Mutu Pendidikan Turki Biasa Saja, Kenapa Jadi Pilihan Tempat Studi?

Kırklareli Üniversitesi di Turki. FOTO/sbe.klu.edu.tr
Oleh: Ahmad Zaenudin - 11 November 2019
Dibaca Normal 3 menit
Kampanye penggalangan dana kuliah di Turki melahirkan polemik.
tirto.id - Selepas lulus dari SMAN 5 Kediri pada 2018, sebagaimana lulusan SMA lainnya, Nuryanti Novitasari mencoba peruntungan mengikuti seleksi masuk perguruan tinggi. Sayangnya, selepas mengikuti SNMPTN, PMDKPN, hingga SPANPTKIN, tidak ada universitas negeri Indonesia yang menerimanya.

Tak patah arang, Nuryanti memutuskan mencoba mendaftar ke perguruan tinggi di luar negeri. Turki Tepatnya.

Tepat di bulan Juli 2019, Nuryanti akhirnya diterima di Fakultas Ekonomi dan Ilmu Administrasi Bisnis, Kirklareli University.

Meskipun salah satu alasan Nuryanti memilih Kirklareli University karena faktor biaya, misalnya dengan tidak adanya uang gedung yang harus dibayar, toh tetap ada uang SPP, biaya hidup, hingga biaya perjalanan yang harus disiapkannya. Maka, melalui Kitabisa.com, dan difasilitasi Rumah Zakat, Nuryanti membuka kampanye penggalangan dana. Meminta welas asih netizen urunan membantunya menyiapkan uang senilai Rp50 juta.

Terpujilah sikap warganet Indonesia yang kritis. Keputusan Nuryanti kuliah di Turki dianggap aneh. Pasalnya, Kirklareli University, kampus yang menerima Nuryanti itu, dianggap bukanlah kampus hebat dan sangat banyak kampus di Indonesia yang memiliki kualitas lebih baik.

Menurut 4icu, lembaga yang membuat peringkat perguruan tinggi berdasarkan situs web, misalnya, Kirklareli University merupakan perguruan tinggi yang berada di posisi 4.779 dunia. Bandingkan misalnya dengan Universitas Indonesia, merujuk lembaga yang sama, menduduki posisi ke-257. Menurut pemeringkatan lain, QS World Ranking, Universitas Indonesia berada di posisi ke-296 di dunia di tahun 2019 ini. Sementara itu, Kirklareli University tidak masuk dalam radar pemeringkatan ini.

Merujuk laman Top Universities, laman resmi QS World Ranking, kualitas pendidikan Indonesia sesungguhnya tidak terlalu berbeda dibandingkan Turki, misalnya dengan membandingkan universitas paling top di antara keduanya. Universitas Indonesia, seperti disinggung di atas, berada di posisi ke-296. Sementara itu, universitas paling top Turki, Middle East Technical University berada di posisi ke-591.

Selain itu, merujuk Legatum Prosperity Index, sektor pendidikan Indonesia diberi nilai 66,91. Turki, puas dengan skor 64,04, di mana skor yang lebih tinggi lebih baik.

Kampanye Nuryanti di Kitabisa.com dinilai tidak tepat. Jika merujuk kualitas perguruan tinggi, Nuryanti dapat mengambil jeda alias gap year dan mencoba masuk ke perguruan tinggi di Indonesia tahun depan. Atau, jika ia ingin kuliah di luar negeri, Nuryanti seharusnya mencari yang lebih baik dibandingkan Kirklareli University atau ia dapat mencari di lain negara, Jerman misalnya, yang terkenal dengan biaya murah untuk urusan pendidikan.

Tapi kampanye telah diluncurkan dan telah berakhir, dengan hanya memperoleh dana senilai Rp3.651.483. Yang menarik disimak, selain faktor biaya, mengapa Nuryanti memilih Turki?

Strategi Kebudayaan Turki

Beberapa tahun lalu, publik Indonesia disuguhi berbagai tayangan sinetron dari Turki. ANTV, misalnya, menayangkan “Shehrazat 1001 Malam” dan “Abad Kejayaan.” SCTV, mendatangkan “Elif,” Trans TV dengan “Cinta di Musim Cherry,” dan RCTI dengan “Gang Damai.”

Sinetron Turki tengah berkembang, terutama sejak diterimanya “Noor” oleh publik Timur Tengah di tahun 2008. Secara umum, dunia sinema Turki berkembang sejak akhir 1990-an, dengan didatangkannya alat produksi yang lebih modern. Pada 2000-an, Turki mengekspor “Deli Yurek,” ke wilayah Kaukasus dengan alasan kesamaan budaya. Perlahan, negara tujuan sinetron Turki berkembang. Tercatat, ada 130 negara di dunia yang kemudian menayangkan lebih dari 120 sinetron Turki.

Dalam “Turkish Soap Opera Diplomacy: A Western Projection by a Muslim Source” yang ditulis Senem Çevik, ekspor sinetron yang dilakukan Turki bukan semata soal ekonomi alias mencari untung. Namun, ini merupakan cara cerdik negeri di dua benua itu menancapkan pengaruhnya, khususnya dengan jalan kebudayaan, yang menyaru dalam bentuk budaya pop.

Kebudayaan, pada salah satu definisinya, diartikan sebagai nilai yang memiliki makna pada suatu komunitas atau masyarakat. Çevik menilai, melalui sinetron, Turki ingin menyebarkan nilai yang dianutnya pada dunia.

Serpil Karlidag, dalam “The Transnational Spread Of Turkish Television Soap Operas,” mengemukakan pendapat serupa. Katanya, sinetron yang diekspor Turki lebih mementingkan makna simbolis daripada soal hitung-hitungan duit. Turki, via sinetron, ingin mengabarkan pemikirannya: Islam, sekuler, dan maju seperti negara Barat.

Diplomasi budaya dengan menayangkan sinetronnya ke seluruh dunia dinilai berhasil, paling tidak dilihat dari kunjungan wisatawan ke Turki. Dilansir Daily News, total ada 165.000 masyarakat Amerika Latin berkunjung ke Turki pada delapan bulan pertama tahun 2018 lalu. Naik hampir 70 persen dibandingkan waktu yang sama setahun sebelumnya.

Klaim Timur Bayındır, Ketua Hotel Association of Turkey, kenaikan ini terjadi lantaran “Binbir Gece,” “Aşk-ı Memnu,” “Fatmagül’ün Suçu Ne?,” dan “Ezel,” sinetron-sinetron Turki yang tayang di negara-negara Amerika Latin, laku.

Selain melalui sinetron, Turki menyebarkan pengaruhnya di dunia melalui pendidikan. Dilansir Atlantic Council, melalui Kementerian Pendidikan, Turki membantu biaya pendidikan bagi lebih dari 8.000 pelajar Afrika sejak 1992. Lalu, sebagaimana diwartakan kantor berita Turki, Anadolu, Turki mengulurkan bantuan biaya untuk pembangunan sekolah di Ghana.

Indonesia pun kebagian uang Turki. Misalnya, dengan memberikan dana bantuan pada Sekolah Asrama Bilingual Pribadi di Depok dan Bandung, Sekolah Asrama Bilingual Kharisma Bangsa di Tangerang Selatan, dan Sekolah Asrama Bilingual Semesta di Semarang.



Bantuan Turki bukan hanya berasal dari kas negara, tetapi juga swasta. Salah satunya dari Pacific Nations Social and Economic Development Association (PASIAD), pimpinan Fethullah Gulen, sosok yang dianggap biang kudeta militer Turki di 2016 silam.

Savira Faturahman, alumnus Bahasa Arab UI yang menulis skripsi tentang Gülen, melihat ada kemiripan antara gerakan Gülen dengan Muhammadiyah.

“Kalau di Indonesia, gerakannya seperti Muhammadiyah. Mereka bikin sekolah, rumah sakit. Intinya, gerakan ini ingin orang Turki pintar. Harus pintar. Pendidikan harus maju. Mereka beda dengan pendidikan umum, mereka menggunakan pendekatan Islam dan budaya Turki,” katanya.

Selepas kudeta gagal, pemerintah Turki melakukan aksi bersih-bersih. 100 hakim dan jaksa ditangkap, 145.000 pegawai negeri dipecat, 3.900 orang dari dinas sipil dan militer diberhentikan kariernya, 9.100 polisi diskors, hampir 900 tentara diamankan, 1.700 lainnya dipecat secara tak terhormat, dan 15 kantor media ditutup paksa, di mana hampir 100 jurnalis ditahan. PASIAD, yang berhubungan dengan Gulen, pun kena getahnya.

Pemerintah Turki, sebagaimana diberitakan Rappler, meminta Indonesia menutup beberapa sekolah yang terkait PASIAD, yakni Sekolah Asrama Bilingual Pribadi di Depok dan Bandung, Sekolah Asrama Bilingual Kharisma Bangsa di Tangerang Selatan, Sekolah Asrama Bilingual Semesta di Semarang, Sekolah Asrama Bilingual Kesatuan Bangsa di Yogyakarta. Sekolah Asrama Bilingual Sragen di Sragen, Sekolah khusus siswa laki-laki Fatih di Aceh, Sekolah khusus siswa perempuan Fatih di Aceh, dan Sekolah Asrama Bilingual Banua di Kalimantan Selatan. Bahkan, Turki pun mengklaim mengirim surat ke Universitas Islam Negeri Hidayatullah, Ciputat, untuk menghentikan kerjasama dengan organisasi terkait Gulen.

Sementara itu, Mohammad Haris, Kepala Sekolah SMA Semesta di Semarang menolak permintaan Turki itu. Menurutnya, “kerjasama dengan PASIAD memang pernah. Tetapi berdasarkan Permen 1 November 2015 sudah tidak lagi.”

Diplomasi lunak Turki melalui budaya pop dan pendidikan sangat mungkin menjadi sebab mengapa ada banyak siswa di Indonesia yang tertarik melanjutkan pendidikannya di Turki.

Baca juga artikel terkait TURKI atau tulisan menarik lainnya Ahmad Zaenudin
(tirto.id - Pendidikan)

Penulis: Ahmad Zaenudin
Editor: Windu Jusuf
DarkLight