Mencari Udara Bersih di Jakarta Kala Libur Panjang

Oleh: Tony Firman - 19 Desember 2018
Dibaca Normal 3 menit
Dalam seminggu terakhir, kualitas udara di Jakarta cenderung baik.
tirto.id - Sebagaimana diketahui, kualitas udara punya tolok ukur bernama AQI (Air Quality Index). Semakin rendah angka atau rerata AQI, semakin baik pula kualitas udara. AQI juga punya fokus pada efek kesehatan yang dapat mempengaruhi masyarakat setempat. Angka-angka dalam AQI kemudian diklasifikasikan menjadi enam tingkat polusi yang berdampak pada risiko kesehatan. Standar ini ditetapkan oleh Badan Perlindungan Lingkungan Amerika Serikat (EPA) dan menjadi rujukan internasional.

AQI dengan angka 0 sampai 50 masuk dalam kategori aman. Polutan yang terkandung di udara sangat sedikit dan tidak mengganggu kesehatan manusia. Lalu ada kategori bagus atau sedang dengan angka 51 sampai 100, yang udaranya bersih tapi masih bisa sedikit mempengaruhi orang-orang sensitif.

Sedangkan rentang AQI 101 sampai 150 masuk kategori tidak sehat bagi kelompok yang sensitif. Lalu di rentang 151 sampai 200 adalah kategori tidak sehat. Kategori kelima, dengan angka 201 sampai 300, masuk dalam kategori polusi tinggi dan sangat tidak sehat serta bisa menyebabkan masalah kesehatan serius. Terakhir, angka 301 sampai 500 masuk dalam kategori sangat berbahaya, kritis, dan menyebabkan masalah pernapasan akut.


Di Jakarta, ada beberapa alat pemantau kualitas udara yang tersebar di sejumlah titik. Selain milik Pemprov, ada pula alat pemantau kualitas udara milik Kedubes Amerika Serikat di Jakarta Pusat dan Jakarta Selatan yang dapat diakses di situs AirNow.

Greenpeace juga menempatkan alat pemantau kualitas udara di tiga titik: Rawamangun, Pejaten Barat, dan Mangga Dua Selatan. Datanya bisa diakses di situs AirVisual.

Di Jakarta pada 17 Desember 2018, langit cerah dan kualitas udara tampak baik. Di Jakata Pusat, rerata AQI ada di angka 70, sedangkan di Jakarta Selatan rerata 69. Di Rawamangun, Jakarta Timur, rerata AQI 71. Itu sama dengan rerata Di Mangga Dua Selatan. Di Pejaten Barat, Jakarta Selatan, menunjukkan angka rerata 30, menjadikannya AQI terendah se DKI Jakarta. Bahkan sejak 12 Desember, rerata AQI di Pejaten Barat selalu dalam kondisi amat bersih.

Ini sedikit memberikan angin segar, sebab kualitas udara di DKI Jakarta memang punya rekam jejak buruk. Pada Agustus 2018 jelang Asian Games misalnya, sejumlah aktivis Greenpeace memasang spanduk peringatan bahwa kualitas udara Jakarta buruk. Juru Kampanye Greenpeace menyebut, kualitas udara yang buruk dapat membahayakan kesehatan warga dan meningkatkan risiko kematian dini. Belum lagi risiko infeksi saluran pernapasan akut hingga kanker paru-paru jika terpapar PM 2,5 --partikel tak kasat mata berukuran 2,5 mikrometer--dalam jangka panjang.



Pada Maret sampai April 2017, Greenpeace mencatat kualitas udara di Jabodetabek melebihi ambang batas standar. Polutan udara bersumber dari pembakaran sampah, bahan bakar fosil di kendaraan, atau pabrik dan pembangkit listrik yang memakai energi kotor batu bara. Bahkan kadar polutan PM 2,5 yang tinggi dapat memasuki sistem pernapasan manusia kendati sudah tertutup masker sekalipun.

Udara Bersih di Liburan Panjang?

Memasuki hari libur Natal dan tahun baru, kondisi jalanan Jakarta diperkirakan lebih sepi dari hari biasa. Lantas, apakah kualitas udara akan lebih baik? Ternyata tidak selalu.

Membandingkan hari raya Idul Fitri, Natal, dan Tahun Baru pada 2016, 2017, 2018, kita bisa melihat dari arsip AQI dari alat pemantau milik Kedubes Amerika Serikat. Pada malam Idul Fitri 2018, AQI malah menunjukkan angka tinggi dan masuk di kategori tidak sehat. Di beberapa jam tertentu, masuk dalam kategori baik, dan membaik tepat di Idul Fitri.

Berbeda dengan Idul Fitri 2018, malam Idul Fitri 24 Juni 2017 kualitas udara ada di kategori sedang. Saat lebaran tiba, kondisi udara Jakarta malah memburuk jadi masuk di kategori tidak sehat bagi kelompok sensitif. Namun keesokan harinya, dari tanggal 26 sampai 27 Juni, kondisi berubah drastis di kategori aman.

Salah seorang warga bahkan sempat memotret momen perbedaan udara Jakarta menjelang dan sesudah lebaran dari balik balkon apartemennya. Tampak jelas bahwa pada 26 sampai 27 Juni langit Jakarta cerah bersih dengan pandangan luas dibanding tanggal 24 dan 25 Juni yang masih tampak keruh berkabut dan jarak pandang terbatas.

Sedangkan pada Natal 25 Desember 2017, kondisi udara Jakarta dalam kategori aman. Bahkan sejak tanggal 23 Desember kualitasnya berada di kategori sedang atau aman. Kondisi yang sama juga terjadi di tanggal 26 sampai 28 Desember.


Infografik Vakansi Sesak Napas di Jakarta
Infografik Vakansi Sesak Napas di Jakarta


Ketika masuk 1 Januari 2018, kualitas udara sempat buruk di kategori tidak sehat pada dini hari. Namun sejak pukul 6 sampai 11 pagi, kualitas udara membaik di kategori sedang. Pukul 12 sampai tengah malam, kualitas udara makin bagus di kondisi aman. Kondisi kualitas udara Jakarta yang relatif baik di kategori aman ini bertahan sampai keesokan harinya.

Kesimpulannya, hari libur keagamaan dan tahun baru tidak selalu berbanding lurus dengan menurunnya kadar polutan PM 2.5 di udara. Ada faktor-faktor lain selain polusi dari gas buang kendaraan bermotor yang menjejali jalanan Jakarta, seperti polusi pembakaran kayu, minyak, batu bara, kebakaran hutan, cerobong asap pabrik, asap rokok, asap saat memasak, dan pembakaran lainnya.


Yang perlu diperhatikan lagi, Jakarta adalah ibukota negara yang paling banyak dikelilingi Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) dalam radius 100 kilometer. Laporan Greenpeace berjudul "Pembunuh dalam Senyap" (PDF, 2017) menyebut, ada sembilan PLTU berbahan bakar batu bara yang mengepung Jakarta, tujuh di Banten, dan masing-masing satu di Cikarang dan Jawa Barat. Belum lagi, pemerintah merencanakan penambahan lima PLTU yang semuanya akan dibangun di Banten.

Menurut laporan tersebut, delapan PLTU telah menyumbang polutan beracun ke udara berupa nitrogen dioksida, sulfur dioksida, merkuri, timbal, arsenik, kadmium dan PM 2.5. Seluruh polutan ini memicu peningkatan prevalensi penyakit jantung, paru-paru, dan masalah pernapasan pada anak-anak dan kelompok sensitif lainnya.

Baca juga artikel terkait POLUSI UDARA atau tulisan menarik lainnya Tony Firman
(tirto.id - Sosial Budaya)


Penulis: Tony Firman
Editor: Nuran Wibisono