Perhutani Optimistis Saingi IKEA

- 29 Maret 2016
Dibaca Normal 1 menit
tirto.id - [caption id="attachment_1974" align="alignnone" width="740"]
Duta Besar Inggris untuk Indonesia Moazzam Malik (tengah) melihat hasil produksi penggergajian kayu saat mengunjungi sentra pengrajin mebel di Desa Mindahan, Batealit, Jepara, Jawa Tengah, Selasa (23/2). Kunjungan tersebut dalam rangka meninjau industri kehutanan serta prospek dan ancaman bagi ekspor produk kayu Indonesia serta menindak lanjuti kesepakatan kemitraan pemerintah Indonesia dengan Inggris dan Uni Eropa bernama FLEGT (Forest Law Enforcement Governance and Trade) Valuntary Partnership mengenai perdagangan penuh produk kayu dengan Uni Eropa. ANTARA FOTO/Yusuf Nugroho/foc/16.
Hasil produksi penggergajian kayu di sentra pengrajin mebel di Desa Mindahan, Batealit, Jepara, Jawa Tengah, Selasa (23/2). ANTARA FOTO/Yusuf Nugroho.[/caption]

Perum Perhutani pada tahun 2016 menarget bisa menyaingi IKEA, peritel perabot untuk rumah tangga asal Swedia. Perhutani akan mendirikan anak usaha yang khusus menangani bisnis mebel berbasis kayu guna memenuhi kebutuhan ekspor dan dalam negeri.

"Targetnya harus bisa bersaing dengan peritel perabot IKEA. Perusahaan ini dalam empat tahun ke depan siap menjadi pemasok mebel rumah tangga berbasis kayu terbesar di Tanah Air bahkan memenuhi pasar ekspor," kata Direktur Utama Perhutani, Mustoha Iskandar, usai acara Peringatan HUT ke-55 Perhutani, di Gedung Manggala Wanabakti, Jakarta, Selasa, (29/3/2016).

Untuk diketahui, IKEA merupakan perusahaan ritel perabot untuk rumah tangga, hotel, perkantoran, dan kondominium berasal dari Swedia. Perusahaan ini, pada Oktober 2014 membuka gerai pertama di Indonesia. Cabangnya di Indonesia ini merupakan cabang ke 364 di 46 negara.

Mustoha mengatakan, pendirian anak usaha tersebut masih dalam persiapan dengan menggandeng perusahaan lokal maupun asing.

"Kita sedang meminta izin dari pemegang saham. Intinya Perhutani tetap mayoritas minimal 51 persen," ujar Mustoha.

Perhutani percaya diri mendirikan anak usaha sejalan dengan kapasitas, kualitas, dan sumber bahan baku kayu yang memungkinkan bisa memproduksi produk-produk bernilai tinggi. Menurutnya, IKEA tidak memiliki bahan baku, tidak punya pabrik, namun hanya memiliki gerai dan “branding.”

"Saatnya Perhutani jangan hanya menjadi tukang saja, tetapi sudah saatnya dengan menjadi 'pengusaha' atau pebisnis di industri kayu, sehingga bisa menjadi seperti IKEA," ujar Mustoha.

Mustoha mengungkap, Perhutani sedang menggandeng mitra seperti pemodal, desainer furniture, pengrajin, hingga Asosiasi Industri Permebelan & Kerajinan Indonesia (Asmindo).

"Bahan baku dipasok dari Perhutani, disain dan kreatifnya diolah para mitra, kemudian kita mencarikan pasar dengan merek membawa nama Indonesia," ungkap Mustoha.

Saat ini Perhutani menghasilkan ragam jenis kayu, seperti jati, pinus, mahoni, damar, akasia, sengon, jabon hingga rotan dan bambu. Selama ini, kayu-kayu tersebut dipergunakan sebagai bahan furniture, flooring, decking serta listoni, skirting, dan lain-lain. (ANT)

Baca juga artikel terkait ASOSIASI INDUSTRI PERMEBELAN DAN KERAJINAN INDONESIA atau tulisan menarik lainnya
(tirto.id - Bisnis)

Reporter: Mutaya Saroh
Penulis: