Menuju konten utama

Memilih Kapten Timnas U-22 dengan Voting, Untung atau Buntung?

Memilih kapten dengan pemungutan suara seperti pedang bermata dua: dia bisa menguntungkan, tapi mungkin juga jadi blunder.

Memilih Kapten Timnas U-22 dengan Voting, Untung atau Buntung?
Pelatih Timnas Indonesia U-22 Indra Sjafri (kedua kanan) memberikan intruksi kepada pemain saat sesi latihan di Lapangan Madya, Komplek SUGBK, Senayan, Jakarta, Selasa (8/1/2019). ANTARA FOTO/Putra Haryo Kurniawan/nz.

tirto.id - Belum jelas siapa yang akan jadi kapten Timnas Indonesia pada Piala AFF U-22 yang akan diselenggarakan mulai 17 Februari nanti. Cuma satu hal yang sudah pasti: pelatih Indra Sjafri akan sangat mempertimbangkan aspirasi seluruh pemain.

"Pemain yang menentukan kandidat [kapten]. Nanti saya yang menentukan siapa yang paling pas," kata Indra, seperti dikutip dari Goal. "Aspirasi dari para pemain itu penting, karena mereka yang merasakan siapa yang nyaman ketika memimpin," tambah Indra, menjelaskan kenapa suara pemain dibutuhkan.

Pemain asal Barito Putera, Dandi Maulana Abdulhak, membocorkan bagaimana persisnya pelatih menjaring aspirasi itu: mereka semua diminta melakukan voting.

"Jadi setiap orang tulis tiga pemain [kandidat kapten]. Jadi tergantung sih [yang akan jadi kapten]," kata Dandi.

Eksperimen memilih kapten dengan cara voting sebenarnya bukan hal baru. Liverpool malah lebih ekstrem. Sebelum musim ini berjalan, pelatih Jürgen Klopp benar-benar memilih mereka yang dapat suara terbanyak sebagai pemimpin pemain di lapangan.

Virgil Van Dijk memenangkan voting itu dan ditetapkan sebagai kapten. Jumlah suaranya unggul tipis atas Georginio Wijnaldum.

Rahasia ini terbongkar dalam wawancara Klopp dengan The Guardian, akhir Oktober 2018 lalu.

"Tentu adalah hal yang bagus melihat dia [Van Dijk] memegang tanggung jawab. Dia akan sangat bangga dengan itu, tentunya. Dua pemain ini juga punya peran tak beda jauh di Timnas Belanda," kata Klopp dengan bangga usai membeberkan pemilihan tersebut.

Di Indonesia pun ada contoh serupa. PSM Makassar, misalnya. Klub berjuluk Juku Eja itu sempat memilih kapten berdasarkan voting pada awal musim 2017. Saat itu Hamka Hamzah memenangkan pemungutan suara dan jadi kapten selama semusim penuh, sebelum kemudian pindah ke Sriwijaya FC.

Untung Rugi Voting Kapten

Dalam sebuah artikel di Champions Coaching Network, ahli kepelatihan olahraga Jeff Janssen menyebut bahwa keuntungan terbesar yang bisa didapat dari voting adalah pemain merasa lebih dihormati. Dengan memberikan mereka hak untuk memilih siapa yang jadi pemimpin, seluruh pemain akan merasa dirinya merupakan 'bagian' dari langkah besar tim.

"Dibanding menunjuk secara vertikal (dari atas ke bawah), Anda bisa menunjukkan kepada para atlet bahwa Anda [sebagai pelatih] menghormati mereka untuk memilih seorang pemimpin," tulis Janssen.

Keuntungan lain adalah suasana yang lebih kondusif. Dengan memilih kapten lewat voting, sosok yang terpilih merupakan orang yang memang diinginkan, setidaknya oleh mayoritas. Efeknya, si kapten secara alamiah akan lebih dihormati.

Keuntungan ini bisa dibuktikan dengan apa yang terjadi pada Liverpool musim ini. Mereka jadi salah satu klub paling konsisten dan berada di puncak klasemen sementara Liga Inggris, Menurut Klopp, apa yang mereka raih hingga saat ini tak terlepas dari peran kapten di atas lapangan.

"Virgil masih muda, sekarang dia terlihat dewasa. Tidak ada yang salah dari penunjukannya, dan dia masih akan mengalami peningkatan. Jika Anda melihat dan mendengarkannya, Anda akan berpikir ada perbedaan dia dengan Anda, karena dia sangat impresif," kata Klopp.

Namun bukan berarti memilih kapten lewat voting melulu positif. Masih dalam artikel yang sama, Jeff menyebut bahwa ada dua potensi kerugian memilih kapten dengan cara voting.

Pertama, ada kemungkinan sosok yang terpilih bukan pemain yang punya jiwa kepemimpinan yang baik di atas lapangan. Livepool beruntung karena mereka memilih Van Dijk yang punya kecakapan memotivasi para pemain.

"Orang yang terpilih bisa saja jadi 'biang keladi' ketimbang kapten. Jika sebagai pelatih Anda mengalami hal ini, Anda akan jadi orang yang paling merasa bersalah," tulis Jeff.

Sementara kerugian kedua adalah potensi pemilihan kapten jadi panggung penentuan siapa yang lebih populer. Ini sangat mungkin terjadi dalam tim yang berkomposisi pemain-pemain muda, dimana sebagian dari mereka belum begitu 'matang' secara mental.

"Jika Anda memutuskan memilih kapten lewat voting, sangat penting untuk mempertimbangkan tingkat kedewasaan pemain secara keseluruhan, karena ini akan menentukan apakah mereka benar-benar melihat bahwa tujuan voting adalah untuk mengambil seseorang yang benar-benar bisa memimpin," ucap Jeff.

Ada Sinyal Positif

Sebagai pelatih, Indra Sjafri bukanlah orang yang minim pengetahuan. Efek positif-negatif di atas jelas sudah dipertimbangkan sang pelatih.

Untungnya, apa yang disebut potensi negatif di atas mungkin tak bakal muncul. Soalnya Indra pernah mengatakan kalau dalam skuatnya sekarang banyak orang yang memang sudah punya kapasitas untuk memimpin kawan-kawannya yang lain.

Jadi, alih-alih diterjemahkan sebagai langkah gegabah, sikap Indra bisa jadi sebuah sinyal positif: bahwa ia yakin para pemainnya sudah lebih dewasa. Dan kematangan diri akan sangat berpengaruh di lapangan.

Skuat Indra Sjafri bakal berhadapan dengan tiga lawan di Grup B: Malaysia, Myanmar, serta Kamboja.

Baca juga artikel terkait PIALA AFF U-22 2019 atau tulisan lainnya dari Herdanang Ahmad Fauzan

tirto.id - Olahraga
Penulis: Herdanang Ahmad Fauzan
Editor: Rio Apinino