Menjadi Model Itu Berat, Kamu Mungkin Tak Akan Kuat

Infografik Bayaran Model Rev
Kendall Jenner menampilkan sebuah karya dari koleksi Diane von Furstenberg 2016 pada New York Fashion Week , 14 Februari 2016. REUTERS/Andrew Kelly
Oleh: Joan Aurelia - 17 Maret 2018
Dibaca Normal 4 menit
Di balik kilatan kamera dan meriahnya dunia model, para model bekerja keras, kadang tak sempat makan, dan mengalami pelecehan.
tirto.id - Suatu hari di tahun 1980-an, Arzeti Bilbina mendapat saran dari kakaknya untuk masuk sekolah model. Usia Arzeti baru 15 tahun saat itu. Di masa itu, belum banyak sekolah model di Indonesia. Sebagai adik yang baik, Arzerti menuruti saran kakaknya.

Setahun kemudian, Arzeti mendapat pekerjaan pertama: pemotretan untuk majalah gaya hidup perempuan dengan honor Rp40 ribu. Ia banyak membetot perhatian orang kala itu. Tawaran pekerjaan terus berdatangan. Seiring banyaknya majalah mode, pun majalah remaja, pekerjaan model banyak dicari kala itu. Arzeti menerima pekerjaan untuk foto majalah, iklan televisi, dan peragaan busana. Arzeti rutin jadi model peragaan busana desainer populer pada masa itu seperti Ramli, Biyan, dan Ghea Panggabean. Pada masa itu desainer di Indonesia belum sebanyak sekarang.

"Saat itu persaingan di bidang fashion masih sehat," ujar perempuan yang sekarang adalah anggota DPR RI dari Partai Kebangkitan Bangsa ini.

Dalam satu hari ia bisa menjalani tujuh peragaan busana. Dalam satu minggu Arzeti bekerja lebih dari satu hari. Seringkali pekerjaan dimulai pukul 10 pagi dan berakhir pukul 12 malam. Kadang pula, ia bisa show tengah malam. Usaha kerasnya membuahkan hasil. Pada usia 21 tahun ia sudah bisa membeli mobil dan rumah untuk ditinggali bersama ibu beserta beberapa kakaknya. Hal itu membuat Arzeti semakin yakin dalam menjalani profesinya.

Jadi model, menurut Arzeti, tak semudah kelihatannya. Ia sering mendapat konsep pemotretan yang menantang. Satu kali, ia pernah diikat di langit-langit ruangan selama lebih dari satu jam. Tepat di bawahnya, menyala blower.

“Waktu itu saya jadi model penutup dan konsepnya adalah bikin saya terkesan turun dari langit-langit.”

Bukan itu saja, Arzeti kerap digoda, bahkan "ditawar" oleh pria-pria hidung belang. Tapi ia selalu teguh menampik pelecehan semacam itu. "Hal paling penting dalam modeling itu relasi dan nama baik. Saya tidak akan pernah mau mempertaruhkan dua hal itu."



Arzeti juga tipikal orang yang sadar pentingnya mengembangkan kemampuan. Saat sudah satu dekade jadi model, ia mengembangkan diri dengan mempelajari akting dan teknik membawakan acara. Ia mulai menerima tawaran jadi bintang televisi dan pembawa acara. Beberapa tahun setelahnya, ia sering mendapat undangan sebagai juri kompetisi model, pembicara seminar modeling, dan pengajar.

Agar ilmunya tersebar, ia pun membuka usaha sekolah dan manajemen model, Zema Management. Ia mendirikan usaha ini lantaran banyak koleganya yang meminta tolong untuk membantu anak atau rekan mereka yang ingin jadi model.

“Zema memberi saya tantangan yang terbilang berat. Ibaratnya saya membentuk karakter remaja-remaja yang masih harus dilatih untuk percaya diri. Biasanya mereka datang dari keluarga kelas menengah. Setiap ada undangan show untuk saya, saya akan minta pihak penyelenggara untuk bisa mengajak beberapa anak ikut peragaan juga," tutur Arzeti.

Zema berjalan sekitar 15 tahun. Usaha ini terhenti lantaran Arzeti harus fokus pada pekerjaannya sekarang. Ia mengurangi kegiatan sebagai model sejak punya anak sekitar tahun 2005. Proyek terakhir dilakukan saat hamil. Ibu tiga anak itu terlibat kontrak dengan sebuah klinik kecantikan. Bagi Arzeti, model zaman sekarang punya tantangan baru yakni persaingan dengan model asing.

Hal itu dirasakan oleh Reti Ragil (28). Tahun ini adalah tahun kesepuluhnya menjalani pekerjaan sebagai model. Ada beberapa pekerjaan yang tidak menyewa jasanya lantaran kriteria utama mereka ialah model asing. Di samping itu, tantangan lain bagi Reti ialah persaingan dengan model berusia muda.

“Sekarang anak 15 tahun saja sudah punya keinginan untuk jadi model. Kebanyakan model baru mematok tarif yang relatif rendah. Banyak juga pihak-pihak yang kemudian memilih model berdasar harga. Kualitas tidak diutamakan,” kata Reti sekarang mematok tarif Rp2,5 juta hingga Rp4 juta untuk tiap peragaan.

Menjadi model adalah tentang dedikasi. Mereka harus menjaga penampilan agar tetap ideal. Mengonsumsi jus, menjaga kualitas makanan, merawat wajah dengan menggunakan masker dari buah-buah segar, serta mengganti model rambut agar orang tidak bosan. Saat ini Reti sedang menyiapkan diri untuk pekan mode Plaza Indonesia Fashion Week, Indonesia Fashion Week, Fashion Nation, dan Jakarta Fashion and Food Festival.

Dalam pekan mode, ia harus punya stamina prima. Bila acara diadakan selama dua minggu, Reti bisa mendapat pekerjaan selama 10 hari berturut-turut. Dalam satu hari ia berjalan untuk beberapa peragaan busana. Di pekan mode, waktu kerjanya panjang. Ada kalanya Reti diminta untuk bersiap pukul 5 pagi dan pulang di atas jam 12 malam. Sebagian besar waktu digunakan untuk menunggu giliran makeup dan menanti waktu peragaan mulai.

“Kadang sampai tidak ada waktu untuk makan. Di sisi lain saya senang karena bisa bertemu banyak teman. Buat saya peragaan busana ini memorable. Lebih berkesan dari foto. Kalau foto bisa diedit. Kalau peragaan busana nyata dan apa adanya,” kata ibu satu anak balita ini.

Sisi Gelap Dunia Modeling

Ashley Mears, asisten profesori Sosiologi Universitas Boston dan penulis buku Pricing Beauty, The Making of Fashion Model (2011) menganggap model sebagai pekerjaan yang tidak pasti. Dari sisi ekonomi, sang model tidak akan tahu berapa banyak penghasilan yang akan didapatkan. Dari sisi kesehatan, tidak ada jaminan untuk menerima perawatan kesehatan. Padahal pekerjaan mereka cukup menguras tenaga. Saat menjalani pekerjaan di ajang Fashion Week misalnya, para model bisa bekerja hampir 24 jam.

Belum lagi soal usia. Dalam wawancara di program siaran Talk of The Nation, Ashley juga bercerita bahwa model ialah sosok yang rentan menjadi target pekerja di bawah umur. Di Amerika Serikat, sejumlah model memalsukan umur mereka agar segera bisa masuk ke agen model untuk bisa mendapat pekerjaan sebagai model komersil (iklan dan materi promosi) atau model editorial (pemotretan majalah mode). Di negara tersebut, usia paling muda untuk menjadi model ialah 16 tahun. Batas usia yang dianggap ideal untuk menjadi seorang model ialah di bawah 20 tahun.

“Di atas usia itu, orang tidak akan menganggap model dengan istilah ‘fresh face’,” kata Ashley.

Pekerjaan mereka tidak sepenuhnya bergantung pada agen model. Ada kalanya para model harus menghadiri berbagai acara untuk mendapat koneksi. Dalam artikel "Modeling Consumption: Fashion Modeling Work in Contemporary Society" yang dimuat dalam Journal of Consumer Culture, disebutkan bahwa para model di New York memanfaatkan kehidupan malam untuk membangun koneksi pekerjaan.


Elizabeth Wissinger, penulis artikel tersebut mengutip Economics of a Dance Floor (2007:89) karya Elizabeth Currid yang menyebut bahwa interaksi sosial ialah hal dasar sistem produksi di ranah modeling. Wissinger mengutip perkataan Maurizio Lazzarato yang menyebutkan bahwa industri modeling membuat pelakunya tidak merasa sedang bekerja ketika bekerja. Hal ini membuat hidup mereka terkesan tidak terpisah dari pekerjaan.

Masih ada "cerita miring" dari profesi yang terkesan glamor ini. Tahun lalu, models.com menyebarluaskan hasil penelitian yang menyebutkan lebih dari 2.000 model di Amerika Serikat mendiskusikan tentang situasi kerja yang tidak profesional. Sebagian dari mereka tidak dibayar semestinya, mengalami kekerasan, dan lingkungan kerja yang tidak kondusif. Seorang model pernah memprotes direktur audisi dalam peragaan Louis Vuitton lantaran hanya memberi model minum dalam waktu 24 jam kerja.

Protes juga sempat disampaikan pada direktur audisi peragaan Balenciaga yang membiarkan 150 model berada dalam tangga gelap selama berjam-jam. Hal ini mengakibatkan sejumlah model mengalami trauma.






Harapan Para Model Muda

Evanny (21) sedang bersemangat berkarier sebagai model. Pada tahun 2013 ia mengikuti audisi model acara Indonesia Fashion Week dan lolos. Di awal, ia sempat terkejut dengan waktu kerja yang panjang. Tetapi perlahan Evanny menikmatinya. Ia menjadi model di pekan mode tersebut dua tahun berturut-turut.

Akhir tahun 2016, Evanny mengikuti kompetisi Wajah Femina dan memenangkan predikat Best Catwalk. Penghargaan itu membuat Evanny melakukan sejumlah proyek pemotretan untuk halaman mode dan kecantikan di majalah dan jadi model di pekan mode Jakarta Fashion Week.


Dari sana ia merasa modeling ialah wadah tempat dirinya merasa dihargai. “Postur tubuh saya dulu tinggi dan bisa dikatakan bongsor. Di sekolah, teman-teman merisak saya. Saya juga selalu jadi anak bawang. Di modeling ini saya merasa bentuk tubuh saya ini dihargai. Ini adalah pembuktian bahwa saya pun mampu punya prestasi di luar bidang akademik,” kata mahasiswi semester 6 Universitas Atma Jaya ini.

Pada bulan Juni 2017 ia dikirim ke Korea Selatan untuk mengikuti acara Asia Model Festival, sebuah acara pelatihan model sekaligus promosi pariwisata. Di sana ia memenangkan kompetisi-kompetisi yang diadakan acara tersebut. Padahal saat itu wajahnya tengah rusak akibat penggunaan kosmetik saat mengikuti acara peragaan busana. Ia bercerita butuh waktu lima bulan sampai wajahnya kembali mulus. “Ternyata yang penting juga perilaku. Tidak cuma wajah.”




Akhir tahun lalu ia memutuskan bergabung dengan agen model JIM. Sejak saat itu hari-hari Evanny diisi dengan audisi untuk berbagai peragaan busana. “Dalam satu bulan bus dapat tiga show. Bulan Maret ini ada dua show. Di samping itu tetap ikut audisi-audisi,” lanjut wanita yang ingin fokus bekerja sebagai model setelah lulus kuliah.

Meski dunia model punya sisi gelap yang sedikit menakutkan, ini tak lantas membuat semua orang membatalkan keinginan jadi model. Di Indonesia, model masih menjadi profesi yang diminati sejumlah wanita. Ada harapan-harapan manis yang dipanjatkan oleh para model baru.

Baca juga artikel terkait MODE atau tulisan menarik lainnya Joan Aurelia
(tirto.id - Gaya Hidup)

Reporter: Joan Aurelia
Penulis: Joan Aurelia
Editor: Nuran Wibisono
DarkLight