Mencegah Anak-Anak Melakukan Bullying Berbasis SARA

Ilustrasi anak-anak dari latar belakang berbeda duduk bersama. Getty Images/iStockphoto
Oleh: Patresia Kirnandita - 16 Mei 2017
Dibaca Normal 3 menit
Isu SARA bisa muncul di sekolah. Jangan biarkan anak Anda melakukan bullying atau perundungan SARA di sekolah.
Dampak buruk perbincangan atau perdebatan orang dewasa tentang SARA kepada anak-anak sering diabaikan. Padahal, kemampuan anak-anak dalam meniru apa pun yang dilihat dan didengar sangat rentan menyebabkan anak-anak dengan mudah mempraktikkan ucapan berbau SARA yang didengar atau dilihatnya.

Dilansir CNN Indonesia, Komisi Perlindungan Anak Indonesia memperoleh laporan bahwa di beberapa daerah, anak-anak memperolok temannya yang berbeda agama dengan sebutan "kafir". Di Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat malah ada siswa Sekolah Dasar yang berani mengancam teman sekelasnya lantaran berbeda pandangan agama.

Tidak hanya anak-anak yang memeluk keyakinan yang telah diakui negara saja yang menjadi korban bullying atau perundungan berbasis agama di sekolah. Anak-anak penghayat kepercayaan pun mengalaminya.

Dewi Kanti, penghayat Sunda Wiwitan, menyatakan kepada BBC bahwa remaja penghayat kepercayaan yang telah memegang KTP sering kali mengalami perundungan karena kolom agama di kartu identitas dikosongkan. Jauh sebelum memegang KTP, menurut Dewi, para remaja ini pun sudah dirundung orang-orang di sekitarnya karena pemahaman bahwa di negara ini cuma ada enam agama.

Pengalaman diskriminasi berdasarkan SARA lainnya juga dirasakan beberapa kerabat saya. Satu di antaranya dijauhi teman dekatnya yang kemudian tergabung dalam organisasi agama garis keras hanya karena ia keturunan Tionghoa. Sementara Wira yang beragama Sikh juga sempat dikatai teman-teman sekolahnya "sick", plesetan dari nama kepercayaan yang dianutnya.

Cerita-cerita serupa terjadi di berbagai tempat di Indonesia. Perlakuan diskriminatifnya pun bisa berlangsung dalam berbagai tingkatan. Namun, satu yang pasti, kisah-kisah perundungan berbasis SARA ini mesti diputus, dimulai dengan memperkenalkan literasi agama dan keberagaman sejak dini.

Mengapa Anak-Anak Mengalami Perundungan Berbasis Agama?

Intoleransi berakar dari kurangnya pemahaman terhadap agama dan keyakinan orang lain. Di sekolah, anak-anak memang diajarkan bahwa para penganut keenam agama memiliki ritual-ritual kepercayaan dan cara memahami Tuhan yang bervariasi. Meski demikian, tidak banyak yang memperoleh pengetahuan lebih lanjut tentang penganut keyakinan yang berbeda lantaran minimnya akses atau upaya pengotak-kotakkan yang bisa dilakukan keluarga, lingkungan sekolah, atau kelompok pergaulannya. Ditambah masifnya propaganda yang dapat dikonsumsi di jalan-jalan atau lingkungan tempat tinggal serta di media sosial yang lumrah digunakan anak-anak sejak dini.

Kombinasi seluruh hal itu yang membuat perundungan berbasis agama yang terjadi di sekolah makin potensial terjadi.

Situs Stop Bullying menyebutkan keterbatasan informasi dan kurangnya inisiatif mengenal keyakinan lain dan menerima keberagaman membuat sebagian anak melakukan perundungan terhadap temannya. Tidak jarang, hanya karena keturunan Tionghoa atau beragama Nasrani, dengan mudah seorang anak melabeli haram atau kafir lantaran tidak menjalankan ajaran agama mayoritas di Indonesia.

Hal yang sama terjadi di negara-negara Barat sana. Anak-anak Muslim jamak menerima stereotip teroris dari teman-teman sekolah hingga membuat mereka depresi dan tumbuh dengan kepercayaan diri yang minim. Peristiwa-peristiwa dunia yang mereka konsumsi dari media massa dan/atau omongan-omongan yang merekda dengar dari orang-orang dewasa membenamkan anak-anak ke dalam keyakinan bahwa suatu kelompok agama atau ras tertentu lebih hina dibanding dirinya sendiri.


Menanamkan Literasi Keberagaman Dimulai dari Sekolah

Dalam pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan di sekolah-sekolah Indonesia, wacana toleransi dan kesadaran bahwa negara ini terdiri dari masyarakat yang beraneka ragam suku, agama, ras, dan golongan terus menerus didiktekan oleh guru kepada para murid. Namun, sering kali hal ini hanya berhenti di kelas. Salah satu faktornya bisa jadi kurangnya latihan menerapkan pelajaran tentang toleransi tersebut dalam praktik.

Perlu disadari bahwa menanamkan kesadaran untuk menerima keberagaman di level pendidikan awal dengan strategi pengajaran lisan yang cenderung teoritik tidak cukup efektif. Anak-anak tentu belum cukup memahami pengajaran lisan yang semata-mata berisih nasehat, petuah atau bahkan larangan. Model-model pendidikan lain perlu dipelajari sebagai salah satu cara mengatasi problem ini.

Barbara Thompson (1989)—yang mengampu anak prasekolah usia 4-5 tahun di St. Louis, Missouri—membuat studi ilmiah dan berinisiatif menggunakan strategi pengalaman terlibat dalam mengajarkan literasi keberagaman. Dilansir situs edukasi Ericdigest, anak-anak disuguhkan dua boks yang berbeda, yang satu lebih besar dan dibungkus cantik, sementara lainnya kecil dan kotor. Semua anak lebih ingin membuka boks yang besar dan cantik dan percaya bahwa di dalam boks kecil dan kotor terdapat sesuatu yang menjijikkan. Saat dibuka, hal yang diyakini anak-anak justru tidak terjadi. Boks besar dan cantik berisi sampah dan boks kecil nan kotor tersebut malah berisi berbagai camilan.

Ide yang ingin disampaikan Thompson melalui pengalaman terlibat anak-anak prasekolah ini adalah banyak hal di dunia ini yang tampak cantik dan indah namun sebenarnya tidak . Thompson secara implisit mengajarkan kepada anak-anak tersebut untuk tidak lekas percaya kepada apa yang tampak di luar tanpa lebih mencari tahu kebenaran di dalamnya.

Langkah-langkah lain pun dapat ditempuh untuk menanamkan literasi keberagaman kepada anak-anak. Dr. Warren J. Blumenfeld, pendidik dan penulis Warren’s Words: Smart Commentary on Social Justice (2012), memaparkan di Huffingtonpost strategi-strategi yang dapat dilakukan pengampu untuk menghindari perundungan berbasis agama di sekolah.

Pertama, sekolah dapat melakukan penilaian terukur terkait pandangan inter-religi dengan melakukan survei di lingkungan sekolah dan menggelar diskusi. Kedua, kebijakan untuk melindungi siswa-siswa dari pelecehan, kekerasan, serta diskriminasi perlu dengan tegas diterakan pihak sekolah. Guru-guru pun perlu mendapat pelatihan dan peningkatan pengetahuan tentang kesadaran keberagaman yang memadai agar anak-anak yang diajarnya tidak salah kaprah memperlakukan terhadap temannya yang berkeyakinan lain.

Untuk memperbesar potensi toleransi antarumat beragama di lingkungan sekolah, koleksi buku di perpustakaan yang mengandung pesan penerimaan keberagaman atau informasi macam-macam seluk-beluk keyakinan dan tradisinya di seluruh dunia pun perlu ditambah. Tentu saja bukan sebatas buku teks pelajaran, tetapi juga karya-karya mutakhir yang memancing ketertarikan membaca para siswa.

Strategi menarik lainnya yang diungkapkan Blumenfeld adalah menggunakan orang-orang dewasa sebagai panutan, seperti staf sekolah dengan beragam latar belakang agama. Dengan melihat bagaimana staf sekolah berinteraksi dan menjalin toleransi, diharapkan para siswa dapat mencontohnya dalam pergaulan sehari-hari.

Lebih lanjut ia menyarankan, anak-anak dapat diajak menyaksikan ritual agama lain agar dapat melihat sendiri dan tidak hanya bersandar pada omongan atau ujaran-ujaran orang dewasa. Pihak sekolah juga dapat menuntun anak-anak untuk membicarakan dan mendiskusikan secara terbuka ujaran-ujaran kebencian yang banyak muncul di media massa atau lingkungan tempat tinggal mereka. Dengan cara itulah anak-anak dikondisikan untuk tidak menelan mentah-mentah apa pun yang ia lihat dan dengar. Anak-anak diajak untuk lebih kritis menyikapi hal-hal tersebut.

Baca juga artikel terkait PLURALISME atau tulisan menarik lainnya Patresia Kirnandita
(tirto.id - Pendidikan)

Reporter: Patresia Kirnandita
Penulis: Patresia Kirnandita
Editor: Patresia Kirnandita
DarkLight