Pelecehan di Women's March: Ruang Aman Berekspresi yang Dirampas

Oleh: Alfian Putra Abdi - 10 Maret 2020
Dibaca Normal 1 menit
Women's March, seperti namanya, seharusnya jadi ruang aman bagi perempuan. Tapi itu tidak terjadi tahun ini.
tirto.id - Seharusnya Womens' March Jakarta yang berlangsung pada Minggu (8/3/2020) lalu memberikan rasa aman bagi para pesertanya yang mayoritas perempuan untuk berekspresi. Namun tidak demikian bagi Neno. Perempuan 30 tahun itu justru menjadi korban tindakan seksual non-fisik yang mengakibatkan rasa tidak nyaman—Komnas Perempuan mengkategorikannya sebagai 'pelecehan seksual'.

Peristiwa ini terjadi ketika di mobil komando seseorang tengah beroprasi dan barisan massa menepi ke trotoar karena kepanasan. Saat itu Neno dan rombongannya "disorakin dan diketawain" gerombolan pria. Neno tidak tahu para pria ini berasal dari mana. Ia hanya tahu mereka berseragam merah dan termasuk peserta parade.

"Cara memandang mereka yang bikin kami enggak nyaman," katanya kepada reporter Tirto, Senin (9/2/2020).

Menurutnya ini terjadi karena ia dan kawan-kawannya membawa poster bergambar vagina. "Mereka nunjuk-nunjuk itu [poster] dan ketawa-ketawa, sama suit-suit dan bilang, 'bisa tuh.' Terus karena aku jalan sama temenku yang gay, mereka ngatain temenku 'ih bencong, ada bencong.'" Hal ini juga terjadi karena pakaian yang ia kenakan, yaitu crop top, kata Neno. Gerobolan ini juga menunjuk-nunjuk Neno.

Hal serupa dialami pemilik akun Twitter bernama @heyitsmonde. "Gue mengalami catcalling dari bapak-bapak," katanya. "Mereka juga peserta aksi."

Parade Hari Perempuan Internasional diorganisasi oleh GERAK Perempuan—koalisi masyarakat lintas sektor, dari buruh hingga mahasiswa. Kejadian ini ironis karena salah satu kampanye mereka dalam parade adalah adalah hentikan kekerasan dan pelecehan terhadap perempuan.

"Aksi yang biasanya jadi safe space, jadi tempat yang enggak nyaman," kata Neno, membandingkan dengan aksi serupa beberapa tahun sebelumnya.


Koordinator Program Penelitian Perempuan Mahardhika Vivi Widyawati berpendapat pelecehan seksual tidak akan terjadi jika para pelaku mendapat pendidikan kesetaraan gender di organisasinya--mengenakan seragam menandakan mereka adalah anggota organisasi yang terlibat dalam parade--dan membiasakan tidak mengobjektivikasi perempuan dalam kehidupan sehari-hari.

Pelecehan seksual yang terjadi pada parade Hari Perempuan Internasional ini menunjukkan bahwa "pelecehan seksual belum merata dilihat sebagai persoalan di kalangan pergerakan," katanya kepada reporter Tirto, Senin.

Oleh karenanya ia berharap kasus ini "menjadi refleksi bersama," dan para pelaku "berubah serta memberi ruang yang lebih banyak bagi perempuan."

Akan Ditindak

Koordinator GERAK Perempuan Lini Zurlia mengaku "sangat marah" dengan kejadian ini. Kepada reporter Tirto, ia mengatakan "akan menindaklanjuti kejadian ini."

Sama seperti Vivi, menurutnya kasus ini adalah bukti bahwa gerakan perempuan masih punya pekerjaan rumah besar yang bahkan belum selesai di lingkup terdekat—laki-laki anggota afiliasi koalisi. "Solidaritas antar gerakan harus terus digalang. Enggak mudah memerdekakannya, tapi harus terus berjuang dan berlawan."

Koalisi sudah membuka layanan pengaduan bagi siapa saja yang merasa dilecehkan saat parade berlangsung di nomor 087887085871 atau melalui tautan bit.ly/PoskoIWD2020. Koalisi juga akan segera berkumpul kembali untuk evaluasi parade secara menyeluruh.

Hingga Selasa (10/3/2020) siang, Lini mengatakan ada 15 aduan yang masuk. "Sore ini tim baru akan membahas detailnya apa saja, tapi mostly catcall," katanya.


Ketua Umum Kongres Aliansi Serikat Buruh Indonesia (KASBI) Nining Elitos mengatakan prihatin terhadap pelecehan seksual yang terjadi selama parade. Ia lantas mengatakan siap mengevaluasi anggotanya jika ada yang terbukti jadi pelaku. KASBI adalah salah satu organisasi yang bergabung dalam aliansi.

"Kalau ada perilaku anggota, karena ketidaktahuan mereka, bersiul, ini menjadi evaluasi bagi kami," katanya kepada reporter Tirto.

Dalam keterangan tertulis, KASBI menegaskan kembali bahwa mereka "tengah melakukan penyelidikan internal atas masalah ini." KASBI disorot karena berdasarkan keterangan beberapa korban terhadap ciri-ciri pelaku, termasuk "berseragam merah," terindikasi mereka adalah anggota KASBI.

"Jika benar yang melakukan (catcalling) adalah anggota KASBI, maka kami memohon maaf yang sebesar-besarnya kepada kawan korban," tulis mereka.

Baca juga artikel terkait PELECEHAN SEKSUAL atau tulisan menarik lainnya Alfian Putra Abdi
(tirto.id - Sosial Budaya)

Reporter: Alfian Putra Abdi
Penulis: Alfian Putra Abdi
Editor: Rio Apinino
DarkLight