Mengenali Senyum Palsu dan Senyum Ketidakbahagiaan Lainnya

Reporter: Akhmad Muawal Hasan - 13 Apr 2017 13:25 WIB
Dibaca Normal 4 menit
Senyum tidak identik dengan bahagia, namun juga mengekspresikan suasana (hati) yang buruk: marah, sedih, malu, takut, dan lain-lain.
tirto.id - Senyum sudah jamak dianggap sebagai simbol kebahagiaan. Namun, bagaimana caranya mendeteksi senyum yang benar-benar tulus?

Duchene de Boulogne adalah ahli saraf Prancis yang hidup di abad ke-19. Ia terkenal karena kebiasaan menyetrum pasien dalam eksperimennya. Tak ayal ia kerap dijuluki sebagai Bapak Elektroterapi. Duchenne tertarik pada mekanisme ekspresi wajah, khususnya bagaimana otot wajah berkontraksi hingga menghasilkan senyum. Cara terbaiknya, menurut Duchenne, adalah dengan menempelkan elektroda ke wajah seseorang dan melihat bagian otot mana yang mampu melahirkan senyuman.

Prosedurnya terbilang menyakitkan. Untuk itu, di awal penelitian, Duchenne tidak menemukan orang yang bersedia menjadi objek eksperimen. Ia pun memakai kepala para terhukum yang baru saja menjalani hukuman penggal. Namun, pada suatu hari ia bertemu dengan pria paruh baya di sebuah rumah sakit di Paris yang mau jadi kelinci percobaan. Dari situlah Duchenne menemukan 60 ekspresi wajah yang masing-masing melibatkan otot tertentu wajah dan diabadikan dalam beragam foto bersejarah.

Yang paling terkenal adalah foto dalam kondisi tersenyum lebar hingga menampilkan giginya yang ompong, pipinya yang membusung, dan muncul “kaki gagak” di ujung matanya yang menyipit. Senyum inilah yang disebut senyum Duchene, sebuah senyum yang kemudian dianggap sebagai karakteristik senyum paling tulus hingga saat ini dan dianggap sebagai ekspresi kebahagiaan.

Dalam buku Mecanisme de la Physonomie Humaine yang diterbitkan pada 1862, senyum Duchenne itu lebar dan selalu terlihat intens. Secara umum melibatkan hanya dua otot besar yakni bagian zygmatic yang berada di pipi dan tarikan di sudut mulut bagian pinggir kanan dan kiri, lalu otot orbicularis oculi yang mengelilingi mata, membusungkan pipi, dan membuat mata seakan sedang berkedip. Dalam penelitian ahli saraf selanjutnya, senyum rupanya menggerakkan 26 otot lain di wajah.

Ada banyak faktor yang membuat senyum diidentikkan dengan kebahagiaan. Senyum adalah ekspresi wajah pertama manusia karena bayi sudah tersenyum sejak dalam kandungan. Bahkan senyum yang terpaksa tetap bisa memperbaiki mood sebab kadar endorpin saat senyum bertambah. Banjir endorpin di otak juga membuat kadar stres turun. Riset lain menyebutkan senyum ampuh menurunkan tekanan darah. Dalam kepentingan pragmatiknya, sebuah riset yang diunggah di Jurnal Plos ONE menyebutkan senyum bisa membuat seseorang lebih mudah menaiki jenjang karier.

Namun, senyum juga bukan monopoli ekspresi kegembiraan. Butuh waktu sekitar 62 tahun sebelum ada orang lain yang mencoba membuktikan asumsi ini. Namanya Carney Landis, seorang mahasiswa psikologi dari Universitas Minnesota. Pada 1924 ia merilis hasil penelitiannya tentang ekspresi wajah manusia -- riset yang hingga sekarang masih memicu perdebatan apakah melanggar etika penelitian atau tidak.

Landis mengajak beberapa dosen di kampusnya, juga teman-teman mahasiswa dan sejumlah pasien di departemen psikologi—termasuk anak laki-laki berusia 13 tahun. Landis mengabadikan ekspresi mereka dengan kamera foto saat mereka melakukan banyak hal, dari yang sakral hingga yang profan: mendengarkan musik jazz, membaca Alkitab, melihat pornografi, hingga memenggal kepala tikus hidup.

Saat menganalisis hasil rekamannya, Landis tak menemukan bukti bahwa ekspresi tertentu menunjukkan emosi tertentu. Khusus untuk senyuman, Landis gagal menghubungkan senyum para subjek penelitiannya dengan ekspresi kepuasan. Faktanya, senyuman terjadi di mana-mana, dalam banyak aktivitas apa pun, dalam kondisi senang atau sedih, bahagia atau marah.

Beginilah kesimpulan Landis yang ia tulis dalam Journal of Comparative Psychology: setiap senyuman itu khas dalam situasi apapun. Pendeknya: senyum tak selalu menggambarkan suasana hati yang bagus.

Sedih, Takut, Malu, Marah, Bohong

Hingga abad ke-21, penelitian yang melanjutkan kesimpulan Landis sudah berlimpah. Hingga kini ditemukan 19 tipe senyuman. Hanya enam di antaranya yang diasosiasikan pada kondisi ketika manusia dalam situasi terbaik (bahagia, merasa lucu, dan lain sebagainya). Sementara sisanya adalah senyum di kala manusia justru sedang dalam situasi buruk.

Dalam catatan Zaria Gorvett untuk BBC International, senyum kesedihan bisa terlihat dari salah satu responden riset Landis yang tersenyum kecut saat menonton film yang banyak menampilkan darah. Mereka kebetulan adalah pasien departemen psikologi yang sedang menderita depresi. Kini senyum yang menunjukkan kesedihan maupun kesakitan sudah diterima secara sosial. Buktinya bisa Anda lihat pada senyum atlet juara kedua dan ketiga saat sedang menerima medali di podium.

Senyum juga bisa mengekspresikan ketakutan. Seorang ahli primatologi, Zanna Clay dari Universitas Birmingham, menemukan ekspresi seekor Simpanse bonobo yang menunjukkan gigi dan membalik bibirnya saat sedang terancam. Simpanse yang memperlihatkan senyum ketakutan biasanya dalam kondisi terdominasi simpanse lain. Mereka terlihat seperti sedang tertawa, namun sebenarnya sedang menyembunyikan kegugupan yang mendalam. Orang yang meneliti ekspresi simpanse ini tak lain adalah sosok legendaris Charles Darwin.

Sedangkan senyum akibat malu sangat mencolok sebab melibatkan pipi yang memerah. Frasa “pipi yang merona” kerap dipakai untuk menunjuk seseorang yang ketahuan, misalnya, atau dalam momen memalukan lainnya. Tak ketinggalan adalah situasi tak nyaman bagi si pelaku senyum yakni dengan tanda menundukkan kepala dan memiringkannya agak ke kiri.

Senyum marah bukanlah senyum saat marah. Bagi psikolog senyum ini dideskripsikan sebagai senyum kemenangan atas penderitaan orang lain (angry-enjoyment smile). Anda barangkali mengenalnya sebagai “tawa setan”. Anda mengarahkan senyum pada seseorang yang Anda benci, Anda rasanya ingin memarahi, namun saat ketidakberuntungan menghampirinya — bak tokoh antagonis film — Anda pun tersenyum puas diiringi dengan sedikit gelak kemenangan.

Sementara senyum berbalut kebohongan dikenal sebagai senyum yang tak tulus (fake smile). Senyum ini adalah kebalikan dari senyum Duchenne. Psikolog memberikan panduan untuk mendeteksinya yaitu dengan melihat mata. Mata yang tak menyipit dan melahirkan “kaki gagak” di ujungnya bukanlah senyum tulus. Momennya merentang dari saat seseorang di tempat kerja baru hingga saat-saat pertama bertemu calon mertua. Mata memang jendela hati.

Infografik Yuk Senyum

Motif yang Kompleks dari Senyum

Senyum juga perlu ditempatkan dalam konteks kebudayaan tertentu. Di Rusia, misalnya, ada pepatah berbunyi “senyum tanpa alasan khusus adalah sebuah tanda kebodohan”. Berkebalikan yang berlaku di Jawa (bahkan mungkin Indonesia) yang menganggap senyum adalah kewajiban terutama kepada orang asing. Senyum bagaikan bernapas, yang harus hadir tiap bertemu orang, demi menghidupkan kesan sebagai masyarakat yang ramah. Konsekuensinya? Tak semua senyuman bersifat tulus.

Berbeda dengan di Jepang, senyuman bak benda haram jika dilakukan di tempat publik apalagi kepada orang asing. Saking kakunya, muncul anggapan bahwa senyum pun bisa dilakukan dengan mata. Anggapan itu terlihat saat orang Jepang sedang berkomunikasi lewat layanan pesan singkat (instant messenger). Senyum yang oleh lazimnya diekspresikan dengan simbol :) berganti dengan simbol ^_^ .

Selain faktor budaya, psikolog menyebutkan ada senyum lain bernama qualifier smile. Senyum ini bisa ditemukan saat Anda menerima kabar buruk namun Anda dalam situasi yang terlalu formal untuk bereaksi dengan jujur. Anda misalnya menerima kabar bahwa proposal Anda ditolak dalam sebuah pertemuan formal dengan orang/lembaga yang menolak. Anda kemudian menyunggingkan senyum tanda menerima derita itu namun tak merasa perlu membikin kesan yang lebih buruk apalagi membuat keributan.

Di antara sekian banyak senyum, ada satu senyuman yang selalu menarik untuk dibedah oleh para psikolog: senyum menggoda (flirtatious smile).

Senyum ini bisa Anda temukan pada sosok Monalisa dalam lukisan terkenal Leonardo da Vinci. Da Vinci, bagi para psikolog, sangat berhasil menangkap senyum jenis ini. Senyum penuh misteri yang kabarnya muncul saat pengasuh Monalisa sedang tersenyum lebar dari kejauhan. Monalisa, yang sedari duduk dingin tanpa ekspresi, mau tak mau tersenyum juga. Meski hanya sebentar lalu menghilang. Beruntungnya Da Vinci sempat mengabadikannya.

Baca juga artikel terkait SENYUMAN atau tulisan menarik lainnya Akhmad Muawal Hasan
(tirto.id - Gaya Hidup)

Reporter: Akhmad Muawal Hasan
Penulis: Akhmad Muawal Hasan
Editor: Zen RS

DarkLight