Menuju konten utama
Penanganan Gempa di Cianjur

Pemerintah Buka Layanan Psikososial di Lima Kecamatan Cianjur

Layanan dukungan psikososial bertujuan untuk memberikan perlindungan khusus dan memulihkan kondisi psikis para korban gempa di Cianjur.

Pemerintah Buka Layanan Psikososial di Lima Kecamatan Cianjur
Sejumlah anak bermain saat kegiatan dukungan psikologi anak terdampak gempa di Taman Prawitasari, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, Minggu (27/11/2022). ANTARA FOTO/Raisan Al Farisi/tom.

tirto.id - Pemerintah membuka layanan dukungan psikososial di lima kecamatan di Cianjur, Jawa Barat, yang paling terdampak bencana gempa bumi. Deputi Bidang Perlindungan Khusus Anak, Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), Nahar mengatakan lima kecamatan itu meliputi Cianjur, Cugenang, Gekbrong, Warungkondang, dan Pacet

"KemenPPPA bersama kementerian/lembaga dan Lembaga Perlindungan Anak telah mendorong desa di lima kecamatan terdampak diberikan layanan dukungan psikososial, proses pendampingan, pemulihan terhadap anak-anak dan keluarga dapat dilaksanakan dengan cepat," kata Nahar dikutip dari Antara, Jumat (2/12/2022).

Nahar menjelaskan layanan dukungan psikososial bertujuan untuk memberikan perlindungan khusus dan memulihkan kondisi psikis para korban usai gempa bermagnitudo (M) 5,6 pada 21 November 2022.

"Tentu ini sebagai upaya untuk menjaga agar anak dan keluarganya tidak menghadapi tekanan psikis yang lebih berat dan permanen atau trauma," kata dia.

Layanan ini memfasilitasi pemulihan sesuai kebutuhan individu, keluarga, dan komunitas usai gempa.

"Agar yang mengalami masalah psikis dapat segera berpartisipasi dalam kehidupan sosial, tetap bisa belajar, dan membangun hubungan yang baik dengan keluarga dan teman-temannya," ujar Nahar.

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat per 1 Desember 2022, sebanyak 329 korban meninggal, 11 masih dalam pencarian, korban luka mencapai 595 orang, dan 59 orang korban luka berat masih dirawat.

BNPB mencatat 114.683 orang masih mengungsi di antaranya 54.781 pengungsi laki-laki dan 59.902 pengungsi perempuan yang tersebar di 494 titik pengungsian.

Data terpilah hingga 1 Desember 2022 pukul 21.37 WIB, tercatat pengungsi anak usia 0-17 tahun terdiri dari bayi 0-1 tahun sebanyak 3.027 orang, balita usia 1-5 tahun sebanyak 9.303 orang, anak-anak usia 6-12 tahun sebanyak 13.818 orang, anak usia 13-17 tahun sebanyak 10.072 orang, dan ibu hamil sebanyak 1.640 orang.

Di antara pengungsi anak, tercatat 143 anak terpisah dari orang tuanya. "Ini perlu perhatian dari sisi kesehatan, perlindungan, dan pengasuhan anak," kata Nahar.

Baca juga artikel terkait GEMPA CIANJUR

tirto.id - Sosial budaya
Sumber: Antara
Editor: Gilang Ramadhan