Hubungan Diplomatik

Mengapa Semakin Banyak Warga Korsel Belajar Bahasa Indonesia?

Presiden Korea Selatan Moon Jae-in dan Presiden Indonesia Joko Widodo menginspeksi penjaga kehormatan saat upacara penyambutan di istana Changdeokgung di Seoul, Korea Selatan, Senin (10/9/2018). ANTARA FOTO/Jeon Heon-kyun/Pool via Reuters
Oleh: Ign. L. Adhi Bhaskara - 15 Januari 2019
Dibaca Normal 3 menit
Hubungan bilateral Indonesia dan Korea Selatam semakin meningkat sejak 1980-an.
tirto.id - Bagi Indonesia, Korea Selatan sesungguhnya tidak melulu tentang K-Pop dan Samsung. Masyarakat Negeri Ginseng itu memiliki kedekatan khusus dengan Indonesia, ditunjang oleh sejarah panjang Korsel sebagai salah satu partner dagang utama, investasi dan kerjasama keamanan.

Tidak banyak memang berita mengenai ekspatriat asal Korea Selatan di Indonesia. Hingga kini, wajah pekerja tamu di Indonesia lebih banyak didominasi oleh orang kulit putih. Kabar seputar pekerja tamu pun belakangan lebih sering menyoroti tenaga kerja asal Cina yang dituding masuk Indonesia secara ilegal.

Padahal, seperti dilaporkan oleh South Cina Morning Post (SCMP), para pekerja asal Korsel merupakan salah satu komunitas pekerja asing terbesar di bumi Nusantara. Berdasarkan data dari Kementerian Luar Negeri, jumlah orang Korea Selatan yang tinggal di Indonesia terus meningkat antara tahun 2013 dan 2016, dari 40.000 orang menjadi 46.000 orang.

Yang menarik, banyak dari mereka ternyata memiliki minat yang tinggi untuk mempelajari bahasa Indonesia. Salah satunya ditunjukkan dengan tingginya tingkat okupansi mereka yang mencapai 60 hingga 70 persen dalam setiap tingkatan kelas pada sekolah bahasa Indonesia di Universitas Indonesia. Mereka juga sangat aktif di badan eksekutif mahasiswa sekolah tersebut.

“Jika saya berada di Korea, saya hanya akan belajar dari buku, tetapi di sini saya dapat belajar lebih banyak dari orang-orang, budaya dan masyarakat (Indonesia),” kata Chu Seol-gi kepada SCMP. Pemudi Korsel berusia 25 tahun itu tengah belajar bahasa Indonesia sebelum menyelesaikan gelar masternya di Universitas Indonesia.

Masih dari SCMP, Direktur Australia Indonesia Business Council Kathleen Turner memperkirakan tingginya minat orang Korsel untuk belajar bahasa Indonesia salah satunya dipicu oleh ekspansi bisnis perusahaan-perusahaan Korea di Indonesia.

Menurut Kathleen, banyak dari perusahaan-perusahaan tersebut menganggap literasi bahasa sebagai faktor penting untuk kesuksesan bisnis dan menjalin hubungan kerja yang profesional.


Pernyataan Kathleen tidak keliru. Sejak dibangunnya hubungan diplomatik antara Indonesia dengan Korsel pada 1973, Korsel memang telah menjadi salah satu negara yang memiliki jumlah investasi terbesar dan tersebar luas di berbagai macam proyek di Indonesia.

Menurut data teranyar Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), nilai investasi Korsel pada semester I/2017 yang telah terealisasi mencapai 901,3 juta dolar Amerika Serikat. Investasi tersebut tersebar di 1.984 proyek di seluruh Indonesia.

Angka tersebut menempatkan Korsel di belakang Singapura, Jepang, Cina, Hongkong, dan AS. Untuk perkara sebaran investasi, Korsel menduduki peringkat ketiga, hanya kalah dengan Singapura dan Jepang.

Di bidang infrastruktur, Korsel memproduksi sejumlah kereta untuk proyek Light Rail Transit (LRT) di DKI Jakarta dan bekerja sama dengan pemerintah Indonesia dalam pembangunan Bendungan Karian di Banten.

Pada 2018, lebih dari 2.000 perusahaan Korsel diperkirakan akan beroperpasi di Indonesia, mulai dari perusahaan tekstil hingga elektronik. Masih dari SCMP, perusahaan ban Hankook, misalnya, memiliki pabrik di Bekasi senilai 354 juta dolar AS. Sementara pemain lama seperti Samsung, LG serta perusahaan otomotif Hyundai masih tetap eksis hingga saat ini.

Lebih lanjut, pada Januari 2018, jenama kosmetik Nature Republic membuka toko pertamanya di Indonesia dan berencana menjadikan Indonesia salah satu basis distribusi utamanya untuk penjualan internasional.

Berapa orang Korsel kemudian membuka bisnis di Indonesia. Steven Kim adalah salah satunya. Ia mendirikan aplikasi kuliner bernama Qraved pada 2013, Melalui aplikasi tersebut, orang dapat mencari dan memesan tempat di restoran-restoran elite di Jakarta dan Bali.

Sebagaimana dicatat Kang Dae-Chang dari Korea Economic Institute dalam laporan berjudul “The 40th Anniversary of Economic Relations Between Korea and Indonesia” (2014), banyak perusahaan Korsel sejak tahun 1980-an memindahkan pabrik ke Indonesia untuk mempertahankan daya saing di tingkat internasional. Tren ini, lanjut Dae-Chang, berlanjut hingga tahun 1990-an.


Indonesia dan Korea Selatan sepakat untuk meningkatkan perdagangan bilateral mereka menjadi 30 miliar dolar AS pada 2022. Masih dari SCMP, perdagangan kedua negara di tahun 2017 naik 20 persen sejak 2016.

Dae-Chang memperkirakan hubungan kedua negara akan semakin erat. Indonesia memiliki kekurangan di bidang teknologi dan modal, sementara Korsel kekurangan sumber daya alam. Ia menilai keduanya memiliki keunggulan yang dapat saling mengisi kekurangan masing-masing.

Prediksi Dae-Chang memang terbukti. Pada Januari 2018, dalam kunjungannya ke Indonesia Menteri Pertahanan Nasional Korea Selatan Song Young-moo menegaskan komitmen untuk semakin mempererat hubungan kedua negara, tidak hanya dalam lingkup ekonomi saja namun juga pertahanan.

“Kami akan memperkuat kemitraan kami di berbagai sektor, termasuk industri diplomasi dan pertahanan,” kata Menteri Pertahanan Nasional Korea Selatan, Song Young-moo, pada Januari tahun lalu, dalam kunjungannya ke Indonesia. “Kami akan berjalan bersama Indonesia.”

Proyek Keamanan

Pernyataan Young-moo tersebut memang kemudian menjadi kenyataan. Pada 2018 lalu, kedua negara memang telah sepakat untuk saling mempererat kerjasama keamanan.

Dalam “Indonesia-South Korea Security Ties in Focus With Defense Pact” (2018), editor senior The Diplomat Prashanth Parameswaran menyatakan Indonesia sebagai salah satu negara pengimpor terbesar peralatan keamanan buatan Korsel.

Kerjasama pada sejumlah proyek juga terus bergulir. Misalnya pembuatan kapal selam dan jet tempur KF-X/IF-X, meskipun proyek yang terakhir masih mengalami berbagai macam kendala terkait biaya dan pendanaan.



Indonesia memesan dua unit kapal selam dari Korsel. Tak hanya itu, PT Pal Indonesia bekerja sama dengan Korsel untuk transfer teknologi yang ditargetkan untuk rampung pada tahun ini.

“Kapal selam yang dibuat atas kerja sama dengan Korsel juga dilengkapi persenjataan yang lengkap," kata Kepala Pusat Komunikasi Publik Kementerian Pertahanan Brigjen TNI Totok Sugiharto, seperti dilansir kantor berita Antara.


Dengan semakin eratnya hubungan kedua negara di berbagai tingkatan, maka besar kemungkinan jumlah pekerja tamu asal Korsel akan semakin meningkat. Keberadaan orang-orang Korsel pun akan semakin terasa di Indonesia.

Namun, melihat banyaknya orang Korsel yang mudah beradaptasi dengan Indonesia, boleh jadi kelak akan banyak warga Korsel yang menganggap Indonesia sebagai rumah kedua. Victoria Lee salah satunya.

"(Indonesia) adalah rumah kami," ujar Lee yang mengatakan akan membesarkan anaknya di Indonesia kepada SCMP. "Kami di sini untuk memberikan kontribusi bagi Indonesia."

Baca juga artikel terkait KERJASAMA BILATERAL atau tulisan menarik lainnya Ign. L. Adhi Bhaskara
(tirto.id - Politik)

Penulis: Ign. L. Adhi Bhaskara
Editor: Windu Jusuf
DarkLight