12 Juni 2018

Pertemuan Kim Jong-un dan Trump: Tanpa Hasil Konkret hingga Kini

Ilustrasi pertemuan Donald Trump dengan Kim Jong-un. tirto.id/Nauval
Oleh: Felix Nathaniel - 12 Juni 2020
Dibaca Normal 4 menit
Donald Trump mencatat sejarah: ia bertatap muka dengan Kim Jong-un. Belum ada hasil nyata sampai sekarang.
Kim Jong-un mengunjungi Korea Selatan, Singapura, dan Cina pada 2018. Setahun berselang, Kim juga mengunjungi Vietnam dan Rusia, serta Cina dan Korea Selatan untuk kedua kalinya. Momen paling menghebohkan publik bukan hanya saat Kim berkunjung ke Korea Selatan, tapi juga Singapura. Di sana, Kim menjabat erat tangan pemimpin Amerika Serikat, Donald Trump. AS, sepanjang sejarah Korea Utara, adalah musuh besar mereka.

Bagi sebagian orang Korea, AS tampak sebagai pahlawan. Pada 1910 Kekaisaran Jepang menguasai seluruh wilayah Korea. Mulai saat itu Jepang bermaksud menghapuskan budaya Korea. Protes besar dari orang Korea yang muncul pada 1919 berujung pada maut yang keji. Tentara Jepang membabi buta menembaki para demonstran.

Maka ketika Jepang kalah Perang Dunia II, masyarakat Korea menyambut gembira, sama seperti Indonesia dan negara-negara lain yang diduduki Jepang. Ledakan little boy dan fat man—dua nama bom atom yang dijatuhkan AS—meluluhlantakkan Hiroshima dan Nagasaki. Tidak lama setelahnya, Jepang memutuskan untuk menyerah. Indonesia berhasil merdeka, tetapi tidak dengan Korea.

Daerah pendudukan Jepang itu justru menjadi bagian dari Perang Dingin antara AS dan Uni Soviet. Soviet di bawah pimpinan Joseph Stalin menjalin hubungan dengan Korea Utara, sedangkan AS di bawah Harry S. Truman menguasai Korea Selatan. Keinginan menyatukan seluruh Semenanjung Korea ini akhirnya memicu perang saudara Korea Utara-Korea Selatan.


Korea Selatan memilih merdeka pada Agustus 1948. Tak mau ketinggalan, Korea Utara mendirikan negara sosialis pada September 1948. Mereka dipisahkan oleh batas paralel ke-38 yang disepakati kedua pihak.

Pada 1950 Korea Utara melakukan invasi. Pasukan mereka melewati batas tersebut dan merangsek masuk ke Korea Selatan. Beberapa pihak mempertanyakan apakah keputusan ini diambil pemimpin Korea Utara Kim Il-sung secara pribadi atau atas persetujuan Uni Soviet. Empat dekade kemudian, sebuah dokumen yang ditemukan dua sejarawan Amerika Serikat, Kathryn Weathersby dan David Holloway, membuktikan Stalin mengetahui dan mendukung invasi tersebut. Bukan hanya Stalin, Kim juga pergi meminta bantuan pada pemimpin komunis lainnya, Mao Zedong.

Hasilnya jelas. Perang Korea berlangsung antara Uni Soviet-Cina-Korea Utara melawan AS-Korea Selatan. Meski Korea Selatan juga mendapat dukungan PBB, sebagian besar pasukan militer yang diperbantukan ke Korea Selatan berasal dari AS. Inilah awal mula kebencian Korea Utara terhadap AS dan terus membatin hingga puluhan tahun.

Seluruh dunia paham akan hal itu. Maka ketika pada 12 Juni 2018, tepat hari ini dua tahun lalu, Presiden AS Donald Trump dan Pemimpin Tertinggi Korea Utara Kim Jong-un berjabat tangan dalam pertemuan di Singapura, fakta itu menjadi sejarah baru.


Mencegah Perang Nuklir

Pada 2017 Korea Utara tiba-tiba mengalami kemajuan pesat dalam senjata nuklir. Selain mengenalkan intercontinental ballistic missile (ICBM) dan senjata termonuklir, Korea Utara melakukan peluncuran misil secara nyata. Dua misil melintas di atas wilayah Jepang dan jatuh di perairan Pasifik. Kendati tidak ada korban jiwa, tindakan ini cukup membuat was-was Jepang.

Bukan hanya Jepang yang geram dengan uji coba misil itu, tapi juga Negeri Paman Sam.

Uji coba misil itu dianggap ancaman oleh Trump. Melalui akun Twitter @realDonaldTrump, Presiden AS ke-45 itu mengingatkan bahwa kebijakan pertamanya setelah dilantik sebagai presiden adalah memperkuat persenjataan nuklir. Tanpa keraguan, Trump menyebut persenjataan AS “lebih kuat dan bertenaga daripada sebelumnya.”

Trump juga menegaskan kepada para pemimpin dunia, terutama Kim Jong-un, sebaiknya tidak melakukan apapun untuk mengancam keamanan AS. Jika itu terjadi, maka Korea Utara akan menghadapi amarah yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya.

Saat pertemuan dengan PBB pada September 2017, Trump kembali mengucapkan hal serupa. Dia juga menyebut Kim sebagai “manusia roket kecil” yang membahayakan. Trump mengultimatum bahwa AS siap “membumihanguskan” Korea Utara jika diperlukan. Bagi Trump, negosiasi dengan Jong-un adalah usaha sia-sia belaka.

Perubahan besar datang di awal 2018. Sebelum realisasi pertemuan Jong-un dengan Presiden Korea Selatan Moon Jae-in pada April, utusan Korea Selatan mendatangi Trump. Pertemuan itu terjadi di tanggal 8 Maret 2018. Pesan yang dibawa sang utusan: Pemimpin Tertinggi Korea Utara Kim Jong-un mau bertemu dengan Donald Trump secepatnya.

Trump kemudian membawa seluruh penasihat seniornya ke ruang oval. Keputusan Trump mungkin tidak diduga para pembantunya.

“Aku ingin menemuinya,” kata Trump seperti dilansir Time. “Bagaimana menurut kalian?”


Menilik sejarah hubungan AS-Korea Selatan dan rekam jejak Jong-un hingga saat itu, pertemuan tersebut bisa menjadi malapetaka. Bukan saja tidak ada kesepakatan, kemungkinan yang terburuk adalah perang nuklir.

Namun keputusan Trump bergeming. Dia kemudian mengundang Chung Eui-yong, penasihat keamanan nasional Korea Selatan dan delegasi lainnya masuk ke ruang oval. Eui-yong menjanjikan Kim bersedia melucuti persenjataan nuklirnya, menyetujui latihan militer bersama Korea Utara-AS, dan menghentikan uji coba misil dan nuklir.

Demi menjaga agar janji itu bukan omong kosong, Trump mendesak Eui-yong untuk mengumumkan secara resmi. Hanya dalam hitungan jam, Eui-yong mendapat persetujuan dari Moon Jae-in. Resmi sudah, Trump dan Jong-un sepakat untuk bertemu dalam waktu dekat. Satu yang tak bisa ditawar: Korea Utara harus melucuti senjata nuklirnya. Ini adalah kesempatan terakhir berdamai dengan AS di bawah pimpinan Trump.

“Aku merasa Kim Jong-un ingin melakukan sesuatu yang berguna bagi warganya dan dia punya kesempatan itu. Dia tidak akan punya kesempatan seperti ini lagi,” kata Trump sebelum bertolak ke Singapura untuk bertemu Jong-un.


Kedamaian yang Singkat

Jong-un dan Trump benar-benar bertemu di Singapura. Dengan latar belakang bendera Korea Utara dan AS selang-seling, mereka berdua berjalan tepat ke tengah panggung. Jepretan kamera yang tak terhitung menyertai mereka. Setelahnya Trump dan Jong-un pergi ke ruangan lain untuk melakukan konferensi pers bersama-sama. Senyum lebar tampak di wajah keduanya.

“Saya merasa luar biasa. Kami akan melakukan diskusi yang hebat dan saya pikir ini akan sukses,” kata Trump seperti dilansir Guardian.

“Masa lalu seakan-akan menjadi bulu di tubuh kita dan prasangka serta praktik lama menjadi hambatan kita bergerak maju,” ujar Jong-un selanjutnya. “Tapi kami telah melalui itu semua dan kami semua hadir di sini hari ini.”

Sekembalinya Trump ke AS, ia menilai Korea Utara bukan lagi sebuah ancaman serangan nuklir. Pertemuan ini menjadi tonggak pertemuan lain antara Korea Utara dengan AS, bahkan pejabat dunia lain.

Wacana denuklirisasi atau penghapusan senjata nuklir ini tidak banyak mengalami perkembangan. AS menuntut Korea Utara benar-benar menyerahkan seluruh senjata nuklirnya. Sedangkan Korea Utara mendesak agar AS menghapus seluruh senjata nuklirnya yang berada di Korea Selatan, termasuk senjata sekelas nuklir lainnya. Pemahaman denuklirisasi yang tidak kompak di antara keduanya menjadi penghambat utama pelucutan nuklir tidak berjalan sampai sekarang.


Berbagai hambatan itu kemudian memicu tindakan gegabah Korea Utara. Pada awal 2020, ketika dunia disibukkan dengan pandemi COVID-19, Korea Utara justru meluncurkan uji coba misil lainnya. Dalam satu bulan, tepatnya Maret 2020, ada enam benda yang sulit teridentifikasi ditembakkan Korea Utara dan melintasi langit Jepang. Sebagian besar diperkirakan berasal dari kamp militer Korea Utara di Pyongyang.

Pada akhir 2019 Jong-un mengultimatum bahwa ia tidak akan tunduk lagi pada moratorium uji coba senjata dan meningkatkan usaha pencegahan senjata nuklir. Pencegahan ini, bagi Jong-un, adalah menciptakan senjata yang setingkat atau lebih kuat daripada nuklir.

“Dunia akan melihat rencana strategis persenjataan baru yang dimiliki DPRK (Korea Utara) dalam waktu dekat,” tegas petinggi Korean Central News Agency mengutip omongan Jong-un seperti dilansir Financial Times.

Bagaimanapun juga pertemuan Trump dan Jong-un pada 2018 memang menjadi sejarah tersendiri. Untuk pertama kalinya presiden AS bertemu pemimpin Korea Utara. Namun sejarah itu belum selesai. Boleh jadi akan ada babak baru dalam hubungan kedua negara tersebut.

Baca juga artikel terkait AS VS KOREA UTARA atau tulisan menarik lainnya Felix Nathaniel
(tirto.id - Politik)

Penulis: Felix Nathaniel
Editor: Ivan Aulia Ahsan
DarkLight