Migrasi dan Perkawinan Politik Menghubungkan Melayu dan Nusantara

Oleh: Siti Zainatul Umaroh - 5 Juni 2021
Dibaca Normal 3 menit
Suku-suku dari Kepulauan Nusantara telah bermigrasi sejak era kuno ke Tanah Melayu. Ikut memengaruhi kebudayaan Melayu.
tirto.id - Evolusi hubungan antara Indonesia dan Malaysia tak hanya dilambari persaingan dan perselisihan, tapi juga persaudaraan dan kekerabatan. Buktinya, Semenanjung Melayu telah menjadi tempat berbaurnya serbaneka suku bangsa Nusantara. Jejaknya bisa kita runut hingga masa kuno, kala Kerajaan Sriwijaya dan kemudian Kesultanan Malaka berjaya.

Migrasi suku-suku seperti Minang, Bugis, Batak, dan Jawa ke Semenanjung Melayu telah turut pula mewarnai proses pembentukan identitas orang Melayu. Beberapa sejarawan menyebut kebudayaan yang hidup di Semenanjung Melayu dan Sumatra merupakan kelanjutan dari kebudayaan era Sriwijaya. Lalu, ketika Sriwijaya meredup, Kesultanan Melaka melanjutkan pewarisan kebudayaan itu.

O.W. Wolters dalam artikel “Studying Srivijaya” yang terbit dalam Journal of the Malaysian Branch of the Royal Asiatic Society (Vol. 52, 1979) menyebut relasi antara masyarakat Melayu dan kelompok lain di Nusantara terbentuk dari hubungan perdagangan, perang, migrasi, pernikahan. Saat itu, perkawinan antara bangsawan negeri-negeri Melayu dan Sumatra menjadi fitur utama lanskap sosio-politik di dunia Indo-Melayu.

Relasi yang terbangun dari perkawinan politik itu dapat dilacak contohnya dalam naskah Tuhfat al-Nafis (1885). Naskah sastra-sejarah gubahan Raja Ali Haji itu menginformasikan bahwa perkawinan di antara penguasa-penguasa Melayu Riau, Johor, dan Trengganu dengan bangsawan Siak dan Bugis adalah sebuah kelaziman. Raja Ali Haji sendiri adalah pangeran cum pujangga Kesultanan Riau-Lingga keturunan Melayu-Bugis.

Pernikahan politik itulah yang menyambungkan kekerabatan etnis-etnis di Tanah Melayu dan Kepulauan Nusantara.

Migrasi

Relasi Melayu-Nusantara juga terbentuk melalui migrasi. Ia terjadi dalam dua arah, dari Melayu ke Nusantara dan sebaliknya.

Leonard Y. Andaya dalam artikel The Search for the 'Origins' of Melayuyang dimuat Journal of Southeast Asian Studies (Vol. 32, 2001) menyebut Kesultanan Malaka meredup gara-gara kekalahannya dari Portugis pada 1511. Kekalahan itu juga membawa dampak lain, yaitu eksodus bangsawan-bangsawan Melayu ke luar semenanjung.

Banyak bangsawan Melayu yang kemudian hijrah ke negeri-negeri di bagian timur Nusantara, seperti Buton, Ternate, Makassar dan Sumbawa. Pembauran budaya yang terjadi kemudian ikut memperkaya kebudayaan setempat. Jadi, tak heran jika beberapa tradisi budaya di beberapa tempat di Indonesia bagian timur kini sangat kental dipengaruhi tradisi Melayu.

Selain itu, sentral kekuatan politik dan kebudayaan Melayu pun bergeser setelah penaklukan itu. Berturut-turut, Kesultanan Johor kemudian tampil sebagai pusat dunia Melayu, lantas berganti ke Riau-Lingga.

Sementara itu, migrasi suku-suku bangsa Nusantara ke Semenanjung Melayu telah terjadi jauh sebelum abad ke-16 menyingsing. William Marsden dalam The History of Sumatra (2008) menyebut perantau Minang telah bermigrasi ke Semenanjung Melayu sejak sekira abad ke-12. Sebagian besar dari perantau Minang ini menjadikan Negeri Sembilan sebagai tujuan.

Fakta ini tidak mengherankan karena sejak dulu orang-orang Minang memang dikenal sebagai perantau.

Mochtar Naim dalam bukunya Merantau: Causes and Effects of Minangkabau Voluntary Migration (1971, hlm. 150) menjelaskan konsep merantau dalam alam pikiran orang Minang sebagai, "Meninggalkan wilayah budaya seseorang secara sukarela baik untuk waktu yang singkat atau panjang, dengan tujuan mencari nafkah atau mencari pengetahuan atau pengalaman lebih lanjut, biasanya dengan niat untuk pulang.”

Meski orang Minang bisa disebut sebagai yang terawal, suku bangsa yang menjadi penyumbang aliran migrasi terbesar ke Tanah Melayu adalah Bugis. Gelombang migrasi besar orang Bugis diperkirakan terjadi pada abad ke-16, kala Kerajaan Gowa-Tallo dan Bone sedang moncer di Sulawesi bagian selatan.

Semula, orang-orang Bugis hijrah lebih dulu ke wilayah Minangkabau di Sumatra dan kemudian mengalami pengislaman. Setelah itu, barulah orang-orang Bugis mendarat di negeri-negeri semenanjung, terutama Johor.

Gelombang migrasi besar kedua terjadi usai takluknya Gowa-Tallo oleh VOC Belanda pada 1667. Meski begitu, orang Bugis sebenarnya tidak hanya menjadikan Tanah Melayu sebagai tujuan utama. Orang Bugis juga tercatat hijrah ke Kalimantan, Sumatra, Jawa, Maluku, juga Papua.

Infografik Migrasi Orang Bugis dan Minang
Infografik Migrasi Orang Bugis dan Minang ke Semenanjung Melayu. tirto.id/Fuad

Mempertahankan Identitas

Di tanah rantau, para pendatang dari Nusantara tidak serta-merta melepas identitas budaya asalnya begitu saja. Beberapa nama komunitas yang bermukim di Negeri Sembilan, misalnya, sangat kental bernuansa Minangkabau.

Menurut Rois Leonard Arios dkk. dalam Minangkabau dan Negeri Sembilan: Sistem Pasukuan di Nagari Pagaruyung dan Negeri Sembilan Darul Khusus Malaysia (2009), hal itu terjadi karena para perantau Minang di sana tetap mempertahankan nama nagari asalnya. Di Negeri Sembilan itu, di antaranya terdapat komunitas Batu Hampar, Payakumbuh, dan Tanah Datar.

Masih ada pula beberapa komunitas Minang, seperti Mungkal, Tiga Ninik, Tigo Batu, Batu Balang, Simalanggang, dan Serilamak. Seturut penjelasan Pemerhati adat pepatih Malaysia Yaakub bin Idrus, komunitas-komunitas itu adalah para pendatang yang berasal dari Luhak Lima Puluh Koto—kini bagian dari Provinsi Sumatra Barat (Warisan, Vol. 16, 1992).

Sistem pasukuan yang sama juga dipraktikkan oleh komunitas Anak Aceh. Komunitas ini, sebagaimana tersurat dari namanya, adalah orang-orang Aceh yang berbaur dengan suku Minang.

Hubungan langsung antara Minangkabau dan Negeri Sembilan terputus ketika Traktat London ditandatangani pada 1824. Berdasarkan traktat yang disepakati Kerajaan Inggris dan Belanda itu, Belanda diakui menguasai kepulauan Indonesia, sementara Inggris memerintah kawasan Semenanjung Melayu dan Singapura. Pemisahan ini nantinya juga ikut memengaruhi perkembangan bahasa Melayu di kawasan Selat Malaka.


Sejak itu, komunitas Minang menjadi warga Tanah Malaya yang dikuasai Inggris. Meski begitu, mereka tetap mengakui Minangkabau sebagai asal-usulnya. Keterikatan itu tampak dari salah satu pantun lokal yang beredar di masyarakat Negeri Sembilan ini:


Leguh-legah bunyi pedati

Pedati orang pergi ke Padang

Genta kerbau berbunyi juga

Biar sepiring dapat pagi

Walau sepinggan dapat petang

Pagaruyung teringat juga”

Pertalian semacam itu sebenarnya tidak hanya terjadi di wilayah Melayu di semenanjung. Hairin Abdullah dalam Menyenarai 34 Kumpulan Etnik Sabah (1986) menyebut penduduk Malaysia kontemporer di Sabah—Kalimantan bagian utara—juga memiliki hubungan kekerabatan dengan suku-suku Indonesia.

Dari 38 etnis yang mendiami Sabah, sebagian besarnya adalah pendatang dari kepulauan Indonesia. Mereka di antaranya berasal dari suku Banggi, Bisaya, Ida’an, Tidung, Lotud, Murut, Paluan, Rungus, Tumugon, dan Tatana. Semuanya termasuk dalam subetnis Dayak yang juga mendiami Kalimantan.

Lalu, masih ada pula komunitas Palawan dan Tagbanua yang merupakan subetnis Batak. Komunitas-komunitas pendatang itu, sebagaimana diwartakan Majalah Cermat (Maret 2014), mendarat di Sabah dengan melintasi Laut Sulawesi. Umumnya, mereka adalah para pedagang yang membawa komoditas utama seperti kelapa kering, kain batik, dan rokok kretek yang kebanyakan berasal dari Sulawesi dan Kalimantan.

Sejak Kerajaan Brooke berkuasa di Kalimantan bagian utara, Sabah lantas menjadi destinasi para buruh peladang, kuli bangunan, dan pembantu rumah tangga. Kebanyakan buruh-buruh itu diangkut dari daerah Tidung dan Donggala—yang kemudian cukup besar mempengaruhi kebudayaan masyarakat Tawau.

Baca juga artikel terkait MIGRASI atau tulisan menarik lainnya Siti Zainatul Umaroh
(tirto.id - Sosial Budaya)

Penulis: Siti Zainatul Umaroh
Editor: Fadrik Aziz Firdausi
DarkLight