto.id - Sosial Budaya)

Reporter: Iswara N Raditya
Penulis: Iswara N Raditya
Editor: Iswara N Raditya
DarkLight