Advertorial

Musuh Lingkungan itu Bernama Pemborosan Makanan

Ilustrasi Buka Puasa bersama Ramadan di Malaysia. AP/Sadiq Asyraf
Oleh: Advertorial - 5 Juni 2018
Dibaca Normal 1 menit
Seandainya seorang penduduk Indonesia menyisakan sebutir nasi dalam satu kali makan, ada 249 juta butir nasi yang terbuang sia-sia. Jika satu gram beras berisi 50 butir, ada 4.980 kg beras yang terbuang tiap hari.
Bagi umat Islam, Ramadan identik dengan kegembiraan: saat di mana dosa-dosa diampuni dan pahala dilipat-gandakan, saat untuk berkumpul dan berlomba-lomba menebar kebaikan. Sayang, gairah beribadah itu tak jarang diiringi hal yang kurang terpuji: banjir makanan, pameran kemubaziran sebulan penuh.

Pada 2014, 8 ribu petugas kebersihan kota Mekkah mengumpulkan 5 ribu ton sampah makanan dalam tiga hari pertama bulan Ramadan. Jumlah luar biasa itu belum termasuk limbah sisa 28 ribu domba potong. Menurut sebuah penelitian di King Saud University, 30% dari empat juta porsi makanan yang disiapkan di negara itu selama Ramadan (nilainya setara Rp3,8 miliar) tersia-sia belaka.

Kemubaziran itu juga berlangsung di Asia Tenggara. Selama Ramadan 2015, misalnya, SWCorp mencatat 9 ton limbah makanan terbuang di Malaysia setiap hari. Banyak di antaranya masuk tempat sampah tanpa sempat dikonsumsi.

Pada 2016, di Jakarta, sampah yang masuk ke TPA Bantar Gebang selama Ramadan jumlahnya 7.073 ton per hari atau meningkat sebesar 7% dari jumlah normal 6.610 ton. Jenis sampah yang meningkat itu ialah sampah rumah tangga seperti sayur-mayur, buah-buahan, serta bungkus-bungkus makanan. Adapun di Kendari, sampah yang masuk ke TPA Puuwatu meningkat hingga 20-25% selama Ramadan 2017; juga karena pasokan sampah rumah tangga berlipat ganda.



Konteks pemborosan makanan itu itu diuraikan dengan baik oleh Mawa Kresna dari Tirto. Ia membandingkan kemubaziran tersebut dengan catatan Badan Pusat Statistik (BPS): masih ada 28 juta rakyat Indonesia yang melarat dan gizi buruk melanda 19,4 juta orang pada 2014 hingga 2016.

“Seandainya seorang penduduk Indonesia menyisakan sebutir nasi saja dalam satu kali makan, ada 249 juta butir nasi yang terbuang sia-sia. Jika satu gram beras berisi 50 butir, ada 4.980 kg beras yang terbuang tiap hari,” tulisnya. “Dampak terburuk dari sampah makanan itu: selain kerusakan lingkungan, peningkatan gas metana, dan pemborosan, adalah ancaman krisis pangan.”

Kresna tak melebih-lebihkan. Dalam skala global, gambaran krisis pangan akibat pemborosan itu tampak jelas. Menurut data Badan Pangan dan Pertanian (FAO) PBB, makanan yang rutin tersia-sia di Eropa dan Amerika Latin masing-masing dapat memenuhi kebutuhan pangan 200 dan 300 juta orang. Bahkan, kata FAO, 25% dari semua makanan yang terbuang secara global cukup untuk memenuhi kebutuhan pangan 870 juta orang yang kelaparan di seluruh dunia.

Kembali ke Ramadan, kita selayaknya bertanya: Mengapa bulan yang kerap digambarkan sebagai saat terbaik menempa diri mengekang hawa nafsu itu justru menjadi saat penuh pemborosan? Para pengamat berpendapat: karena kebiasaan sebagian besar orang Islam membeli terlalu banyak makanan sepanjang Ramadan. Banyak orang membeli atau memasak makanan baru sementara masih ada yang layak dikonsumsi dan cukup dipanaskan.

“Ada kecenderungan kronis pada diri umat Islam untuk memuaskan diri dan bermewah-mewah selama Ramadan,” tulis Salman Zafar di Ecomena.

Di sisi lain, tak sedikit orang-orang yang berlomba-lomba menyumbangkan makanan kepada golongan prasejahtera dan yayasan-yayasan sosial, padahal di saat bersamaan badan kemanusiaan sekalipun tak sanggup lagi menyalurkan bantuan lantaran kebutuhan sudah terpenuhi.

Hal berikutnya yang kerap menyebabkan makanan terbuang sia-sia selama Ramadan adalah tradisi rutin semacam buka puasa bersama. Baik di restoran, hotel, maupun masjid, acara buka bersama kerap berakhir jadi pemborosan makanan. Beragam menu dihidangkan dalam jumlah ekstravagan, sementara panjang usus para penyantapnya toh segitu-segitu saja. “Dengan jargon all-you-can-eat, restoran dan hotel menyediakan menu prasmanan di luar bayangan kita. Jika orang-orang tahu kesanggupan mereka, makanan yang bakal terbuang mungkin jumlahnya lebih sedikit,” tulis Zafar.

Mengingat kenyataan itu, kiranya, #makanbijak bisa jadi jalan buat mengurangi pemborosan. Sahur dan berbuka dengan #makanbijak, dalam arti tidak berlebihan, akan berdampak baik bagi kesehatan pencernaan dan tubuh secara keseluruhan; juga bagi lingkungan sekitar. Bagaimanapun, boros dan berlebihan adalah perilaku yang bertentangan dengan semangat puasa. Bersama dan untuk Anda, Mylanta® mendukung gerakan #makanbijak.
DarkLight