Peternak Sapi Perah Merugi akibat PMK, Produksi Susu Anjlok

Reporter: Farid Nurhakim - 22 Jun 2022 10:26 WIB
Dibaca Normal 1 menit
APSPI memperkirakan kerugian mencapai Rp105.000 per ekor sapi perah dalam sehari akibat PMK. Peternak juga merugi sekitar Rp25 juta saat sapinya mati.
tirto.id - Peternak sapi perah merugi akibat wabah Penyakit Kuku dan Mulut (PMK). Peternak merugi karena tidak bisa memproduksi susu dan ternaknya rawan mati karena penyakit tersebut.

"Produksi susu sapi perah langsung habis, tidak keluar susunya,” kata Ketua Asosiasi Peternak Sapi Perah Indonesia (APSPI) Agus Warsito kepada reporter Tirto, Selasa (22/6/2022).

Agus menjelaskan susu tidak keluar karena sapi perah tidak mau makan lantaran mulutnya sakit melebihi sariawan. Lalu, sapi juga kesakitan saat ambing dan puting susunya dipegang, terlebih saat diperah.

“Belum lagi kalau sampai mengalami kematian. Sapi perah rentan mati kalau terpapar PMK,” kata dia.

Agus memaparkan rata-rata produksi susu satu ekor sapi sebanyak 15 liter per hari. Dengan harga susu Rp7.000 per liter, maka kerugian mencapai Rp105.000 per ekor dalam sehari.

“Kalau punya 10 ekor, tidak produksi sebulan saja, berarti mengalami kerugian tidak produksi susu sampai [sekitar] Rp30 juta per bulan,” ujarnya.

Belum lagi biaya pengobatan sapi perah yang bergejala PMK mencapai Rp1,5 juta. Saat sapi tersebut mati, peternak merugi sekitar Rp25 juta per ekor.

“Lah kalau yang mati sudah sampai 3.000an ekor? Ngeri dampak ekonominya. Belum lagi, imbas dari turunnya produksi susu secara nasional, terpaksa harus impor susu," kata dia.

Agus menuntut tanggung jawab pemerintah dalam penaganan wabah PMK di Indonesia. Ia juga menuntut pemerintah mengganti kerugian yang dialami para peternak hingga pedagang akibat PMK.

“Tuntut dan meja hijaukan pejabat yang merekomendasikan impor daging beku, kulit, dan jeroan dari negara yang belum bebas dari PMK,” imbuhnya.


Baca juga artikel terkait PMK HEWAN TERNAK atau tulisan menarik lainnya Farid Nurhakim
(tirto.id - Sosial Budaya)

Reporter: Farid Nurhakim
Penulis: Farid Nurhakim
Editor: Gilang Ramadhan

DarkLight