Menuju konten utama

Pertumbuhan Industri Nonmigas di Akhir 2017 Susah Capai Target

Kemenperin menyatakan pertumbuhan industri non-migas pada akhir 2017 sulit melebihi 5 persen.

Pertumbuhan Industri Nonmigas di Akhir 2017 Susah Capai Target
(Ilustrasi) Pengunjung mengamati alat industri yang dipamerkan dalam Manufacturing Indonesia 2017 di JIExpo, Kemayoran, Jakarta, Rabu (6/12/2017). ANTARA FOTO/Sigid Kurniawan.

tirto.id - Sekretaris Jenderal Kementerian Perindustrian Haris Munandar mengakui pertumbuhan industri nonmigas untuk periode kuartal akhir 2017 sulit memenuhi target 5,4 persen. Bahkan diperkirakan, pertumbuhan hanya bisa mendekati 5 persen.

Dia mencatat pertumbuhan industri nonmigas 2017 pada kuartal I mencapai sebesar 4,3 persen, kuartal II 3,89 persen, dan kuartal III 5,49 persen.

“Akhir tahun enggak sampai 5 persen. Kita mungkin bisa dorong mendekati 5 persen, tapi enggak sampai 5 persen. Tahun depan (target pertumbuhan 2018) 5,6 persen saya kira masih realistis. Enggak realistis kalau kita patok 7 persen,” ujar Haris dalam acara Seminar Nasional Outlook Industri 2018 di Jakarta pada Senin (11/12/2017).

Haris menjelaskan target tersebut tidak dapat tercapai lantaran dipengaruhi faktor eksternal, yaitu pasar global yang memiliki banyak persoalan terkait proteksionisme di sebagian negara. Banyak negara yang memaksimalkan produsen dan daya saing lokal, peningkatan kelas menengah, dan sebagainya. Sementara hambatan faktor internal dari dalam negeri terhadap pertumbuhan industri nonmigas, yaitu meliputi ketersediaan infrastruktur, bahan baku, energi.

“Bahan baku kita kurang, 70 persen bahan baku dan bahan penolong kita masih impor. Itu secara total industri,” kata dia.

Meskipun demikian, Haris optimistis bahwa target tahun depan realistis karena didorong faktor pembangunan infrastruktur yang akan memberikan dampak positif untuk mendorong kemudahan distribusi logistik industrial. Jika sarana dan prasarana infrastruktur logistik memadai, khususnya di kawasan industri, maka otomatis pertumbuhan industri akan jauh lebih baik.

“Yang jelas pemerintah sudah dorong infrastruktur, kita sudah ada paket-paket kebijakan untuk percepatan berusaha, banyak melakukan deregulasi. Pemerintah enggak main-main, kita berusaha terus untuk harga gas turun, insentif untuk indeks industri kita naik,” ujar dia.

Selain infrastruktur, Haris mengatakan pemerintah saat ini juga sudah berfokus dalam mengembangkan kualitas sumber daya manusia sebagai tenaga kerja penggerak industri. Pemerintah akan memberikan insentif tax allowance 200 persen kepada dunia usaha berbasis industri untuk melakukan pemagangan (vokasi) yang bisa membina para murid SMK. Pasalnya ada 70 juta pengangguran di Indonesia, yang mana 11 persennya adalah lulusan SMK.

Pemerintah juga memberikan insentif kepada industri 300 persen untuk dapat meningkatkan aspek resource and development (R&D) Indonesia yang masih rendah. “Ini kan langkah terobosan jadi tidak ada APBN dipakai di situ. Kalau APBN sudah jelas enggak bisa, susah,” ucapnya.

Haris menilai program-program tersebut bersifat berkelanjutan. Ia menambahkan faktor pendorong itu juga meliputi hilirisasi untuk memenuhi pengadaan bahan baku/penolong (raw material), agar dapat menekan nilai impornya.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat nilai impor raw material selama Januari-Oktober 2017 sebesar 13,401 miliar dolar AS. Nilai tersebut lebih tinggi dibanding impor barang konsumsi 1,359 miliar dolar AS dan barang modal 1,716 miliar dolar AS.

“Kita dorong kan ada raw material dari agro, petrokimia, logam dasar. Kita yang jelas ada hilirisasi dengan smelter-smelter. Kita udah ada alumina untuk memasok industri alumunium, walaupun industri alumunium kita kapasitas produksi masih kecil, enggak sampai 300 ribu ton,” sebutnya.

Hilirisasi akan mendorong pemenuhan kebutuhan baja yang sekitar 12 juta ton, sementara saat ini produksinya masih 6-8 juta ton.

“Kalau itu terpenuhi kita malah bisa ekspor. Optimis bisa turunkan impor raw material. Persentasenya kalau kita bisa turunkan impor menjadi di bawah 60 persen saja, dari 70 persen saat ini, itu kita hebat,” ujarnya.

Kemenperin memproyeksikan yang akan menjadi penopang pertumbuhan industri nonmigas pada 2018, meliputi sektor agrobisnis, industri kimia tekstil dan aneka (IKTA), dan industri logam, mesin, alat transportasi dan elektronika (Ilmate).

Kemudian Haris menyebutkan proyeksi kontribusi masing-masing sektor, ialah Agrobisnis 2,5 persen, IKTA 1,5 persen, ILMATE 1,5 persen, dan dilengkapi dari IKM.

Baca juga artikel terkait INDUSTRI atau tulisan lainnya dari Shintaloka Pradita Sicca

tirto.id - Ekonomi
Reporter: Shintaloka Pradita Sicca
Penulis: Shintaloka Pradita Sicca
Editor: Addi M Idhom