Profil Jiang Zemin & Kisah Hidup Eks Presiden China 1993-2003

Kontributor: Beni Jo, tirto.id - 1 Des 2022 10:01 WIB
Dibaca Normal 2 menit
Jiang Zemin adalah Presiden China periode 1993-2003, berikut profil dan biografi singkatnya.
tirto.id - Mantan Presiden China Jiang Zemin meninggal dunia pada Rabu, 30 November 2022, dalam usia 96 tahun. Jiang Zemin tampil sebagai pemimpin China setelah peristiwa Lapangan Tiananmen 1989.

Ia membawa perubahan besar dalam mengantarkan China menjadi negara adikuasa, termasuk mengembalikan Hong Kong dari kekuasaan Inggris tahun 1997 dan menjadi anggota WTO pada 2001.

Menurut laporan Xinhua, Jiang Zemin meninggal dunia di Shanghai, pada pukul 12.13 waktu setempat, Rabu, 30 November 2022 akibat leukemia dan kegagalan banyak organ.


Pengumuman terkait meninggalnya Jiang Zemin itu disampaikan lewat Komite Sentral Partai Komunis China (CPC), Komite Tetap Kongres Nasional Republik Rakyat China (PRC), Dewan Nasional PRC, Komite Nasional Konferensi Konsultasi Politik Rakyat China (CPPCC), dan Komisi Militer Pusat CPC dan PRC.

Dalam surat yang ditujukan kepada anggota partai, entitas militer, dan seluruh rakyat China itu, mereka turut berduka cita atas meninggalnya Jiang Zemin setelah dilakukan penanganan medis secara maksimal.

Jiang Zemin
Sebuah layar besar menyiarkan mantan Presiden China Jiang Zemin melambai, di sebuah pusat perbelanjaan sepi di Beijing, Rabu, 30 November 2022. (AP Photo/Andy Wong)


Profil Jiang Zemin, Awal Mula China Jadi Negara Adikuasa

Seperti dikutip BBC, Jiang Zemin lahir pada 17 Agustus 1926 di kota Yangzhou, termasuk bagian provinsi Jiangsu, kawasan timur China. Ia tumbuh besar ketika China masih dalam masa pendudukan Jepang dan lulus sebagai seorang insinyur listrik.

Pada usia 21 tahun, Jiang Zemin memberanikan diri masuk sebagai anggota Partai Komunis China kendati statusnya sebagai pelajar.

Sejumlah pengalaman berkarier di luar negeri pernah dijalani Zemin, seperti bekerja di pabrik mobil Soviet di Moskow dan tampil sebagai seorang diplomat di Rumania.


Peristiwa protes besar-besaran di Lapangan Tiananmen, Beijing, tahun 1989 pada masa Deng Xiaoping, menjadi awal mula kemunculan Jiang Zemin di panggung politik China.

Selepas tragedi yang memakan banyak korban tersebut, pihak Partai Komunis China terpecah belah. Salah satu keputusannya menunjuk Jiang Zemin sebagai sekretaris jenderal sekaligus sinyal positif bagi Jiang untuk menjadi pemimpin masa depan.

"Demokrasi dan hak asasi manusia adalah sebuah konsep yang relatif, tidak bersifat absolut dan umum," sebut Jiang Zemin kala itu.



Jiang Zemin akhirnya menjadi Presiden China menggantikan posisi Deng Xiaoping yang lengser. Terpilihnya Jiang sekaligus menandai awal mula China menuju calon negara adikuasa di dunia.

Di bawah kepemimpinannya, Jiang Zemin melakukan sejumlah reformasi, terutama di bidang ekonomi, hingga membawa China sebagai salah satu kekuatan yang layak diperhitungkan.

Selama 1 dekade lebih mengendalikan China, Jiang telah mengantarkan negara tersebut menuju kebangkitan ekonomi dan mampu menarik investasi asing, terlebih pasca-bergabung sebagai anggota WTO (World Trade Organization) tahun 2001.

Bahkan, kemampuan ekonomi China disebut-sebut mampu melewati Jerman dan Jepang hingga menjadi kekuatan terbesar kedua di dunia setelah Amerika Serikat.

Salah satu prestasi Jiang Zemin lainnya ialah bisa mengembalikan Hong Kong dari kekuasaan Inggris pada tahun 1997 secara damai.

Selepas kembalinya Hong Kong, Jiang pun menggelar kunjungan kenegaraan bersejarah ke Inggris pada tahun 1999. Aksi tersebut sempat memicu kontroversi, lantaran lawatan ini dilakukan untuk pertama kalinya seorang pemimpin China ke Inggris.

Selain bertemu Ratu Elizabeth II, Jiang Zemin juga melakukan beberapa kali kunjungan kenegaraan ke Amerika Serikat, sekaligus menegaskan misi China sebagai salah satu kekuatan dunia.

Di tengah dominasi China dalam pentas dunia, era kepemimpinan Jiang Zemin pun meninggalkan duri di dalam negeri. Ia mendapatkan kritikan keras atas tindakan terhadap sekte agama Falun Gong pada tahun 1999, yang menurut mereka dianggap sebagai sebuah ancaman bagi Partai Komunis.

Terlepas dari masalah internal, Jiang Zemin akhirnya memulai masa transisi kepemimpinan dengan menyerahkan jabatan di partai kepada Hu Jintao pada tahun 2002. Hu Jintao juga yang menjadi suksesornya sebagai Presiden China pada Maret 2003.


Baca juga artikel terkait AKTUAL DAN TREN atau tulisan menarik lainnya Beni Jo
(tirto.id - Politik)

Kontributor: Beni Jo
Penulis: Beni Jo
Editor: Alexander Haryanto

DarkLight