Menuju konten utama
Mozaik

Pentingnya Profil Genetik Individu dalam Kedokteran Presisi

Kedokteran presisi atau kedokteran yang dipersonalisasi menggunakan profil genetik individu untuk memandu dokter membuat sejumlah keputusan penting.

Pentingnya Profil Genetik Individu dalam Kedokteran Presisi
Header Mozaik Kedokteran Presisi. tirto.id/Tino

tirto.id - Akhir Mei 2020, dunia tengah tergagap-gagap mencerna pandemi Covid-19 yang seketika mengubah semua aspek kehidupan. Perkuliahan Hamzah, seorang mahasiswa di Depok, pun beralih ke platform daring karena kampusnya meniadakan pembelajaran secara tatap muka untuk mencegah penularan virus corona yang mematikan.

Meski demikian, Hamzah merasa tubuhnya demam. Ketakutan tertular Covid-19 pun segera merasuki benaknya. Tetapi di lehernya muncul benjolan.

“Jika itu infeksi biasa, maka harusnya sembuh sendiri dalam beberapa hari,” begitu keyakinan Hamzah.

Seminggu berlalu, alih-alih benjolannya berkurang, justru malah muncul dua benjolan baru di leher. Ia pun memeriksakan diri ke klinik kampus yang segera merujuknya ke RSUI. Sampel darah Hamzah diambil untuk diperiksa. Beberapa hari kemudian, Hamzah kembali ke RSUI untuk mendapati bahwa dirinya positif terdiagnosis tuberkulosis (TB).

Sejak hari itu, Hamzah harus melanggar aturan PPKM untuk bolak-balik ke RSUI melakukan kontrol serta mengambil obat, termasuk tindakan biopsi yang ia jalani pada bulan ke delapan, ketika TB-nya tak kunjung sembuh. Dokter meminta Hamzah melanjutkan pengobatan dengan dosis antibiotik yang sama. Setelah satu tahun, Hamzah dinyatakan sembuh dari TB.

Hamzah hanyalah satu di antara lebih dari 900 ribu penderita TB di Indonesia. Setelah India, Indonesia berada pada peringkat kedua dengan kasus tahunan tertinggi untuk TB (2.1 TB incidence), yang menjadi masalah kesehatan nasional selama satu dasawarsa terakhir.

Pandemi Covid-19 semakin membuat upaya diagnosis dan pengobatan TB mengalami hambatan, setidaknya dalam hal pendanaan TB yang berpotensi dialihkan untuk penanganan pandemi. Kemajuan yang telah dicapai hingga 2019 jadi melambat atau bahkan mundur.

Angka pelaporan pasien baru TB berkurang 18 persen pada tahun 2020 menjadi 5,8 juta orang, padahal pada 2019 jumlahnya mencapai 7,1 juta orang secara global.

Berkurangnya jumlah penderita yang dilaporkan ini mengisyaratkan banyaknya penderita TB yang tak terdiagnosis dan mendapatkan pengobatan. Akibatnya jumlah kematian akibat TB dan penularannya di masyarakat meningkat.

Secara global, perkiraan jumlah kematian akibat TB meningkat sepanjang 2019-2021, padahal angkanya sempat menurun antara 2005 hingga 2019 (World Health Organization, Global Tuberculosis Report 2022).

Pelajaran yang diperoleh selama pandemi memang harus dibayar sangat mahal. Pelajaran penting ini termasuk kesadaran untuk memetakan profil genetik atau genom manusia Indonesia menuju kedokteran presisi di masa depan.

Profil Genetik Manusia Indonesia

Indonesia yang multietnis memiliki lebih dari 1.300 suku bangsa yang tersebar pada sekitar 278 juta penduduk. Setiap etnis memiliki keunikan genetik yang dapat memengaruhi distribusi penyakit di seluruh Indonesia. Misalnya, beberapa etnis memiliki kerentanan lebih terhadap penyakit tertentu.

Bukan tanpa sebab jika Indonesia disebut sebagai bagian dari Sabuk Talasemia--membentang dari Mediterania hingga Asia Tenggara--mengisyaratkan beberapa suku di sejumlah provinsi memiliki prevalensi yang tinggi pada penyakit ini.

Dari 1.300-an etnis yang tersebar di seluruh Nusantara tersebut, masing-masing memiliki pola makan dan budaya kuliner berbeda, serta hidup dengan lingkungan alam yang juga beragam sesuai kondisi geografis masing-masing.

Profil genetik, makanan, dan mikroba usus rupanya berinteraksi dalam menentukan kesehatan seseorang, menjadikan populasi Indonesia sebagai laboratorium hidup yang sangat kaya.

Belum lagi terjadinya kawin-mawin antaretnis yang membawa serta akulturasi budaya, terutama pola makan. Mungkinkah berpotensi memperkaya variasi genetik dalam struktur populasi manusia Indonesia?

Dalam pengembangan obat pun, studi keragaman genetik manusia Indonesia menjadi sangat penting mengingat tidak semua obat memiliki efek yang sama untuk semua ras atau suku bangsa.

Ketika pandemi Covid-19 menghantam sistem kesehatan Indonesia, semakin disadari pentingnya mengenali berbagai varian virus corona yang masuk Indonesia untuk keperluan pengobatan, termasuk mengenali urutan DNA manusia Indonesia.

Data varian virus corona diperoleh melalui pembacaan urutan DNA virus yang dilakukan menggunakan mesin NGS (NextGen Sequencing)--jumlah mesin ini di Indonesia naik dua kali lipat selama dua tahun pandemi. Ini termasuk mesin pengurut DNA dengan kemampuan penapisan massal berdaya tinggi (high throughput machine) yang memiliki kapasitas memeriksa ratusan sampel manusia per pekan.

Data urutan DNA ini penting untuk mengidentifikasi biomarker alias penanda-penanda biologis individu untuk mengobati pasien secara lebih presisi. Mesin pengurut DNA juga penting untuk mengenali bakteri dan virus penyebab penyakit sehingga dapat dikenali antibiotik yang tepat untuk melawan bakteri/virus tersebut.

Menurut Ines Atmosukarto, Tenaga Ahli Menteri Kesehatan Bidang Inovasi Medis, kedokteran presisi merupakan kebutuhan saat ini mengingat data mengindikasikan bahwa 90 persen pengobatan ternyata tidak efektif pada 50 persen pasien.

Obat yang sama untuk satu penyakit bisa direspons berbeda oleh tiap individu, sehingga hasilnya bisa membaik atau sembuh, tidak ada perubahan, atau malah mengakibatkan efek samping.

Dengan analisis biomarker sebagai tulang punggung kedokteran presisi, maka tiap pasien bisa mendapatkan pengobatan sesuai data genomik pribadinya dan memperoleh hasil positif serta mengurangi efek samping obat.

Mungkin Hamzah tidak perlu menjalani biopsi ketika antibiotik TB yang ia konsumsi disesuaikan dengan profil genetik kuman atau bakteri penyebab TB yang ia derita. Mungkin juga ia tak harus menjalani masa pengobatan dua kali lebih panjang dibanding pasien TB pada umumnya.

Dengan beban penyakit berlapis, Indonesia harus segera berpaling pada kedokteran presisi. Dikutip dari CNN Indonesia, Beban berlapis yang dimaksud adalah meningkatnya penyakit tidak menular akibat gaya hidup seperti penyakit jantung, stroke, diabetes, dan kanker.

Juga munculnya penyakit infeksi baru seperti flu burung, TB-RO (resisten obat), dan Covid-19, serta belum tertanganinya penyakit-penyakit menular seperti demam berdarah, TB, malaria, rabies, dan HIV/AIDS. Selain itu, persoalan gizi buruk juga belum teratasi.

Kedokteran Presisi

Kedokteran presisi atau disebut juga kedokteran yang dipersonalisasi (personalized medicine) adalah praktik baru yang semakin berkembang dengan menggunakan profil genetik individu untuk memandu dokter membuat keputusan terkait pencegahan, diagnosis, dan pengobatan penyakit.

Profil genetik pasien dapat membantu dokter menentukan pengobatan dan terapi yang cocok dengan dosis yang tepat. Kedokteran presisi dimungkinkan ketika pada tahun 1990 hingga 2003 dilakukan The Human Genome Project, suatu prakarsa internasional kolaboratif guna memetakan dan mengurutkan genom manusia untuk pertama kalinya dalam sejarah penelitian biomedis.

Seiring dengan kemudahan teknologi dan murahnya biaya pengurutan genom, banyak negara mulai merintis pemetaan profil genetik populasinya. UK Biobank yang berdiri pada 2006 kini memiliki sekitar satu juta profil genom dari warga Inggris yang menjadi relawan.

Infografik Mozaik Kedokteran Presisi

Infografik Mozaik Kedokteran Presisi. tirto.id/Tino

Bahkan dalam lima tahun ke depan, Inggris siap mengurutkan 5 juta genom warganya, termasuk genom penderita kanker langka.

Semakin kaya profil genetik yang dimiliki suatu negara, maka makin memungkinkan bagi negara tersebut mewujudkan kedokteran presisi. Singapura pun tengah mewujudkannya melalui PRECISE (Precision Health Research) yang mendata profil genetik berbagai suku bangsa di Singapura, antara lain, China, Melayu, dan India.

Sementara profil genetik manusia Indonesia masih kosong dalam peta genom populasi global. Misalnya, dalam Cancer Genome Atlas Program, data genomik yang tersedia lebih banyak didominasi ras Kaukasia, lalu diikuti Hispanik, dan terakhir adalah data manusia Asia, yang memperlihatkan kesenjangan besar pada data populasi Asia Tenggara.

Kekosongan profil genetik suku bangsa di Indonesia menyebabkan pengobatan penyakit kanker dilakukan dengan landasan profil genetik bangsa Kaukasia, yang berpotensi terjadinya salah pengobatan.

Lalu, apa yang harus dilakukan Indonesia?

“Indonesia harus mengumpulkan banyak data, mengurutkan genome sampel relawan sebanyak mungkin serta melihat pola-pola genetik, sehingga kekosongan data manusia Indonesia dapat terisi dan kesalahan pengobatan pun dapat dihindari," ujar Ines menutup wawancara pada Selasa, 29 Agustus 2023.

Ines menambahkan, untuk mengisi kekosongan itu, persis setahun lalu, pemerintah lewat Kementerian Kesehatan menggagas Biomedical & Genome Science Initiative yang sejalan dengan PRECISE Singapura dan UK Biobank sebagai landasan menuju kedokteran presisi.

Baca juga artikel terkait KEDOKTERAN atau tulisan lainnya dari Uswatul Chabibah

tirto.id - Kesehatan
Kontributor: Uswatul Chabibah
Penulis: Uswatul Chabibah
Editor: Irfan Teguh Pribadi