Menuju konten utama

Mayoritas Minyak Olahan Kilang Bontang Dipasok Perusahaan Oman

Pertamina akan memasok 20 persen dari seluruh minyak mentah yang diolah menjadi BBM di Kilang Bontang. Sementara sisanya akan dipasok oleh perusahaan minyak asal Oman.

Mayoritas Minyak Olahan Kilang Bontang Dipasok Perusahaan Oman
Direktur Megaproyek Pengolahan dan Petrokimia PT Pertamina (Persero) Ardhy N. Mokobombang memberikan keterangan pers di Jakarta, Selasa (30/1/2018). ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A.

tirto.id - Mayoritas pasokan minyak mentah yang akan diproduksi di kilang (Grass Root Refinery/GRR) baru di Bontang, Kalimantan Timur, akan disuplai perusahaan asal Oman, Overseas Oil and Gas LLC (OOG).

Mitra bisnis Pertamina itu akan memasok 80 persen minyak mentah olahan kilang yang ditargetkan beroperasi pada 2025 itu. Sementara Pertamina menerima jatah memasok 20 persen atau sisanya.

Direktur Megaproyek Pengolahan dan Petrokimia PT Pertamina Ardhy N. Mokobombang mengatakan mayoritas minyak mentah dipasok oleh OOG, dengan pertimbangan bahwa Oman memiliki produksi minyak sekitar 1-1,2 juta barel per hari.

"Jadi mereka juga produksi, mereka juga memiliki beberapa entitlement (hak) dari beberapa negara middle east (Timur Tengah) yang mungkin nanti akan dipakai sebagai feed di dalam ini (Kilang Bontang)," ujar Ardhy di kantor Pertamina, Jakarta pada Selasa (30/1/2018).

Pertamina mengumumkan telah memilih mitra bisnis untuk pengerjaan proyek kilang Bontang. Setelah melalui proses seleksi, yang diikuti 100 perusahaan, Pertamina memilih konsorsium yang dipimpin perusahaan minyak asal Oman, Overseas Oil and Gas LLC (OOG).

OOG akan menggarap proyek itu bersama dengan satu anggota konsorsium lainnya, yakni Cosmo Oil International Pte Ltd (COI), yang merupakan trading arm Cosmo Energy Group, salah satu perusahaan pengolahan minyak Jepang.

Di proyek ini, Pertamina tidak akan mengeluarkan biaya. Pertamina meminta jatah saham sekitar 10 persen di proyek senilai 10 miliar dolar atau sekitar Rp130 triliun tersebut.

Pertamina menargetkan Kilang Bontang memiliki kapasitas pengolahan minyak 300 ribu barel per hari. Produksi utama kilang rencananya adalah gasoline atau bensin selain jenis BBM lain seperti avtur.

Ardhy N. Mokobombang menjelaskan sebagian pasokan minyak mentah dari Pertamina untuk Kilang Bontang kemungkinan akan didatangkan dari sejumlah lokasi produksi di Kalimantan Timur.

"Kami ingin mendapatkan slot untuk diolah di kilang itu, meskipun kami harus bawa lagi crude (minyak mentah) itu ke Cilacap atau tempat lain. Tapi ini masih berupa right (hak)," kata Ardhy.

Ia melanjutkan komposisi distribusi hasil produksi kilang ini, seperti bensin dan avtur, ke pasar domestik dan ekspor belum ditetapkan.

"Nanti kami akan melihat kondisi saat kilang beroperasi. Masih terbuka ruang untuk domestik, karena mungkin domestic demand (permintaan dalam negeri) tumbuh dan masih membutuhkan sumber dari produk itu sendiri," ujar Ardhy.

Dia menambahkan Pertamina bersama konsorsium OOG-COI juga akan bekerja sama untuk pemasaran produk Kilang Bontang. Ardhy mengatakan distribusi produk kilang itu di Indonesia memanfaatkan rantai pemasaran Pertamina.

"Sehingga nanti untuk domestic market (pasar dalam negeri) akan ada namanya SPA (Sales and purchase agreement) dengan Pertamina," ujarnya.

Menurut Ardhy, Pertamina tidak memiliki kewajiban untuk menjual seluruh produk Kilang Bontang karena penjualan di Indonesia akan bergantung pada kebutuhan dalam negeri. Sebab, konsorsium OOG-COI akan mengelola kegiatan pemasaran produk Kilang Bontang ke pasar ekspor.

Baca juga artikel terkait PERTAMINA atau tulisan lainnya dari Shintaloka Pradita Sicca

tirto.id - Ekonomi
Reporter: Shintaloka Pradita Sicca
Penulis: Shintaloka Pradita Sicca
Editor: Addi M Idhom