Menuju konten utama

Polri: 7 Angkatan jadi Kader Teroris JI, Hasil Rekrutmen sejak 2011

Tujuh angkatan tersebut terdiri dari 96 orang. Rata-rata 10 siswa terbaik yang diajak bergabung untuk mengikuti pelatihan selama enam bulan.

Polri: 7 Angkatan jadi Kader Teroris JI, Hasil Rekrutmen sejak 2011
Kadiv Humas Polri Irjen Pol Raden Prabowo Argo Yuwono (kanan). ANTARA/Anita Permata Dewi/pri.

tirto.id - Densus 88 Antiteror membongkar pusat latihan jaringan Jamaah Islamiyah (JI) di sebuah vila dua lantai di Desa Gintungan, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah. Berdasar temuan Polri ada 12 lokasi pelatihan di Jawa Tengah. Kadiv Humas Polri Irjen Pol Argo Yuwono menyatakan seorang pengajar bernama Joko Priyono alias Karso merekrut pelatih dan peserta.

“Perekrutan generasi muda JI sejak tahun 2011, kemudian ada tujuh angkatan dengan total 96 (kader),” ucap dia di Mabes Polri, Senin (28/12/2020). 66 dari 96 kader berangkat ke Suriah, sisanya berhasil diringkus polisi untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya. Karso merekrut delapan pelatih untuk membantunya.

Sementara para kader merupakan murid di pondok pesantren dan terafiliasi dengan Karso, Rata-rata 10 siswa terbaik yang ia ajak bergabung untuk mengikuti pelatihan selama enam bulan.

Kesepuluh kader itu tidak semuanya lolos lantaran penyeleksian yang dilakukan oleh tim SDM dan pendidikan JI. Nantinya pendidikan yang mereka dapatkan yakni bela diri tangan kosong, cakap menggunakan senjata tajam dan senjata api, merakit bom, serta penyergapan.

Karso merupakan anak buah dari Para Wijayanto, pemimpin JI, yang mendapatkan instruksi untuk melakukan pengaderan. Argo menyatakan setiap bulan, Karso harus merogoh Rp65 untuk upah para pelatih, makan-minum, serta obat-obatan. Sedangkan biaya ke Suriah mencapai Rp300 juta untuk menerbangkan 10-12 kader yang nantinya akan melanjutkan pelatihan bersama Jabhah Nushrah, organisasi yang berafiliasi dengan Al-Qaeda.

Biaya-biaya itu didapatkan dari infak dan kesukarelaan anggota JI. “Anggotanya yang aktif sekitar 6.000 (orang). Kalau satu orang kirim Rp100 ribu, dikali 6 ribu (maka) sudah Rp600 juta. Karso mengilustrasikan seperti itu, tapi banyak juga yang mengirim Rp10 juta, Rp15 juta, Rp25 juta, bervariasi,” jelas Argo.

Anggaran tersebut juga dipergunakan untuk program angkatan berikutnya, tapi Argo emoh menjawab pekerjaan para anggota JI aktif, lantaran itu menjadi bahan penyelidikan Densus 88 Antiteror.

Baca juga artikel terkait TERORISME atau tulisan lainnya dari Adi Briantika

tirto.id - Hukum
Reporter: Adi Briantika
Penulis: Adi Briantika
Editor: Restu Diantina Putri